Tampilkan postingan dengan label Ilmu Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Film. Tampilkan semua postingan

Menulis Sinopsis Naskah Film yang Menarik

Berikut teknik menulis Sinopsis Naskah Film yang Menarik oleh Baskoro Adi dan Perdana Kartawiyudha

Menulis Sinopsis Naskah Film yang Menarik


Sinopsis adalah sebuah ringkasan sebuah cerita, yang menjelaskan poin-poin utama dalam cerita. Sinopsis dipergunakan untuk dua hal:

1. Sinopsis sebagai proses development
Sinopsis ini harus menjelaskan cerita secara utuh, dari awal hingga akhir. Dengan adanya keutuhan cerita ini, seluruh pihak yang terlibat dalam film dapat mengerti jalan cerita secara utuh, sehingga dapat memberikan masukan dalam proses development.
2. Sinopsis sebagai alat menjual film
Sinopsis ini dapat menggunakan cliffhanger di akhir, misalkan: “apakah karakter utama dapat mencapai tujuannya?” Tujuan dari synopsis ini adalah membuat calon penonton menjadi tertarik untuk menonton film yang kita buat.
Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengembangkan sinopsis:
1)  Selalu awali paragraf pertama dari synopsis Anda dengan: nama tokoh (who), pekerjaan atau tugas (what), dimana ia tinggal (where), waktu (when), dan apa yang ia perjuangankan (why).
a. Selalu gunakan all-caps untuk kemunculan tokoh pertama kali. Sesudahnya, dapat menggunakan ejaan nama sebagaimana biasa.
b. Karakter yang harus masuk dalam sinopsis adalah: protagonis, antagonis, dan love interest.

Tokoh lain yang tidak berperan dalam plot, bisa dikesampingkan.
2)  Tuliskan babak 1, dalam kurang dari 2 paragraf. Dalam 2 paragraf ini sudah harus merangkum seluruh karakter dan konflik yang terjadi.

3)  Tuliskan babak 2, dalam kurang dari 4 paragraf. Dalam 4 paragraf ini, menjelaskan usaha protagonis dalam mencapai tujuannya, outcome dari usaha pertamanya, hingga konflik terbesar yang membawa cerita menuju klimaks.

4)  Tuliskan babak 3, dalam kurang dari 2 paragraf. Dalam 2 paragraf terakhir ini, sudah merangkum hasil dari klimaks cerita, dan menggambarkan keadaan sesudah karakter utama melakukan usahanya.

Yang harus dihindari dalam menulis sinopsis:
1) Menuliskan terlalu banyak tokoh atau kejadian;
2) Menuliskan terlalu banyak twist dalam cerita
3) Terlalu banyak detail dalam synopsis. Ingat, synopsis yang baik adalah synopsis yang singkat namun mengena. Karena pembaca synopsis, misalkan produser, atau sutradara, ingin mengetahui isi ceritanya dari awal hingga akhir secara cepat. Mereka tidak punya cukup banyak waktu membaca sinopsis yang terlalu bertele-tele.
4) Menuliskan editorial yang tidak perlu. Seperti: “FLASHBACK TO...”

Tips 1: MORE WHITE SPACE, PLEASE!
Agar pembaca lebih nyaman membaca sinopsis, treatment ataupun skenario, batasi tiap paragraf tidak lebih dari 5 baris.

Antar paragraf pisahkan dengan 1 spasi.Hal ini mengurangi efek kelelahan mata dalam membaca tulisan kita.Mungkin tidak ada bedanya ketika hanya 1-2 halaman. Ketika lebih dari itu, akan terasa perbedaannya.

Tips 2: MENULIS SINOPSIS SECARA DRAMATIK
Ketika pembaca membaca synopsis Anda, buatlah mereka bisa dengan cepat merasakan genre dari cerita Anda.Kalau Anda membuat sinopsis komedi, usahakan pembaca bisa tertawa ketika membaca sinopsis tersebut.Demikian juga ketika genrenya horor, komedi, atau yang lainnya. Buatlah pembaca tidak hanya tahu ceritanya apa, tetapi juga bisa merasakan seperti apa emosi dalam cerita tersebut hanya dengan membaca sinopsisnya.

Anda bisa mengambil contoh cara penulisan novel ataupun cerpen untuk keperluan penulisan sinopsis ini. Tidak masalah kalau harus di titik tertentu harus mendetilkan pada adegan tertentu atau dialog tertentu untuk mengangkat mood pembaca pada saat membacanya, asalkan jangan kemudian terlena jadi berpanjang-panjang di keseluruhan bagian karena itu sudah masuk ke wilayah treatment ataupun skenario.


Sumber: Buku Menulis Cerita Film Pendek: Sebuah Modul Workshop Penulisan Skenario Tingkat Dasar.
Pusat Pengembangan Perfilman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2017. 
Tim Penyusun: Perdana Kartawiyudha (koordinator), Baskoro Adi Wuryanto, Damas Cendekia, Melody Muchransyah, dan Rahabi Mandra.

Baca Lengkap....

Planting of Information dan Pay-Off dalam Film

Planting of Information dan Pay-Off dalam Film

Tulisan ini masih lanjutan dari konsep plot dalam film. Silakan baca di Konsep Plot dalam Film Oleh Perdana Kartawiyudha.

Planting of Information
Berisi karakter, aksi, kostum, properti, musik, atau elemen filmis lainnya yang dimunculkan pada adegan tertentu dalam cerita yang seolah-olah hanya diganakan untuk keperluan adegan tersebut, tapi ternyata juga punya fungsi penting untuk adegan-adegan berikutnya.

Planting of information ini harus ditampilkan dengan cermat agar kehadirannya tidak mengganggu dramatik dan logika pada adegan tersebut. Kalau tujuannya memberikan efek kejutan (surpise) pada akhir cerita, kehadirannya jadi sangat penting untuk membuat penonton tidak merasa dikelabuhi atas surprise tersebut.

Kejutan atau surprise atau adalah titik dimana ketika mereka menyadari apa yang mereka duga atau ekspektasikan ternyata salah. Nah, kalau penonton tidak dipersiapkan untuk menduga atau berekspektasi tertentu meski secara halus, maka kejutannya bisa jadi gagal. Begitu juga ketika informasi yang ditanamkan di awal terlalu jelas arahannya, dan penonton berhasil menduga arah kejutannya, maka pada waktunya, tidak lagi jadi kejutan. Oleh karena itu, kemunculan planting of information ini memang harus hati-hati dan cermat sehingga penonton tidak bisa menebak kejutan seperti apa yang akan muncul.

Dengan adanya planting of information, alih-alih merasa dikelabuhi, penonton akan lebih merasa dirinya tidak cukup cermat membaca dan mengartikan tanda-tanda yang sudah coba ditampilkan di awal cerita.

Pay-Off
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, penonton akan selalu menganggap informasi yang ditampilkan dihadapan mereka sebagai informasi yang penting. Informasi yang sudah ditanam di awal cerita (planting of information), harus dituai dalam perkembangan cerita, yang disebut dengan pay off. Ketika penonton diberikan pay off tanpa adanya planting of information, penonton aan merasa dirinya dikelabuhi oleh pembuat ceritanya.

Sebaliknya, ketika penonton diberikan planting of information tanpa adanya pay off, penonton merasa ceritanya belum tuntas karena ada “teka-teki” yang tak terjelaskan. Ketika film usai, penonton masih akan merasa ada hal yang mengganjal, ada teka-teki yang belum terpecahkan. Kecuali kalau memang ini adalah tujuan dari film tersebut dibuat, hal ini akan sangat mengganggu penonton dalam menikmati film yang ditontonnya.


Sumber: Buku Menulis Cerita Film Pendek: Sebuah Modul Workshop Penulisan Skenario Tingkat Dasar.
Pusat Pengembangan Perfilman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2017. 
Tim Penyusun: Perdana Kartawiyudha (koordinator), Baskoro Adi Wuryanto, Damas Cendekia, Melody Muchransyah, dan Rahabi Mandra.
Baca Lengkap....

Konsep Plot dalam Film Oleh Perdana Kartawiyudha

Konsep Plot dalam Film Oleh Perdana Kartawiyudha

A. Konsep Plot
Plot dalam film fiksi adalah serangkaian peristiwa yang dipilih untuk ditampilkan dan kemudian dirangkai dengan hubungan sebab akibat sehingga membentuk cerita.

Kehidupan manusia memang berjalan secara kronologis tetapi dalam bercerita kita tidak selalu menampilkannyademikian. Contoh yang paling sering adalah hadirnya flashback, yang membuat peristiwa seolah berjalan mundur sesaat untuk kemudian memberikan dorongan untuk perkembangan cerita ke depannya. Atau bisa juga kita tampilkan bagian paling dramatik dalam cerita di awal film, baru kemudian dirunut mengapa karakter bisa sampai ke titik tersebut. Berbagai strategi penyusunan plot bisa dipakai untuk mencapai kesan tertentu bagi penonton.

Di sini dibutuhkan kejelian pencerita dalam memilih dan merangkai perisitwa yang dianggap relevan untuk dimasukkan ke dalam cerita. Karena tidak semua detil perisitwa harus ditampilkan dalam film. Misalnya realitanya orang bangun tidur, lalu mandi, lalu sarapan, lalu masuk ke garasi untuk mengendarai kendaraan menuju tempat aktifitas. Tapi bisa jadi dalam cerita semua peristiwa itu tidak penting ditampilkan satu persatu. Bisa saja kita langsung begitu karakter bangun tidur, melajukan mobil, dan tiba di tempat aktivitas. Peristiwa yang tidak relevan untuk kebutuhan cerita tidak perlu dimasukkan karena hanya akan mengganggu dramatik. Untuk mengukurnya, selalu tanya pada diri sendiri “kalau adegan atau aksi ini saya hilangkan, apa pengaruhnya ke cerita?”. Jika jawabannya tidak ada, berarti adegan atau aksi tersebut memang harus dibuang.

Dalam menyusun rangkaian plot pun kita semestinya menjaga eskalasi dramatik cerita. Kalau kita lihat grafik pada Bab sebelumnya, kita bisa lihat cerita yang baik, semakin jauh cerita berjalan, intensitas dramatiknya makin naik, secara grafik pun makin naik. Artinya problem yang dihadapi karakter kita makin rumit dan kompleks, sehingga membutuhkan usaha lebih dari yang sebelumnya, bahkan yang karakter bisa bayangkan dia punya lakukan. Jika pertama karakter bertemu dengan prajurit, maka berikutnya dia berhadapan dengan jendral, dan akhirnya bertemu dengan raja. Dengan demikian, penonton pun turut bersama dengan karakter secara emosional menghadapi problematika yang semakin sulit, tapi dari sudut pandang penonton, makin seru untuk disaksikan.

B. Chekhov’s Gun Theory
Teori ini muncul dari seorang tokoh drama panggung Anthony Chekhov. Dia menggambarkan suatu adegan dalam suatu pertunjukan panggung di mana karakter mengeluarkan sebuah pistol dan meletakkannya di suatu laci pada awal cerita, kemudian dalam perkembangkan cerita, ketika salah satu karakter dalam kondisi terancam, dia meraih pistol yang ada di laci dan menggunakannya.

Dalam konsep ini, apa yang dipersipkan di awal, harus terjelaskan di akhir cerita. Hal penting yang seolah tiba-tiba muncul di akhir cerita, harus sudah diperkenalkan (meski dengan sangat halus) di awal cerita. Tanpa salah satunya, penonton akan merasa ada yang janggal dan dampaknya penonton merasa ada bagian dari cerita yang belum tuntas. Bayangkan saja jika ada tokoh dalam kasus di atas yang tiba-tiba mengeluarkan pistol dan menyimpannya dalam laci tapi dalam perkembangan cerita tak lagi dibahas tentang pistol tersebut, penonton akan menunggu-nunggu apa fungsi adegan pistol di awal.

Sudah menjadi sifat dasar penonton untuk menganggap informasi apapun yang ditampilkan kepada meraka sebagai hal yang penting. Jika ada hal yang seolah penting tapi kemudian tidak dibahas tuntas dalam film, penonton akan menunggununggu dan ketika cerita selesai tak juga dibahas, penonton akan mengganggap cerita tersebut tidak tuntas. Hal yang sama ketika tiba-tiba saja ada tokoh dalam kasus di atas ketika berada dalam kondisi terdesak tiba-tiba membuka laci dan mengeluarkan pistol. “Kok dia tahu kalau di situ ada pistol?”

Penonton bisa merasa dikelabuhi karena apa yang ditampilkan seolah kebetulan semata atau adanya campur tangan tuhan (Deux-ex Machina). Meski dalam kehidupan nyata kita sering menemukan kebetulan-kebetulan dan tanpa bisa dielaskan akal mengalami keajaiban dari penguasa semesta, tetapi dalam cerita fiksi, kebetulan-kebetulan atau pertolongan Tuhan semacam ini sulit diterima nalar penonton.

Kebetulan atau pertolongan Tuhan dalam cerita fiksi dianggap sebagai kegagalan pembuat cerita dalam membangun logika cerita. Dalam konteks cerita di atas, penonton merasa perlu untuk diperlihatkan bahwa karakter dalam cerita tersebut sudah mengetahui bahwa dilacinya terdapat pistol sehingga ketika dia terdesak dan membutuhkannya dia sadar atas apa yang sudah diketahuinya. Meski demikian, aturan ini jadi tidak sepenuhnya berlaku ketika kebetulan dan pertolongan Tuhan ini memang sejak awal didesain menjadi inti dari cerita tersebut.

Prinsip menyimpan pistol dan memakai pistol di atas berkembangkan dalam dunia penceritaan, termasuk dalam film, dengan nama PLANTING OF INFORMATION dan PAY OFF. Tidak hanya soal pistol atau properti, tapi bisa berbagai elemen filmis seperti karakter, setting, kostum, musik, dan lain-lain. Tujuannya tetap sama, untuk menjaga logika dunia penceritaan dalam pikiran penonton. Pembuat cerita perlu sadar bahwa penonton menganggap penting berbagai elemen yang ada di cerita sehingga apa yang sudah diperkenalkan di awal, harus terjelaskan kemudian. Begitu juga sebaliknya, apayang muncul di akhir, harus sudah diperkenalkan sebelumnya. Logika seperti ini yang berlaku dalam pikiran penonton ketika menikmati suatu film.

Sekian dan untuk penjelasan mengenai Planting of Information dan Pay-Off dapat dibaca pada postingan Planting of Information dan Pay-Off dalam Film.


Sumber: Buku Menulis Cerita Film Pendek: Sebuah Modul Workshop Penulisan Skenario Tingkat Dasar.
Pusat Pengembangan Perfilman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2017. 
Tim Penyusun: Perdana Kartawiyudha (koordinator), Baskoro Adi Wuryanto, Damas Cendekia, Melody Muchransyah, dan Rahabi Mandra.
Baca Lengkap....

Cerita dengan Struktur Cerita Tiga Babak Pada Film (Bagian 2)

Cerita dengan Struktur Cerita Tiga Babak Pada Film (Bagian 2)

Untuk bagian pertama bisa dilihat di Cerita dengan Struktur Cerita Tiga Babak Pada Film

Babak 2
Begitu karakter memutuskan untuk mewujudkan apa yang diinginkan dalam cerita ini, dia masuk ke babak 2. Babak yang dalam porsi dramatiknya punya porsi paling besar dibandingkan dengan babak 1 ataupun babak 2. Ini adalah babak yang paling ditunggu-tunggu oleh penonton karena pertama kali karakter kita harus menghadapi petualangan baru di “dunia baru”, sehingga di samping dia harus berhadapan dengan ancaman yang sering datang dari luar, dirinya pun harus dengan cepat beradaptasi dengan dunia baru ini. Proses jatuh bangun karakter yang seolah menjadi “fish out of the water” ini yang menarik diikuti oleh penonton. Untuk itu, dibutuhkan kejelian pencerita untuk menjaga daya tarik cerita di sepanjang babak ini.

Seringkali pada babak ini karakter baru menyadari bahaya yang sebenarnya dihadapinya dalam usaha mewujudkan tujuannya tersebut. Halangan yang samar-samar terlihat atau mungkin seolah terlihat jelas pada babak 1, kini menampakkan wujud aslinya yang lebih menantang untuk ditaklukkan. Bisa jadi, efek dimino atau efek bola salju terjadi pada babak ini, dimana problem yang seolah kecil kemudian seiring berjalannya waktu semakin membesar dan tak terbendung. Karakter kita juga bisa mengalami salah paham, salah perhitungan, salah jalan, salah ambil keputusan, yang membuat situasi makin runyam dan seolah makin jauh dari tujuannya.

Kompleksitas masalah terus bergulir dan berkembang dalam babak ini. Semakin karakter kita tenggelam atau terlena dalam problem yang dihadapi, semakin penonton merasa ingin terus mengikuti jalan hidupnya.

Plot Point 2 atau Key Turning Point 2
Babak 2 dan Babak 3 biasanya dipisahkan oleh Plotpoint 2 atau Key Turning Point 2.Titik ini sering disebut juga “the lowest point” karena menggambarkan secara dramatik titik terendah bagi karakter kita dalam mewujudkan tujuannya. The lowest point ditulis dalam tanda kutip karena biasanya, plot point 2 atau Key Turning Point 2 merupakan kebalikan dari ending. Biasanya, ya.

Untuk tujuan dramatika cerita, biasanya apabila ending cerita digambarkan karakter berhasil mendapatkan tujuannya, maka Plot Point 2 digambarkan karakter seolah-olah gagal total dalam mencapai tujuannya. Begitu juga sebaliknya, jika di akhir cerita karakter digambarkan gagal mendapatkan tujuannya, makan plot point 2 ini karakter seolah-oleh berada di puncak keberhasilan dalam mencapai tujuannya.

Dalam konteks film panjang, titik ini bisa terbaca jelas, tapi dalam film pendek, dengan pertimbangan durasi, seringkali tidak diterapkan secara ketat. Dalam beberapa kasus film pendek, plot point 2 ini digambarkan paralel dengan ending-nya. Kalau ending-nya karakter gagal mencapai tujuannya, demikian juga yang tergambar pada plot point 2. Semua kembali pada strategi penceritaan penulis dalam menyajikan cerita kepada penonton.

Babak 3
Setelah karakter “babak belur” ataupun terlena pada babak dua hingga sampai titik terendah (atau tertinggi) pada plot point 2, kita tiba pada pertarungan terakhir. Dalam video game, ini adalah momen di mana karakter bertemu dengan sang raja iblis karena seluruh halangan berhasil ditaklukkan. Ini bisa dianggap seperti putaran final yang paling menentukan berhasil atau gagalnya karakter mewujudkan tujuannya.

Karena putaran final atau sudah berhadapan dengan raja iblis, hambatan yang dihadapi karakter juga makin besar dan makin berbahaya. Apa yang dipertaruhkannya jika gagal pun makin besar. Di titik ini, karakter sudah sangat tidak mungkin untuk mundur dari pertarungan karena risiko untuk mundur dari pertarungan pun tak kalah besarnya dengan terus berjuang. Titik puncak pertarungan ini disebut klimaks. Sepanjang perjalanan cerita, penonton menunggu hadirnya momen yang dipercaya paling seru ini.

Di babak 3 ini, semua problem yang diperkenalkan dan berkembang pada babak-babak sebelumnya harus terselesaikan. Penyelesaiannya ini bisa berbagai macam bentunya, tapi pada prinsipnya menjawab apakah tujuan yang yang sejak awal berusaha diwujudkan karakter, pada akhirnya berhasil atau gagal tercapai. Wujud berhasil kegagalan dan keberhasilannya pun bisa bermacam-macam. Bisa sesederhana karakter berhasil atau gagal dalam pertarungan terakhirnya di klikmaks. Momen setelah klimaks ini secara dramatik cerita biasanya cenderung menurun drastis karena sudah tidak ada lagi konflik. Momen ini berisi bagaimana karakter menyikapi keberhasilan dan kegagalannya dalam mendapatkan apa yang diinginkan. Oleh karena itu, mestinya bagian ini tidak terlalu lama untuk mengindari kebosanan penonton.

Di level yang lebih lanjut, pencerita bisa membuat Babak 3 lebih kompleks dengan membuat karakter mendapati pelajaran hidup setelah melewati berbagai halangan sepanjang cerita. Pelajaran hidup ini membuat karakter sadar apa yang sebenarnya dia butuhkan, atau di Bab Karakter di sebut need. Dengan adanya pelajaran hidup ini, tak peduli berhasil ataupun gagal karakter dalam mendapatkan apa yang diinginkan, karakter bisa mendapat kesempatan berubah menjadi orang yang lebih baik.

Meski demikian, beberapa cerita yang karakternya telah memahami apa yang menjadi neednya, dia bisa kemudian acuh dan tetap fokus pada apa yang menjadi keinginannya sejak awal. Karena suatu alasan yang bisa dipahami penonton, protagonis ditampilkan mengabaikan pelajaran hidup atau apa yang dibutuhkannya untuk menjadi orang yang lebih. Dalam hal ini, tidak ada benar salah. Ini semua tergantung pencerita, akan membawa cerita ini kemana dan pada akhirnya ingin menyampaikan apa kepada penonton.

Bahkan ketika pencerita dengan sadar membiarkan karakter menutup cerita tanpa mendapat jawaban apakah karakter berhasil atau gagal mendapatkan apa yang diperjuangkannya sepanjang cerita, boleh-boleh saja. Yang penting pencerita sadar konsekuensi dari pilihannya mengakhiri cerita karena inilah yang kesimpulan yang dibawa penonton pulang setelah menonton filmnya. Tidak hanya kesimpulan seperti apa yang cerita ini, tetapi pelajaran hidup apa yang mereka dapatkan dari film tersebut.

Sumber: Buku Menulis Cerita Film Pendek: Sebuah Modul Workshop Penulisan Skenario Tingkat Dasar. Pusat Pengembangan Perfilman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2017. Tim Penyusun: Perdana Kartawiyudha (koordinator), Baskoro Adi Wuryanto, Damas Cendekia, Melody Muchransyah, dan Rahabi Mandra.
Baca Lengkap....

Cerita dengan Struktur Cerita Tiga Babak Pada Film

Oleh Perdana Kartawiyudha

Struktur 3 babak sebenarnya telah diperkenalkan Aristoteles, pada jaman Yunani Kuno. Konsep ini secara turun-temurun digunakan dan terbukti sukses dalam berbagai macam bentuk penceritaan. Belakangan konsep ini disempurnakan dalam konteks cerita film oleh Syd Field dalam bukunya Screenplay.

Disebut struktur karena menjadi kerangka dasar yang menentukan seperti apa bangunan ceritanya nantinya. Tiga babak dalam struktur ini terdiri dari babak 1 yang berisi perkenalan (beginning), babak 2 berisi perkembangan konflik (middle), dan babak 3 berisi resolusi (end). Antar babak dipisahkan oleh tiang-tiang penyangga cerita yang disebut Plot Point (PP) atau disebut juga Key Turning Point (KTP) yang menjadi penanda posisi karakter dalam mencapai tujuannya.

Cerita dengan Struktur Cerita Tiga Babak Pada Film
Struktur Cerita Tiga Babak Pada Film
Dengan menggunakan struktur 3 babak, kita bisa mendapatkan kerangka cerita yang solid, terarah, sekaligus dramatik sebelum masuk hal-hal detil seperti plot, adegan atau dialog.

Pada bab ini kita akan membahas lebih jauh mengenai struktur 3 babak dan bagaimana penerapannya dalam film pendek.

Babak 1
Babak 1 secara umum berisi perkenalan karakter, beserta problematika yang hadir dan kemudian berkembang pada babak-babak berikutnya. Berikut adalah hal-hal yang mestinya terwujud dalam Babak 1 antara lain:

1. Karakter dalam Eksposisi Awal (Status Quo)
Pada bagian ini protagonis ditampilkan dalam kesehariannya. Ketika membicarakan kesehariannya, tidak kemudian diartikan bahwa kita hanya menampilkan kejadian rutinitas yang tampak membosankan seperti bangun pagi, sarapan, berangkat kerja, dan seterusnya. Kita bisa memilih bagian yang menarik dan dramatik dari keseharian karakter kita untuk memulai cerita. Oleh karena itu penting bagi kita untuk mendesain karakter kita seutuh mungkin sejak awal, sehingga kita bisa mudah mengidentifikasi rutinitas karakter seperti apa yang menarik untuk ditampilkan kepada penonton.

Jika karakter kita adalah seorang pencuri, kita bisa gambarkan keseharian dia berusaha untuk lolos menjalankan aksi pencuriannya. Contoh lain adalah jika protagonis kita adalah seorang penjual makanan di pinggir jalan, kita bisa tampilkan usahanya menarik pejalan kaki untuk mampir dan membeli dagangannya, atau bisa jadi rutinitasnya adalah dikejar-kejar Satpol PP.

Pengenalan awal ini bertujuan untuk membuat penonton mengenal siapa protagonis kita dan kesehariannya, sebelum problem baru datang dan berkembang menjadi cerita dalam film ini. Pada saatnya problem datang, penonton bisa berharap untuk karakter bisa kembali pada kondisi tanpa gangguannya (status quo) atau bahkan lebih baik lagi dari itu. Konsekuensi dari ini, penonton jadi lebih terikat dan peduli pada karakter sehingga mereka merasa perlu untuk terlibat dalam perjalanan karakter di sepanjang film.

Meski demikian, penulis perlu berhati-hati untuk tidak memberikan informasi yang terlalu banyak pada bagian ini karena penonton butuh sesegera mungkin diperkenalkan pada problem utama. Eksposisi awal yang terlalu panjang membuat penoton bosan. Pengenalan karakter bisa terus dilanjutkan seiring berkembangnya cerita, jadi tidak perlu semua ditumpuk di depan.

Tidak pernah ada ukuran baku untuk berapa seharusnya bagian ini dalam suatu cerita. Justru di sinilah seninya. Penulis harus dapat menakar dengan baik apakah pengenalan ini sudah cukup membuat penonton merasa terikat dengan karakter utamanya tanpa membuat penonton merasa bosan menontonnya.

2. Inciting Incident (point of attack)
Pada bagian ini, untuk pertama kalinya karakter mendapat “serangan”, baik secara fisik, emosional, ataupun gabungan keduanya. Serangan fisik bisa berbentuk gangguan dari karakter lain atau situasi alam, sedangkan serangan emosional bisa berupa kebosanan, kerinduan, kecemasan, dan lain sebagainya.

Jangan bayangkan inciting incident ini selalu hal negatif yang mengganggu rutinitas karakter.Dia bisa berwujud sesuatu yang seolah positif seperti bertemu dengan idola, bertemu dengan benda pengabul harapan, atau sekadar menemukan dompet ketika lagi butuh-butuhnya uang. Ketika karakter menindaklanjuti inciting incident yang seolah-olah positif ini, dalam perkembangan ceritanya akan memunculkan konsekuensi-konsekuensi yang tak terbayangkan sebelumnya yang kemudian jadi konflik dalam cerita ini.

Inciting incident yang baik biasanya memang harus mendesak protagonis untuk sesegera mungkin bereaksi dan beraksi. Serangan ini mestinya sesuatu yang baru bagi karakter, tidak dengan mudah dihindari atau diselesaikan, sehingga memiliki urgensi untuk segera ditindaklanjuti. Karakter sebenarnya punya alasan untuk tidak menindaklanjutinya dan tetap bertahan dalam status quo, tapi dorongan inciting incident ini harus sebegitu besarnya sehingga membuatnya harus bertekad menghadapi apapun risiko yang ada di depannya. Kalau tidak, tidak akan jadi cerita.

3. Protagonis bertemu konflik utama
Pada saat mendapat “serangan” dalam inciting incident yang memaksanya bereaksi, karakter pun dihadapkan pada ancaman atau hambatan yang bertubrukan dengan tujuan yang ingin dicapai. Halangan ini bisa sudah ada sejak awal lalu menyusul keinginan (sebagai reaksi atas hambatan tersebut), atau sebaliknya, bisa juga keinginan hadir sejak awal dan dalam proses mewujudkannya, muncul halangan.

Ketika tujuan karakter diganggu oleh suatu atau beberapa halangan (obstacle), disitulah muncul konflik. Cerita film yang baik, mestinya bisa dipahami dengan jelas benturan konfliknya sehingga penonton bisa secepatnya terikat dengan film untuk menyaksikan bagaimana karakter bersusah payah mengatasi konfik tersebut.

Hambatan bisa terukur tingkat kesulitannya sejak awal tetapi bisa juga mengelabuhi karakter seperti efek gunung es.Artinya, hambatan tipe gunung es, adalah tipe hambatan pada awalnya terlihat kecil dan mudah ditaklukkan. Realitanya, ketika protagonis benar-benar sudah bertekad menaklukkannya, ternyata hambatan ini lebih besar dan berbahaya. Ketika karakter menyadarinya, biasanya sudah terlambat untuk memutar kembali karena dia sadar pada titik itu risiko untuk kembali sudah begitu besar. Karakter tak punya pilihan lain selain menghadapinya.

Halangan bisa berbagai bentuk dan tak jarang lebih dari satu jenis. Berikut adalah kemungkinannya:
a. Karakter lain (antagonis)
b. Setting (ruang dan waktu)
c. Sistem
d. Nasib/Takdir
e. Diri sendiri

4. Nuansa film (genre)
Nuansa dalam film sangat menentukan emosi seperti apa yang muncul dalam diri penonton selama menonton film ini. Apakah berwujud ketakutan, kecemasan, suka cita, atau duka lara? Rasa yang mampu diidentifikasi dengan jelas pada awal film membuat penonton secara sadar ataupun tidak bisa menentukan genre dari film ini, apakah drama, horror, komedi, atau genre yang lain. Dengan genre yang lebih jelas, selanjutnya penonton bisa membuat ekspektasi akan dibawa kemana rasa dan cerita film ini kemudian. Ekspektasi inilah yang sebaiknya terus dijaga konsistensinya disepanjang film. Meski demikian, penulis pun bisa saja membelokkan genre, memainkan ekspektasi penonton menjadi kejutan-kejutan yang tampil di tengah ataupun akhir film.

Plot Point 1 atau Key Turning Point 1
Babak 1 dan Babak 2 biasanya dipisahkan oleh Plot Point 1 atau disebut juga Turning Point 1. Ini adalah titik di mana karakter, setelah menyadari tujuan yang ingin diwujudkan dan problem yang dihadapi, akhirnya memutuskan untuk berusaha untuk mendapatkan apa yang dinginkan dalam cerita ini. Let’s do this! Ini menjadi titik awal di mana karakter menjalani “petualangan baru” dalam hidupnya, dimulai dari babak 2.

Lanjutan artikel ini bisa dilihat di Cerita dengan Struktur Cerita Tiga Babak Pada Film (Bagian 2)

Sumber: Buku Menulis Cerita Film Pendek: Sebuah Modul Workshop Penulisan Skenario Tingkat Dasar. Pusat Pengembangan Perfilman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2017. Tim Penyusun: Perdana Kartawiyudha (koordinator), Baskoro Adi Wuryanto, Damas Cendekia, Melody Muchransyah, dan Rahabi Mandra.
Baca Lengkap....

Karakter dalam Film (Bagian 2)

Katniss Everdeen - The Hunger Games

Oleh: Melody Muchransyah

Karakter dalam Film (Bagian 2). Untuk karakter dalam film point [a] dan [b], dapat dilihat di postingan sebelumnya di Karakter dalam Film (Bagian 1).

c. Character Breakdown
Sebelum menulis skenario, penulis biasanya membuat daftar karakteristik dari karakter-karakter yang akan muncul di dalam cerita. Ini yang disebut dengan Character Breakdown. Formatnya bisa bermacam-macam, namun biasanya ditulis dengan format standar sebagai berikut: Nama (Umur/Jenis Kelamin) yang diikut dengan deskripsi karakter. Nama karakter adalah hal terpenting, sebab ia memberitahu siapa yang sedang berada di dalam sebuah scene di skenario kita kelak, baik dengan dialog atau tidak. Yang perlu diingat adalah untuk selalu konsisten dengan nama yang dipilih. Jangan menamai seseorang Justin di scene 1, lalu memanggil dia Pak Bieber di scene 10, walaupun namanya adalah Pak Justin Bieber. Apabila terdapat flashback di dalam skenario kita, di mana karakter kita muncul dalam sosok yang lebih muda, maka kita harus menuliskan karakter tersebut sebagai karakter yang berbeda dengan karakter utama kita. Contoh: Taylor Swift (22/P) berbeda dengan Taylor Swift Remaja (15/P). Johnson (2015) menuliskan hal-hal penting yang biasa ia jabarkan di saat menulis mengenai karakter:

  1. Nama?
  2. Penampilan fisik?
  3. Backstory (latar belakang cerita karakter sebelum ceritanya di film dimulai)?
  4. Keadaannya saat ini (pekerjaan, pemasukan, lokasi geografis, kondisi tempat tinggal, orang-orang yang penting di kehidupannya)?
  5. Pandangan terhadap dunia?
  6. Sikap?
  7. Opini?
  8. Nilai-nilai yang dipegang?
  9. Kepercayaan?
  10. Kelemahan-kelemahannya?

Contoh Character Breakdown di dalam film The Hunger Games (Ross, 2012) bisa kita lihat di bawah ini:

Character Breakdown di film The Hunger Games
- Katniss Everdeen (16/P) adalah karakter utama protagonis yang berasal dari Distrik 12, sebuah distrik pertambangan batu bara yang merupakan distrik paling miskin dan paling padat penduduknya di negara Panem. Katniss menjadi seorang sukarelawan untuk menggantikan adiknya, Primrose Everdeen, setelah dia terpilih di hari pemungutan, hari di mana satu anak laki-laki dan satu anak perempuan berumur 12 hingga 18 tahun dari setiap distrik dipilih untuk bertarung sampai mati dalam pertarungan mematikan bernama The Hunger Games. Dia menggunakan pengetahuannya soal berburu dan memanah untuk bertahan hidup, dan dia bersama Peeta menjadi pemenang setelah menentang upaya Capitol untuk memaksa seseorang untuk membunuh yang lain.

- Peeta Mellark (16/L) adalah peserta laki-laki dari Distrik 12, bersama Primrose Everdeen (yang selanjutnya digantikan oleh kakaknya, Katniss Everdeen) untuk berpartisipasi dalam Hunger Games ke-74. Dia adalah putra seorang tukang roti, sangat pemalu tapi percaya diri, dan ia mengatakan dalam wawancara sebelum Hunger Games ke-74 dimulai bahwa ia telah jatuh cinta pada Katniss sejak hari pertama dia melihatnya. Hubungannya dengan Katniss tumbuh sepanjang cerita.

- Gale Hawthorne (18/L) adalah seorang remaja berumur 18 tahun dan merupakan teman berburu sekaligus teman terdekat Katniss Everdeen. Ayahnya tewas dalam ledakan tambang, sehingga ia terpaksa menjadi tulang punggung keluarga bagi ibu dan adik-adiknya.

- Presiden Coriolanus Snow (76/L) adalah karakter antagonis utama yang merupakan penguasa otokratis di Capitol dan semua distrik di Panem. Meskipun kelihatan santai, terbukti kalau dia itu seorang psikopat dan sangat sadis.

Untuk mendapatkan gambaran yang lebih mendalam mengenai karakter yang ada di dalam skenario film yang akan kita tulis, kita bisa saja menambahkan detail-detail mengenai perjalanan hidup serta pandangan karakter tersebut. Di dalam sebuah workshop penulisan skenario yang saya ikuti beberapa tahun yang lalu, Tom Abrams, seorang penulis skenario kenamaan di Hollywood, membagikan daftar pertanyaan berikut yang bisa kamu gunakan untuk mengenal karaktermu lebih jauh lagi.

Pertanyaan-pertanyaan mengenai Karakter:

  • Apa pendapat dia mengenai ayahnya? Apa yang dia suka dan benci dari ayahnya? Bagaimana pengaruh ayah atas dirinya?
  • Bagaimana dengan ibunya? Apa pendapat dia atas ibunya? Apa yang dia suka dan benci dari ibunya? Menurut dia, bagaimana pengaruh ibu atas dirinya?
  • Saudara laki-lakinya? Saudara perempuannya? Apa yang dia suka dari mereka? Mengapa? Apa yang tidak dia suka dari mereka?
  • Cara disiplin seperti apakah yang diterapkan padanya di rumah? Keras? Luwes?
  • Apakah dia overprotected (dilindungi secara berlebihan – oleh keluarganya, orangtuanya)? Apakah dia pernah merasa ditolak atau diterima semasa kecilnya?
  • Apa status ekonomi keluarganya? Apakah ada situasisituasi yang tidak menguntungkan atau tidak menyenangkan?
  • Apakah ada perceraian, penyakit, alcoholism, dll (dalam kehidupannya)?
  • Pengaruh agama apa yang ada dalam keluarganya?
  • Bagaimana pendapatnya tentang agama itu sendiri?
  • Apakah dia cerdas, pandai atau lambat (dalam berpikir)?
  • Bagaimana prestasinya di sekolah? Apa tingkatan terakhir pendidikannya? Apa pendapatnya mengenai dirinya sendiri? Pandai? Cerdas? Kurang terpelajar? Bagaimana latar belakang pendidikan dan kecerdasannya bisa terlihat dari cara bicaranya, kosa katanya dan pelafalan katakatanya?
  • Apakah dia menyukai sekolah? Guru-gurunya? Teman-teman sekolahnya? Apa (kegiatan sekolah) yang paling menarik untuknya, di mana dia suka melibatkan diri? Bagaimana pandangan politiknya?
  • Apa pekerjaannya/nafkahnya? Apa pendapatnya mengenai profesinya sendiri? Sebagai “pekerjaan”? Sebagai “karir”? Apa yang dia suka dan tidak suka mengenai pekerjaannya?
  • Apakah dia senang berpergian (travel)? Ke mana? Mengapa? Apa yang dia temukan di sana dan apa yang masih dia ingat (mengenai perjalanannya, atau hal-hal yang dia temukan di sana)?
  • Apa kekecewaan terbesar dalam hidupnya?
  • Kejadian apakah, politik atau sosial – nasional atau internasional, yang pernah dia alami, yang paling meninggalkan kesan yang dalam untuknya?
  • Bagaimana kelakuannya? Pahlawan seperti apakah yang dia puja? Tokoh seperti apakah yang dia benci?
  • Siapa teman-temannya? Para kekasihnya? Apa tipe pasangan hidup idealnya? Apa yang dia cari dari pasangan hidupnya? Apa pandangannya dan perasaannya mengenai sex?
  • Kelompok dan kegiatan sosial seperti apakah yang dia ikuti? Peran apakah (di masyarakat) yang dia ingin lakoni? Peran apakah yang sebenarnya ia lakoni, biasanya?
  • Apa hobby dan kesenangannya? Apa yang ia lakukan untuk bersenang-senang?
  • Seperti apakah rumahnya? Seleranya? Pakaiannya? Perabotannya? Rambutnya? Berewok? Kumis? Makeup? Bagaimana dia tercermin dalam penampilannya? Bagaimana caranya berpakaian? Gayanya? Kualitasnya?
  • Siapa sahabatnya? Bagaimana mereka berhubungan/bertemu? Mengapa dan bagaimana dia memutuskan untuk bersahabat (dengan orang ini)?
  • Peran apa yang dia lakoni di rumah? Peran apa yang sebenarnya ingin dia lakoni?
  • Apakah dia mempunyai anak-anak? Bagaimana perasaannya mengenai perannya sebagai orangtua? Bagaimana pendapatnya mengenai anak-anaknya? Bagaimana ambisinya (mengenai anak-anaknya)? Bagaimana hubungan anak-anaknya dengan dia?
  • Bagaimana cara dia menangai situasi-situasi sulit? Dengan bertahan? Dengan agresif? Dengan mengelak?
  • Apakah dia “minum”? Atau ‘ngobat’? Apakah dia merasa dirinya paling benar? Apakah dia seorang pendendam? Apakah dia suka merasionalisasi kesalahannya? Bagaimana caranya menerima musibah dan kegagalan? Apakah dia menikmati penderitaan? Apakah dia menikmati penderitaan orang lain? Apakah dia seorang yang manipulatif? Apakah dia suka melepas tanggungjawabnya?
  • Bagaimana imajinasinya? Apakah dia sering melamun dan berangan-angan? Apakah dia sering merasa khawatir? Apakah dia ‘hidup di masa lalu’?
  • Apakah dia biasa berpandangan negative terhadap hal-hal yang baru? Curiga? Menyerang? Takut? Bersemangat? Apa yang sering ia ejek? Hal-hal apa yang menurutnya bodoh? Bagaimana selera humornya? Apakah ia menyadari dirinya sendiri? Kekurangan-kekurangannya? Kebiasaan-kebiasaannya yang unik dan aneh? Apakah dia mampu melihat sisi ironis dari dirinya sendiri?
  • Apa yang paling dia inginkan? Hal apa yang amat dia perlukan? Bahkan secara kompulsif? Apa yang rela ia lakukan atau korbankan untuk mendapatkan apa yang dia inginkan?
  • Seberapa besar keinginannya untuk mencapai hal yang menjadi tujuan hidupnya? Bagaimana cara dia untuk mengejar cita-citanya tersebut?
  • Apakah dia tinggi? Pendek? Berapa beratnya? Bagaimana perasaannya mengenai ukuran badannya, berat badannya? Bagaimana postur tubuhnya? Bagaimana caranya berjalan? Apakah dia ingin menunjukan bahwa dirinya adalah seorang yang lebih muda, lebih tua, lebih penting? Apakah dia ingin dilihat orang, atau malah menjadi sosok yang tidak terlihat?
  • Apa yang menjadi kebiasaan tindak tanduknya secara fisik? Bugar? Lemah? Teratur? Serampangan? Apakah dia bersemangat atau lamban?
  • Bagaimana dengan suaranya? Lengkingan suranya? Kekuatan suaranya? Kecepatan dan irama bicaranya? Lafalnya? Aksennya?
  • Apakah kamu menyukainya? Membencinya? Mengapa kamu perlu menulis tentang dia? Mengapa orang lain perlu mengenalnya?
Yang perlu diingat, di saat menciptakan tokoh-tokoh yang akan berperan di dalam skenario kita, kita dapat menggunakan rumus yang dinamakan dengan The Clash of Characters atau tabrakan karakteristik antar karakter. Yang dapat kita lakukan adalah menciptakan karakter-karakter dengan karakteristik yang saling bertolak belakang sehingga di saat mereka bertemu, perbedaan mereka akan menjadi potensi terciptanya konflik. Contohnya saja di film The Fault in Our Stars (Boone, 2014), karakter Hazel yang depresif bertemu dengan Augustus yang ceria dan selalu menentang kehidupan. Setelah melewati konflik di awal pertemuan mereka, kedua tokoh ini menemukan kualitas satu sama lain yang tidak mereka miliki di diri mereka yang akhirnya membuat mereka jatuh cinta. Namun perbedaan inilah yang akhirnya membuat kualitas cinta mereka terus-menerus diuji di sepanjang film.
 
d. 3 - Dimensional Character
Untuk dapat menciptakan karakter yang ‘hidup’, kita harus bisa menciptakan karakter yang memiliki tiga dimensi. Seperti setiap objek di dunia ini yang memiliki tiga dimensi: tinggi (y), panjang (x), dan lebar (z); manusia pun memiliki unsur tambahan tiga dimensi: fisiologi, psikologi, dan sosiologi. Tanpa pengetahuan atas tiga dimensi ini, penulis skenario tidak dapat menilai karakter manusia pada umumnya (Egri, 1960). Mari kita lihat masing-masing dari ketiga dimensi tersebut:

a) Fisiologi
Dimensi yang pertama adalah fisiologi. Aspek fisiologi dapat dilihat berdasarkan keadaan fisik karakter. Keadaan fisik setiap orang dapat mempengaruhi cara pandang seseorang. Si buta, si tuli, si cantik, si tinggi, si pendek, memandang segala hal berbeda dari yang lainnya. Seseorang yang sedang sakit, akan melihat kesehatan adalah kebutuhan yang paling penting, sedangkan orang tanpa gangguan kesehatan akan meremehkan kesehatan, itupun jika ia memikirkannya.

Penampilan fisik seseorang dianggap dapat menggambarkan warna dari hidup seseorang. Penampilan fisik mempengaruhi manusia tanpa henti dalam pengembangan mental yang berfungsi sebagai dasar kepribadian inferiority (rendah diri) dan superiority (sombong). Inilah hal yang paling jelas dari set pertama dimensi seseorang. Berikut adalah aspek-aspek yang termasuk kedalam fisiologi: 1) Jenis kelamin; 2) Umur; 3) Tinggi badan dan berat badan; 4) Warna mata, kulit, rambut; 5) Postur tubuh; 6) Penampilan: berpenampilan menarik, kelebihan atau kekurangan berat badan, bersih, bentuk kepala, wajah, dan anggota tubuh lainnya; 7) Kekurangan fisik: Abnormal, tanda lahir, penyakit; 8) Keturunan.

b) Sosiologi
Sosiologi adalah hal kedua dari tiga dimensi karakter yang harus dipelajari. Orang-orang yang terlahir di lingkungan pinggiran kota yang kotor, akan memiliki pola pikir dan reaksi yang berbeda dibanding orang-orang yang terlahir dari lingkungan yang serba bersih dan teratur. Secara sederhana, sosiologi menganalisa karakter seseorang melalui lingkungan tempat ia lahir dan dibesarkan, juga bagaimana orang-orang di sekitarnya memperlakukannya.

Unsur yang termasuk kedalam dimensi sosiologi adalah: 1) Kelas sosial: Bawah, menengah, atas; 2) Pekerjaan: Jenis pekerjaan, jam kerja, penghasilan, kondisi pekerjaan, serikat atau tidak berserikat, perilaku di organisasi, kecocokan dengan pekerjan; 3) Pendidikan: jumlah biaya pendidikan, jenis sekolah, nilai, pelajaran favorit, pelajaran yang dibenci, bakat; 4) Kehidupan di rumah: orang tua yang masih hidup, kekuasaan, yatim piatu, orang tua berpisah atau bercerai, kebiasaan orang tua, pengembangan mental orang tua, kejahatan orang tua, pengabaian, status perkawinan; 5) Agama; 6) Ras, kebangsaan; 7) Posisi di komunitas: Pemimpin diantara teman, berkelompok, berolahraga; 8) Keanggotaan secara politik; 9) Kesenangan, hobi: buku, koran, majalah.

c) Psikologi
Psikologi adalah hasil dari gabungan dua dimensi yang lain, fisiologi dan sosiologi. Kombinasi ini melahirkan ambisi dalam hidup, rasa frustasi, watak, tingkah laku, dan kepribadian. Yang termasuk kedalam aspek psikologi adalah: 1) Kehidupan seksual, standar moral; 2) Alasan personal, ambisi; 3) Frustrasi, kekecewaan; 4) Watak: koleris, easygoing, pesimistis, optimistis; 5) Perilaku terhadap hidup: pengunduran diri, militan, pengalah; 6) Complexes: Obesesi, kekangan, takhyul, fobia; 7) Extrovert, introvert, ambivert; 8) Kemampuan: bahasa, talenta; 9) Kualitas: imajinasi, penilaian, selera; 10) IQ.


Sumber: Buku Menulis Cerita Film Pendek: Sebuah Modul Workshop Penulisan Skenario Tingkat Dasar.
Pusat Pengembangan Perfilman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2017.
Tim Penyusun: Perdana Kartawiyudha (koordinator), Baskoro Adi Wuryanto, Damas Cendekia, Melody Muchransyah, dan Rahabi Mandra.
Baca Lengkap....

Karakter dalam Film (Bagian Pertama)

The Godfather (Coppola, 1972)

Oleh: Melody Muchransyah

Masih ingat tiga komponen dalam sebuah logline? Ya, logline yang baik akan memaparkan mengenai seorang karakter yang menginginkan sesuatu namun mengalami kesulitan untuk mendapatkannya. Jika lupa, silakan baca lagi di SINI.

Jika masih ingat, kita lanjut saja. Oleh karenanya, sebelum menuliskan skenario untuk filmmu, kamu harus mengetahui tiga hal berikut ini:
(1) Siapa tokohmu?
(2) Apa yang ia inginkan?
(3) Apa yang menghalanginya dari mewujudkan keinginannya tersebut?

Pembahasan ini akan berfokus untuk merumuskan mengenai hal terpenting yang ada di dalam skenario, yaitu karakter.

a. Pengertian Karakter
Menurut “Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Elektronik” (2008), karakter adalah “tabiat; sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain; watak.” Di dalam bukunya “Screenplay: The Foundations of Screenwriting” (2005), Syd Field menuliskan bahwa karakter adalah dasar internal yang penting dari sebuah skenario. Karakter adalah landasan utama, bagikan jantung, jiwa, dan sistem saraf dari skenario. Sebelum kamu dapat menempatkan satu kata di atas kertas, kamu harus mengenal karakter yang akan kamu buat.

Hal yang paling mudah yang dapat kita lakukan dalam menciptakan karakter adalah dengan mengamati sekeliling kita. Saya sendiri seringkali menulis cerita dan skenario berdasarkan tokoh-tokoh yang ada di kehidupan saya sehari-hari: mulai dari adik saya, orang tua saya, teman-teman saya, hingga ke diri saya sendiri! Hal ini disebabkan karena membuat karakter harus dilakukan dengan seksama: kita ingin membuat karakter yang ‘hidup’. Proses menghidupkan karakter berarti memberikan dimensi pada karakter tersebut sehingga segala hal yang terkait dengan karakter tersebut menjadi konsisten dan penonton dapat percaya bahwa karakter yang kita ciptakan dapat hidup di tengah-tengah mereka. Inilah mengapa menjadi penting untuk mengamati orang-orang di sekeliling kita: bagaimana mereka berbicara, bagaimana mereka bertindak, apa yang menjadi masalah di dalam kehidupan mereka, serta interaksi mereka terhadap lingkungan mereka sehari-hari.

b. Tipe Karakter
Ada beberapa versi mengenai tipe karakter.Namun yang terpenting untuk diingat adalah membagi karakter kita menjadi karakter utama dan karakter pendukung. Berikut adalah beberapa tipe karakter:

1. Protagonis
Protagonis disebut juga sebagai the pivotal character (karakter yang penting) karena protagonis memang merupakan karakter terpenting dalam sebuah cerita. Protagonis merupakan karakter utama dalam cerita yang akan memimpin jalannya cerita. Protagonislah yang menciptakan konflik dan membuat cerita mengalir. Protagonis harus tahu apa yang ia mau (want). Tanpa protagonis, cerita akan terasa janggal, nyatanya tidak akan ada cerita. Dalam menginginkan sesuatu, protagonis harus memiliki hasrat yang kuat dalam mengabulkan keinginnya sehingga dalam perjalanan untuk mendapatkan apa yang ia inginkan, ia akan menyerang atau diserang (Egri, 1960). Contohnya, karakter Don Vito Corleone adalah protagonis di dalam film The Godfather (Coppola, 1972) yang merupakan seorang bos mafia terkemuka.

2. Antagonis
Karakter pendukung yang menentang atau melawan karakter utama akan menjadi penentang atau antagonis. Antagonis adalah karakter yang akan merusak usaha protagonis dan akan menekan keadaan protagonist dengan segala kekuatan yang ia punya. Egri (1960) menyatakan bahwa tokoh protagonis dan antagonis harus menjadi lawan yang memiliki kekuatan yang sama, agar terjadi perlawanan yang seimbang. Karena fungsinya yang penting dalam cerita, penulis skenario terlebih dahulu harus mengenal karakter-karakter yang akan ditulis dengan sepenuhnya. Karakter-karakter inilah yang nanti akan mengendalikan cerita. Di dalam film Silence of the Lambs (Demme, 1991), karakter antagonisnya adalah Dr. Hannibal Lecter. Selain kedua tipe karakter di atas, Set & Sidharta (2003) menyebutkan beberapa tipe karakter pendukung lain seperti Karakter Sidekick yang bertugas membantu karakter protagonis, Karakter Kontagonis yang bertugas membantu karakter antagonis, dan Karakter Skeptis yang paling tidak peduli dengan aktivitas yang dilakukan oleh karakter protagonis.


Sumber: Buku Menulis Cerita Film Pendek: Sebuah Modul Workshop Penulisan Skenario Tingkat Dasar. Pusat Pengembangan Perfilman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2017.
Tim Penyusun: Perdana Kartawiyudha (koordinator), Baskoro Adi Wuryanto, Damas Cendekia, Melody Muchransyah, dan Rahabi Mandra.
Baca Lengkap....

Statement dan Tema dalam Film

Statement dan Tema dalam Film

Oleh Baskoro Adi dan Perdana Kartawiyudha

A. Statement
Statement adalah sikap pembuat cerita terhadap topik atau kasus yang diangkat. Biasanya topik atau kasus ini sudah terwujud dalam logline.Cara pencerita menyikapi kasus yang tertuang dalam logline inilah yang disebut statement. Beberapa orang menyebut statement ini dengan istilah pesan moral (moral of the story).

Berbeda dengan director’s statement yang umumnya berisi penjabaran latar belakang dan alasan sutradara terlibat dalam suatu film, statement dalam pembuatan cerita ini ditulis lebih singkat, padat, dan jelas dalam menyampaikan sikap pembuat cerita terhadap topik yang disampaikan. Umumnya statement dalam cerita ini hanya ditulis dalam satu kalimat saja. Contoh kalimat statement adalah sebagai berikut:
a. cinta datang di saat ketika kita membuka diri
b. kebahagiaan dimulai dari diri sendiri
c. nikmati hidup selagi bisa

Bandingkan dengan kalimat logline seperti “seorang mahasiswa yang sudah tak tahan ingin buang air di toilet tapi semua toilet yang ada di kampus terpakai”. Kalimat statement cenderung lebih mendalam, filosofis, dan menunjukkan sikap, tetapi memang tidak terlalu jelas menjelaskan ceritanya seperti apa. Berbeda dengan kalimat logline yang secara jelas menggambarkan cerita dalam film, terutama dari segi karakter dan konflik yang dihadapinya.

Ketika menonton film, kita bisa menangkap apa logline film tersebut dengan menonton sepertiga awal film. Sedangkan untuk memahami statement dari suatu film, penonton perlu menonton film hingga selesai.

Bagi beberapa pembuat film, statement atau yang lebih umum disebut pesan moral ini adalah sesuatu yang berusaha dihindari dalam mendesain cerita. Hadirnya statement atau pesan moral dianggap hanya membuat cerita terkesan menggurui penonton ke arah normatif. Padahal inti dari dibuatnya statement atau pesan moral ini adalah menunjukkan sikap pembuat film. Apapun itu. Bahkan ketika pembuat film ingin menunjukkan ketidakberpihakannya terhadap suatu kasus, itu juga bisa dianggap pencerita sudah menentukan sikapnya.

Bagi pencerita tingkat tinggi, mereka seringkali sudah sangat mahir mengolah cerita sehingga mereka bisa langsung bercerita dengan sangat baik tanpa terlebih dahulu merancang logline dan statement, bahkan perlu melewati tahapan sinopsis ataupun treatment. Beberapa dari mereka tidak sadar bahwa tanpa memformulasikan logline dan statement, dua unsur tersebut sudah langsung terwujud dengan kuat dalam karya mereka. Hanya saja tidak semua dari kita mempunyai bakat dan kemampuan sehebat itu.

Apalagi ketika dalam proses belajar, statement dan logline penting untuk dirancang sejak awal. Bukan dengan niatan menggurui penonton, tetapi keberadaan statement sesederhana menjadi titik yang ingin dicapai dalam proses bercerita. Dengan titik tuju yang jelas, pencerita bisa meminimalisasi kemungkinan tersesat di tengah jalan.Bahwa nanti di tengah jalan titik tujunya perlu berubah, bisa saja dilakukan. Artinya harus tetap ada titik lain yang dituju. Dengan demikian bisa mengurangi kemungkinan penulis tersesat di tengah proses menulis dan tak tahu harus ke mana.

Statement dan Tema dalam Film
Lebih jauh lagi, logline yang persis sama, bisa disikapi berbeda oleh pembuat cerita yang berbeda. Ada yang bersikap bijak, ada yang bersikap sinis, ada yang apatis, ada yang penuh amarah, dan lain sebagainya. Inilah hal yang bisa dimainkan dalam merancang statement. Sebagai pencerita, kita bisa memasang topeng yang berbeda dalam menyikapi suatu permasalahan. Statement yang baik juga tidak harus bijak. Kita bisa membuat orang belajar sesuatu dengan memperlihatkan kondisi yang tidak selalu positif. Akhiran yang ironi atau bahkan tragis pun dapat membuat penonton belajar sesuatu dari cerita yang ada, misalnya:
a. bahagiakan diri sendiri, baru bisa membahagiakan orang lain
b. Tuhan tak pernah tidur, demikian juga iblis
c. sepandai-pandainya menyimpan bangkai, akhirnya tercium juga

Kejelian dan keberanian menentukan statement, akan menentukan kesan yang penonton tangkap setelah menonton film. Kesan ini bisa menjadi bahan pemikiran atau bahkan inspirasi bagi mereka dalam memandang suatu permasalahan maupun menjalani hidup. Tidak hanya itu, kesan yang dimunculkan dari statement, bisa membuat penonton juga sadar bahwa orang yang berbeda bisa menyikapi suatu permasalahan dengan cara yang berbeda pula. Dan itu tidak apa-apa.

B. Tema
Tema adalah satu kata (atau 2 kata majemuk) yang menjelaskan film Anda. Bisa juga berarti pesan dari film Anda.

Film The Conjuring (2013) adalah film horor dengan tema keluarga. Dalam film tersebut, digambarkan bagaimana jahatnya Bathsheba, sebuah roh jahat yang berumur ratusan tahun, kalah oleh kekuatan keluarga.

Saat Carolyn Perron, sang Ibu dalam kisah itu kerasukan arwah Bathsheba, bukan kekuatan air suci yang menghentikannya membunuh keluarganya. Tapi Lorraine Warren, sang paranormal, memegang kepala Carolyn, dan mengingatkan kembali betapa berartinya keluarga bagi Carolyn. Akhirnya Carolyn bisa mendapatkan kekuatan kembali, dan mengeluarkan Bathsheba dari dalam tubuhnya.

Contoh lain adalah film Up (2013), yang mengangkat tema petualangan. Dalam film itu, Carl Frederiksen berusaha mengabulkan permintaan terakhir istrinya, yaitu memindahkan rumahnya ke Paradise Falls.

Carl menikah dengan Ellie, karena keduanya menyukai petualangan. Carl dan Ellie, menganggap pernikahan mereka adalah sebuah petualangan. Mereka mencatat semua perjalan kehidupan pernikahan mereka dalam sebuah adventure book.

Usaha Carl memindahkan rumah tidak berjalan mulus. Saat ia putus asa akan usahanya yang akan kandas, ia membuka kembali adventure book. Di sana ia menemukan kembali semangat hidup, saat menemukan tulisan Ellie, “and now, find your new adventure!”.


Sumber: Buku Menulis Cerita Film Pendek: Sebuah Modul Workshop Penulisan Skenario Tingkat Dasar. Pusat Pengembangan Perfilman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2017.
Tim Penyusun: Perdana Kartawiyudha (koordinator), Baskoro Adi Wuryanto, Damas Cendekia, Melody Muchransyah, dan Rahabi Mandra.
Baca Lengkap....

Logline Dalam Membuat Film

Logline Dalam Membuat Film

Oleh Baskoro Adi dan Perdana Kartawiyudha

A. Formulasi Logline
Apa itu logline? Logline adalah intisari dari cerita. Karena berupa intisari, maka logline harus singkat. Jika sebuah skenario di-analogikan sebagai tubuh manusia, LOGLINE adalah tulangnya. Jika tulang kuat, maka tubuh menjadi kuat. Jika logline kuat, skenario yang dihasilkan juga akan kuat.

Tak jarang, membuat logline hanya singkat ini bisa menghabiskan waktu berhari-hari. Jika Anda ingin menjadi penulis naskah profesional, buat minimal 50 logline setiap minggu.

Perhatikan kalimat berikut: Saya makan bakso.
Apakah kalimat tersebut merupakan cerita yang baik? Tidak. Karena cerita yang baik harus:
- Mengandung konflik - Ada pertaruhan - Ada kekuatan emosi - Karakter yang menarik

Modifikasi kalimat tersebut menjadi kalimat baru, yang mengandung cerita menarik, misalkan: Member JKT48 yang tiga hari belum makan, saat mau makan bakso, di tengah jalan ada Godzila.

Dalam kalimat tersebut terkandung: - Karakter menarik - Kekuatan emosi bagi (bagi para wota) - Konflik besar oleh karakter lemah - Pertaruhan, tiga hari tidak makan, sehingga jika tidak makan akan fatal.

Formulasi dasar Logline adalah: somebody wants something real bad, but having a hard time while having it. Jadi dalam logline, harus ada karakter, konflik yang harus mengandung stake, dan goal.

Ingat, logline harus singkat. Berlatihlah membuat logline dengan kurang dari 25 kata. Apakah itu hanya berlaku untuk film pendek saja? Tentu tidak. Perhatikan Logline berikut:
Leonidas, Raja Sparta, memimpin 300 orang pejuang untuk melawan 100.000 tentara Persia untuk mempertahankan negerinya.
Logline di atas terdiri dari 15 kata, yang dikembangkan menjadi film berdurasi 2 jam.

Rumus logline:
LOGLINE = (KARAKTER + GOAL) x KONFLIK

Ingat rumus dasar matematika?

LOGLINE = (1.000.000.000.000 + 1.000.000.000.000.000.000) x 0
LOGLINE = 0

Jadi sehebat apapun karakter Anda, sebesar apapun Goal karakter Anda, jika tidak ada konflik, maka tidak ada cerita. Cerita adalah bagaimana seorang karakter berusaha mendapatkan tujuannya, sementara ia dihalangi oleh sesuatu. Kita akan melihat perjuangan seseorang. Logline adalah merumuskannya dalam sebuah kalimat.

Jika sudah paham dengan konsep logline, berikut beberapa hal yang harus diperhatikan supaya logline Anda tidak terjebak menjadi sesuatu yang klise atau terlalu biasa.

1. Hindari kata yang terlalu general
Saat membuat logline, hindari menyebutkan “seorang pemuda”, “seorang wanita”, “seorang gadis”. Tapi cobalah menggunakan kata yang lebih spesifik.Ini yang bisa membuat logline Anda lebih kuat. Sebagai contoh, pada film My Name is Khan, jika dirumuskan logline-nya, bisa dituliskan sebagai berikut:
(1) Seorang penderita autisme Muslim pasca 9/11, berusaha menemui Presiden Amerika untuk menyatakan bahwa orang Muslim bukan Teroris.

Bayangkan jika penulisan logline-nya sebagai berikut:
(2) Seorang pemuda berusaha menemui Presiden Amerika untuk menyatakan Muslim bukan teroris.

Logline dengan nomor (1), dapat menimbulkan empati bagi calon penonton. Sementara jika ada yang pitching kepada saya Logline nomor (2), reaksi saya pribadi adalah:
- Iseng amat pemuda itu?
- Ya, Presiden Amerika sudah sering mendengar statement itu
- Oke, jadi pemuda ini akan menulis surat, menunggu audiensi, dan akhirnya bertemu presiden dan menyatakan itu. So what?

2. Logline Anda harus sudah menjanjikan sesuatu
Logline Dalam Membuat Film 2Jika Anda ingin membuat skenario horror, logline Anda harus sudah bisa membuat orang takut. Jika ingin membuat skenario komedi, Logline Anda harus sudah bisa membuat orang tertawa. Sekali lagi, dengan pilihan kata yang tepat, logline Anda bisa berpengaruh besar.
Logline Efek
Seorang pria akan berangkat kerja, namun dikejar Anjing

Perampok berdarah dingin ingin beraksi, namun dikejar pitbull

Perampok berdarah dingin ingin beraksi, namun dikejar cerberus

Pembunuh berdarah dingin ingin beraksi, namun dikejar pudel
Logline sampah, terlalu general. Then what?
Logline action


Logline horror


Logline komedi
Tiap logline di atas, hanya berbeda satu kata. Perbanyak referensi untuk membuat logline.

3. Buat goal yang besar, tapi bisa dikendalikan oleh karakter utama.
Penonton suka melihat kemenangan besar, dimana seorang tokoh yang dianggap lemah, akhirnya bisa melakukan sesuatu yang besar.

Kisah The Lord of the Rings misalkan, seorang Hobbit yang berusaha menyelamatkan Middle Earth dengan menemukan cincin yang mengendalikan cincin-cincin lain di sana.

Kisah Lord of the Rings menjadi menarik, karena bagaimana seorang hobbit yang kecil dan lemah, berusaha menyelamatkan realm-nya. Kisah ini akan kurang menarik jika tokoh utamanya adalah Dwarf, Elf, atau Treant yang lebih perkasa. Penonton ingin melihat sebuah perjuangan besar yang dilakukan oleh karakter utama.

Tapi hindarkan juga konflik yang terlalu besar, dimana karakter utama memperjuangkan sesuatu yang tidak bisa dikendalikan oleh karakter utama.

Contoh: Seorang siswa SD yang ingin menghentikan kiamat. Contoh logline tersebut terlalu besar, dan tidak masuk akal.

Basic action adalah usaha yang dilakukan protagonis untuk mencapai tujuannya.Semakin besar tujuan karakter utama, maka basic action yang harus diambil juga harus besar.

Dalam film My Name is Khan (2010), sang tokoh utama, Rizwan Khan (Shah Rukh Khan), ingin membuktikan bahwa muslim bukanlah teroris. Karena ia tidak memiliki cukup kekuatan, maka ia harus menemui Presiden Amerika untuk berkata bahwa “My name is Khan, and I’m not a terrorist”. Usaha Khan menjelajah Amerika untuk bertemu Presiden Amerika inilah yang disebut dengan basic action.

Sementara dalam film Finding Nemo (2003), sang tokoh utama, Marlin, seekor ikan badut, yang harus menjelajah Samudera Pasifik untuk menemukan anaknya, Nemo. Usaha Marlin menjelajah Samudera Pasifik inilah yang disebut dengan basic action.


Sumber: Buku Menulis Cerita Film Pendek: Sebuah Modul Workshop Penulisan Skenario Tingkat Dasar. Pusat Pengembangan Perfilman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2017.
Tim Penyusun: Perdana Kartawiyudha (koordinator), Baskoro Adi Wuryanto, Damas Cendekia, Melody Muchransyah, dan Rahabi Mandra.
Baca Lengkap....

Memahami Cerita dan Mengelolah Ide (Pengenalan Film Bagian 3)

Memahami Cerita dan Mengelolah Ide (Pengenalan Film Bagian 3)

Oleh Baskoro Adi dan Rahabi Mandra

1. Apa itu cerita?
Cerita adalah sebuah laporan, fiksi maupun nyata, baik tertulis maupun verbal tentang sebuah rangkaian kejadian yang saling berhubungan. Mengapa cerita yang baik itu penting? Perhatikan keadaan berikut:

(1) Anda sedang tiduran di kamar, kemudian ibu anda msuk ke dalam kamar dan ngomel, “Kamu jangan ngerokok, jangan narkoba, jangan nakal, jangan pulang malam!” Kemudian ibu Anda keluar.

dan (2)
Ibu anda masuk ke kamar saat anda sedang tiduran. Beliau duduk dan bercerita, “Kamu ingat teman Papa, Om Anton? Beliau meninggal karena kanker paru-paru. Kamu jangan merokok ya?”.

Dari kedua keadaan di atas, keadaan nomor 1, sang Ibu menggunakan daftar untuk menasehati anaknya. Sementara keadaan nomor 2, sang Ibu menggunakan cerita. Keadaan nomor 2 jelas lebih mengena kepada pendengar.

Banyak pesan disampaikan melalui cerita. Kisah supaya tidak durhaka kepada orang tua, disampaikan melalui kisah Malin Kundang. Kisah supaya baik dengan saudara, disampaikan melalui kisah Cinderella dan Bawang Merah Bawang Putih. Bahkan banyak firman Tuhan disampaikan melalui cerita.

Kembali ke pertanyaan di atas: Mengapa cerita yang baik itu penting? Karena cerita yang baik akan mampu memanipulasi emosi.

Selalu ingat, kebanyakan keputusan yang dibuat oleh manusia, lebih banyak dipengaruhi oleh emosi daripada logika. Pengguna Apple, sadar bahwa dengan harga yang lebih rendah, mereka bisa membeli komputer dengan spesifikasi lebih baik, namun mereka tetap membeli komputer Apple yang harganya lebih tinggi. Keputusan yang dibuat berdasarkan emosi.

Seorang wanita bisa memilih seorang pria yang sudah jelas-jelas menyakitinya, sementara ada pria yang lebih baik tersedia. Keputusan yang dibuat juga berdasarkan emosi. Apakah banyak manusia seperti itu? BANYAK. Bahkan mungkin Anda salah satunya.

Begitu Anda bisa membuat cerita yang baik, Anda akan nyaris bisa menjual apapun.

2. Bagaimana mengolah ide?
Coba tanyakan ke penulis sukses/ternama, apa kiranya pertanyaan yang umumnya selalu mereka dapatkan. Biasanya mereka akan menjawab, “Dapat ide dari mana sih?”

Kita sebagai penggiat dunia kreatif pasti pernah merasakan kok kepala ini tidak bekerja ya, tidak ada ide muncul. Banyak penulis-penulis yang baru memulai sudah punya ketakutan duluan — takut kehabisan ide. Ya, banyak dari kita bisa mengerti keadaan ini. Untuk menghilangkan kekuatiran ini, ada baiknya kita menganggap ide seperti… kelinci deh. Kita pelihara saja dua, dan kalau kita bisa memelihara dan mengelolanya, tidak lama kemudian kita sudah punya selusin.

Beberapa orang memang bisa menulis dengan cepat, namun coba perhatikan saja – secepat-cepatnya orang menulis, penulis novel setidaknya menulis hanya satu dalam setahun, sementara penulis skenario layar lebar hanya dua hingga tiga tiap tahunnya. Jadi dalam setahun sebenarnya kita hanya butuh antara satu-tiga ide cerita yang bagus.

Sebenarnya cara terbaik untuk muncul dengan ide bagus itu adalah dengan memperhatikan hidup. Setiap penulis selalu “diberi” ide cerita setiap harinya, yang diantarkan oleh hidup. Persoalannya, tidak semua penulis menerimanya. Hanya penulis-penulis yang benar-benar memperhatikan hidup, memperhatikan kejadian sekitar, menjadikannya pengalaman, dan mengolahnya sedemikian rupa, baru bisa dikatakan “mendapatkan” ide cerita. Ini sama seperti peluang. Setiap hari peluang hilir-mudik dalam hidup kita, namun jika kita tidak menyadarinya, menangkapnya, maka peluang akan pergi begitu saja.

Kuncinya adalah harus siap sedia ketika ide datang. Ini bukan berarti hanya sekadar siap dengan pulpen dan kertas. Ini berarti juga siap secara mental untuk memperhatikan dan mengenali informasi yang selalu lalu-lalang dan menyentuh pikiran kita, bisa menjadi ide yang bermanfaat. Kapan terjadinya? Kapan saja – ketika kita lihat ada iklan menarik di billboard, ketika seorang teman tiba-tiba nyeletuk ide bagus, ketika di suatu hari ada masalah datang ke kita, atau ketika kita baru saja melewati rintangan berat dalam hidup kita – semua itu bisa diolah-alihkan hingga menjadi dasar dari cerita kita berikutnya, jika kita memang merasa demikian.

Dari dulu sampai sekarang, orang-orang besar dengan ide besar selalu mengutarakan rahasia mereka kepada kita: selalu bawa catatan dan pulpen. Pikiran kita hanya mampu menampung informasi baru dan menjaganya tetap segar selama tiga menit. Kalau tidak diabadikan di dalam catatan, kita bisa kehilangan sebuah ide selama-lamanya.

Andaikan kita sudah mencoba memelototi hidup, mencari ide ke segala penjuru, namun rasanya ide genius itu tidak kunjung muncul, lantas bagaimana? Masih ada beberapa cara untuk membimbing diri kita sendiri agar kita terdorong ke ide-ide itu.

3. Mengamati Berita
Sesekali kadang kita mendengar sebuah berita dari internet, radio, atau televisi, dan kita mendapatkan sebuah konsep menarik untuk dijadikan awal cerita. Yang kita tangkap dari berita memang bukan cerita utuh yang lantas kita ambil dan kita tuliskan ulang. Biasanya hanya berupa konsep pemikiran, atau bibit cerita. Misalnya kita mendengar kisah tentang anak luar biasa yang bisa menyembuhkan penyakit apapun dengan mencelupkan tangannya ke minuman pasien dengan sebuah batu. Bibit cerita bisa diambil dari anak luar biasa itu, dari batu, dari pasien yang berkebutuhan, dari celupan tangan, atau dari ide menyembuhkan segala penyakit.

Lantas salah satu ide itu bisa kita bawa kepada jenis cerita atau genre yang tengah menarik perhatian kita. Misalnya kita sedang ingin membuat horor – kita ambil ide batu dari berita tadi, dan kita bayangkan hantu-hantu yang bisa saja muncul dari batu tersebut, dan bahwa setiap pasien yang meminumnya akan dihantui. Atau misalnya kita sedang ingin membuat cerita romantis – kita bayangkan anak luar biasa yang dibutuhkan banyak orang ini sedang jatuh cinta dengan, misalnya, seorang anak pasien. Atau misalnya kita ingin membuat science fiction – kita bayangkan batu itu datangnya dari kelainan mineral di bumi ini, yang setelah ditelusuri, datangnya dari serpihan meteor yang baru terjadi belakangan ini.

Maka ketika kita mendengar sesuatu yang terjadi di sekitar kita, coba saja dihubung-hubungkan dengan jenis cerita yang sedang kita kembangkan.

4. Dokumenter Sejarah
Nah, di titik ini kita sadar bahwa sejarah itu penting. Penulis-penulis berpengalaman akan mengakui bahwa dokumenter sejarah itu sarat dengan ide cerita. Sejarah bisa bercerita tentang apa saja sebenarnya, hanya saja cerita-cerita itu adalah cerita terpilih yang karena kekuatan ceritanya maka tak lekang oleh waktu. Banyak sekali konsep di dalam sejarah yang bisa diselami, diambil, dan dikembangkan.

Dalam sejarah, kita punya perang, pemimpin-pemimpin politik dan perangainya, kita punya kehidupan, kematian, persatuan, adu kekuatan, cinta, dan yang paling penting, di dalamnya selalu ada konflik. Buku-buku dan film-film favorit kita kebanyakan terinspirasi oleh sejarah, baik secara nyata atau secara semu, dan kadang kita tidak menyadarinya.Sebagai contoh, serial Game of Thrones itu didasari pada sejarah Wars of the Roses di Inggris pada abad ke-15. Dua kubu yang sangat kuat, York dan Lancaster (diubah jadi Stark dan Lannister) bertempur demi kekuasaan. Film Gladiator dan King’s Speech secara nyata mengambil dari sejarah dan menceritakannya kembali.

5. Artikel Lama Koran
Kita bisa menemukan banyak sekali narasi kreatif pada korankoran lama. Ini bukan hanya karena isi pada artikel itu, tapi juga karena gaya penulisan di masa lalu juga sangat berbeda dengan sekarang. Selain itu, hal-hal yang terjadi dan dipercaya di masa lalu sangat mungkin berubah dan menjadi berbeda dari keadaan sekarang, sehingga “memaksa” kita untuk menggunakan cara berpikir yang berbeda juga agar bisa menerapkannya ke dalam cerita kita.

Sebagai contoh, andaikata kita besar di tahun 1990-an di Jakarta, pada saat itu era internet belum benar-benar menyatu dengan masyarakat. Lalu kita lihat artikel tentang sahabat pena, ketika seseorang bertukar surat dengan orang lain di lain kota atau negara. Lalu kita melihat sebuah artikel tentang temuan telepon seluler terbaru, dan kita lihat opini orang-orang terhadap hijab yang belum sepopuler sekarang.Ada nilai-nilai yang dipandang berbeda di saat itu dibandingkan sekarang, dan ini yang membuatnya menjadi menarik.

6. Menyatukan Kedua Hal Jadi Satu
Biasanya salah satu cara mudah membuat ide cerita yang menarik adalah dengan menyatukan dua elemen yang biasanya tidak bisa disatukan. Seperti contoh, pada tahun 2012 ada yang menyatukan konsep sejarah Abraham Lincoln dengan mitos vampir. Abraham Lincoln, menurut film tersebut, adalah vampir.

Kita juga bisa menyatukan dua karakter yang berseberangan ke dalam sebuah film. Cerita bisa bergulir dengan sendirinya karena kedua karakter tersebut otomatis menghasilkan konflik.

7. Sesuatu Yang Wajar Dikurangi Sesuatu
Bayangkan sesuatu yang penting hilang dari sebuah konsep yang kita cukup kenal baik. Bayangkan main golf tanpa stik golf. Bayangkan berbohong tanpa ada konsekuensi. Bayangkan bisnis tanpa pertukaran nilai. Bayangkan pacaran dengan jiwa tanpa raga. Bayangkan bumi tanpa manusia. Bayangkan sebuah negara tanpa presiden. Setelah membuang satu elemen dari sebuah konsep, biasanya pikiran kita bisa mengarah pada ide cerita yang baru.

8. Apa Jadinya Jika
Metode Apa Jadinya Jika atau What If? ini cukup populer di kalangan penulis dan penggiat kreatif. Hanya dengan mempertanyakan apa jadinya jika dunia ini dikuasai oleh mesin dan mesin tersebut menggunakan manusia sebagai sumber energi, maka jadilah film The Matrix. Contoh lain: apa jadinya jika seseorang jatuh cinta dengan orang lain yang hidup di rentang waktu yang berbeda. Contoh lain lagi: apa jadinya jika ada orang yang bisa menemukan mesin waktu.

Bayangkan hidup keseharian kita.Apa jadinya jika sesuatu yang fantastis hadir dalam hidup kita? Maksudnya tidak melulu harus fantasi atau fiksi ilmiah, bisa juga tentang pergerakan sosial yang belum pernah dicoba di sejarah dunia kita. Apa jadinya jika seorang laki-laki jatuh cinta pada operating system? Apa jadinya jika ada seseorang yang begitu terlatih hingga bisa menghancurkan satu pleton grup militer, atau seluruh keluarga mafia?

Kita bisa juga membayangkan apa jadinya jika konsep berbohong tidak pernah ada dalam kemanusiaan, atau apa jadinya jika manusia tidak pernah menemukan listrik. Kita juga bisa membayangkan apa jadinya jika seorang pemimpin memimpin satu dunia seutuhnya. Rasa takut dalam membayangkan “apa jadinya jika” akan memunculkan sebuah cerita horor yang menarik. Mengandaikan konsep hidup yang berbeda dari yang seharusnya bisa menghadirkan cerita yang menarik dan tidak terpikirkan oleh banyak orang.

Anda juga bisa mencoba berada di keramaian, dan memperhatikan orang lain. Bayangkan orang yang Anda perhatikan tersebut punya kisah. Ide juga bisa berasal dari pengalaman diri sendiri atau orang lain.

Tak jarang ide juga berasal dari alam bawah sadar. Saat Anda bermimpi, Anda dalam keadaan setengah sadar, Anda dalam pengaruh obat. Tambahkan formulasi “What if” dalam hal yang observasi tersebut.

Contoh: Anda berada di halte bis, kemudian ada seorang gadis yang menarik perhatian Anda. Dia menggunakan sepatu boots, memakai jins, jaket kulit, dandanan gothic, tato. Kemudian, percikkan pertanyaan-pertanyaan “what if (bagaimana jika)”.
- What if she’s an alien?
- Bagaimana jika dia adalah pembunuh berantai?
- Bagaimana jika dia adalah seorang relawan dengan 40 adik asuh?
- Bagaimana jika dia hafal Al Qur’an?
- What if she’s a super hero who fight crimes during our sleep?
- What if ....
- Bagaimana jika ....


Sumber: Buku Menulis Cerita Film Pendek: Sebuah Modul Workshop Penulisan Skenario Tingkat Dasar. Pusat Pengembangan Perfilman Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. 2017. Tim Penyusun: Perdana Kartawiyudha (koordinator); Baskoro Adi Wuryanto; Damas Cendekia; Melody Muchransyah; Rahabi Mandra.
Baca Lengkap....

Pengenalan Film Bagian 2

Pengenalan Film Bagian 2

oleh Rahabi Mandra

1. Film Independen
Bila semua hal yang telah dibahas pada Pengenalan Film (Part 1) rasanya terlalu rumit, mungkin bisa dimulai dengan membuat film independen. Pembuatan film independen, atau independent filmmaking, adalah proses pembuatan film yang tidak menggunakan pakem-pakem mainstream di atas. Karena keterbatasan atau kebutuhan tertentu, pembuat film memutuskan untuk memproduksi dengan caranya sendiri. Hal ini bisa dilakukan mengingat perkembangan teknologi yang ada sekarang memungkinkan seseorang untuk syuting dan mengedit film mereka sendiri, merekam dan mengedit suara, membuat musik, dan mematangkan film menggunakan komputer rumah.

Walau proses produksi sudah demikian mudah dicapai, masih ada tahap-tahap yang tetap memiliki tantangan tersendiri bila tidak menyesuaikan dengan sistem yang ada, di antaranya adalah tahap pencarian modal, distribusi, dan pemasaran. Dulu, para pembuat film independen mengandalkan tahapan ini pada festival film (seperti Sundance, Venice, Berlin, Cannes, dan Toronto) agar film mereka dilirik dan bisa dijual ke distributor dan produser. Sekarang ini internet sudah memberikan jalan bagi pembuat film independen untuk mendistribusikan film mereka menggunakan platform-platform dengan biaya murah atau tanpa biaya sama sekali. Pembuat film skala besar, pembuat film independen, studio besar, rumah produksi kecil, semua berbaur di sana. Semua pihak punya kesempatan yang sama untuk menjual atau menayangkan film mereka. Tidak menutup kemungkinan pada sebuah platform penayangan kita bisa melihat satu film layar lebar berbiaya besar dari California bersanding dengan satu film independen berbiaya murah dari Tegal.

Dengan distribusi film melalui internet, pembuat film independen yang tidak memiliki akses kepada distributor, kini memiliki kemampuan untuk meraih penonton global.

2. Sikap pembuat film sebagai individu dan sebagai bagian dalam tim
Orang-orang biasanya plin-plan, angin-anginan, dan sulit diprediksi jika sudah berhadapan dengan situasi yang genting sebagaimana biasa terjadi di set syuting. Seorang sutradara harus bisa menjaga emosi dan kondisinya walaupun pemodal bersila tangan di belakang monitor meminta ini itu, produser meminta scene tambahan karena dirasa penting untuk penjualan, dan aktor yang tidak mau memakai kostum karena ia rasa tidak sesuai perannya. Seorang sutradara (dan produser) yang baik harus bisa berkepala dingin dan menentukan langkah terbaik untuk mendekati kru, aktor, dan pemodal agar bisa mencapai visi yang diinginkan dalam film itu.

Ini bukan hal yang mudah. Mau tidak mau harus diakui bahwa seorang sutradara harus bisa memanipulasi, atau dalam istilah yang lebih positif, mampu bernegosiasi.Keahlian yang harus dimiliki untuk menguasai kemampuan ini sebenarnya bukan kepekaan terhadap estetika, tetapi keahlian berkomunikasi secara efektif bahkan pada saat situasi buruk. Seorang sutradara yang baik harus pintar berbicara, namun lebih penting lagi harus pandai mendengarkan.

Kemampuan mendengarkan wajib dimiliki untuk pekerjaan apapun yang menuntut adanya komunikasi, termasuk berjualan. Sutradara menjual konsep, menjual ide. Penjualan adalah mendengarkan. Penjual yang hebat tidak hanya mendengarkan kata-kata; ia mendengarkan momen-momen diam, bahasa tubuh, hal-hal yang tidak diucapkan, bunyi gesekan tangan, ketukan kaki, gemeretak gigi. Seorang sutradara harus bisa mendengarkan agar memahami apa yang sebenarnya diinginkan produser dan pemodal. Lalu ia harus mengerti apa yang harus dikatakan dan bagaimana cara menyampaikan keinginan itu.

Hal ini tidak hanya berlaku pada sutradara atau produser. Seorang penulis skenario, desainer produksi, director of photography, editor, penata musik, dan posisi-posisi penting lainnya juga dituntut memiliki keahlian berkomunikasi. Karena pada dasarnya pembuatan film adalah kerja sama tim.

Berikut adalah beberapa pedoman yang bisa dipertimbangkan ketika kita mengambil peran dalam sebuah produksi, di tahap apapun:
  1. Gunakan intuisi. Ketika mempekerjakan kru atau memilih proyek ini atau itu dari investor ini atau itu, lakukan riset sebelumnya. Setelah itu, pertimbangkan dengan matang, dan dengarkan diri sendiri. Jika rasanya tidak tepat atau tidak cocok, cari yang lain. Setelah memahami seluk-beluk film, kita akan memahami bahwa beberapa keputusan tidak bisa diambil hanya dengan logika saja. Kadang-kadang menggunakan intuisi lebih bermanfaat pada akhirnya. Lebih baik menunggu investor yang tepat dua bulan lagi ketimbang bekerja sama dengan investor yang salah dan harus terima nasib untuk waktu yang lama.
  2. Pilih orang yang memiliki keahlian/perspektif yang berbeda. Semua orang terlahir dengan bakat dan keahlian yang berbedabeda; pandai di satu hal, buruk di hal lain. Jika kita bekerja dengan orang yang memiliki perspektif berbeda, suatu masalah dapat langsung dilihat dari berbagai sudut pandang, dan bisa diselesaikan melalui banyak pilihan. Keberadaan orang-orang dengan keahlian yang berbeda di dalam tim juga akan memperkuat tim tersebut. Semakin banyak keahlian, semakin banyak senjata untuk menyelesaikan masalah secara kreatif.
  3. Tetap kalem, tetap adem. Jika sedang ada di tengah-tengah meeting dan suasana memanas, mundur selangkah dari perdebatan dan biarkan diskusi berlangsung supaya kita bias merasakan apa yang sebenarnya terjadi, dan mengapa situasi memanas. Yang penting adalah semua permasalahan harus terlihat dengan jelas agar bisa dipadamkan, dan hal ini hanya bisa dilakukan dengan kepala dingin.
  4. Jangan bawa-bawa perasaan. Perasaan memang baik adanya dibawa-bawa dalam berpacaran, tapi tidak demikian halnya dalam bekerja.Kalau ada yang membuat kesal, biarkan lewat, tunggu rasa kesal berlalu, kemudian segera bergerak dan menyelesaikan masalah secara obyektif. Diingat saja bahwa kebanyakan orang melakukan sesuatu tidak ditujukan kepada orang lain, tetapi untuk kemaslahatan diri sendiri.
  5. Perkuat pasukan. Masalah-masalah akan datang dan tidak bisa dihindari. Harus dihadapi. Ketimbang menegur tim, coba cari cara untuk memperkuat mereka. Jika mereka melakukan sesuatu yang tidak kita sukai, coba pikirkan apa yang sebenarnya kita inginkan dari mereka; lalu beri mereka tugas yang kita tahu mereka akan bisa selesaikan. Ketika tugas selesai dikerjakan, jangan lupa untuk memuji dan berterimakasih. Kadang-kadang orang lupa kekuatan apresiasi dan terima kasih.
  6. Beri pertanyaan. Ketika suatu permasalahan muncul dan kita ingin membuka pembicaraan dengan kru, mulai dengan pertanyaan. Pertanyaan yang dilontarkan jangan bersifat menuduh, dan biarkan mereka membawa kita pada akar permasalahan. Jangan bergerak berdasarkan asumsi sampai semua masalah terang benderang.
  7. Memahami perbedaan karakter setiap orang. Kita harus bisa menyesuaikan diri dengan rekan kerja kita, agar tugas bisa segera selesai. Ada beberapa orang yang perlu tuntunan dan arahan lebih. Ada beberapa orang yang cukup dijelaskan dengan kata-kata. Ada beberapa orang yang perlu didorong dan diberi motivasi. Ada juga yang sangat sensitif dan jika didiamkan malah dapat menyelesaikan pekerjaan dengan lebih baik. Ada yang tidak bisa menjelaskan dengan baik, sehingga membutuhkan waktu. Kita harus bisa merespon pada setiap orang dengan caracara yang pada akhirnya membuat aktivitas jadi produktif.
  8. Tetapkan target yang realistis. Tidak ada orang yang suka kegagalan. Jika kita membuat keputusan yang mempengaruhi tim, buat agar mereka juga merasa dilibatkan dalam pengambilan keputusan tersebut. Coba untuk membuat target bersama-sama, atau menentukan target dan menanyakan pada tim apakah target tersebut dapat dilaksanakan. Libatkan mereka ke dalam strategi kita supaya mereka merasa menjadi bagian dari rencana kita. Ketika target sudah ditentukan, jalani dengan penuh keyakinan sampai tujuan. Sedikit saja keraguan muncul dari kita, maka semangat tim pasti langsung goyah.
  9. Jujur dan baik hati. Tidak ada kata yang lebih tepat daripada kata-kata klise dalam pelajaran moral ini.Kebaikan hati dan kejujuran seringkali tidak lagi dianggap sekarang ini. Belakangan ini pendekatan yang lebih keras, seperti suara lantang, menjadi penuntut, dan tanpa kompromi, nampaknya adalah cara yang efektif untuk mendapatkan hasil yang terbaik dari seseorang. Belum tentu. Orang-orang akan merespon kejujuran dan kebaikan hati dengan cara yang positif. Melatih cara berbicara kepada tim dengan keterbukaan dan perhatian akan mendapatkan hasil yang lebih produktif, bahkan dalam situasi yang buruk sekali pun.
  10. Tanya apa yang dibutuhkan oleh tim. Pada saat melakukan wawancara, coba untuk tanyakan kepada calon kru atau pemain apa kira-kira yang dibutuhkannya agar pekerjaan dapat diselesaikan dengan baik. Dengan menanyakan pertanyaan ini akan menunjukkan bahwa kita peduli dan ingin tahu betul potensi yang mereka miliki. Dengan demikian, setelah mereka menyatakan hal-hal yang dapat membangkitkan semangat mereka untuk bekerja, mereka juga akan terdorong untuk melakukan yang terbaik untuk proyek kita.


Sumber: Buku Menulis Cerita Film Pendek: Sebuah Modul Workshop Penulisan Skenario Tingkat Dasar. Pusat Pengembangan Perfilman Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. 2017.
Tim Penyusun: Perdana Kartawiyudha (koordinator); Baskoro Adi Wuryanto; Damas Cendekia; Melody Muchransyah; Rahabi Mandra.
Baca Lengkap....

Pengenalan Film (part 1)

Pengenalan Film (part 1)

oleh Rahabi Mandra

a. Film, sinema, movie, moving pictures
Kata “film” sudah ada sejak sekitar tahun 1600-an—bahasa Inggris lama—yaitu filmen, artinya lapisan, atau kulit, atau membran. Baru pada tahun 1845 mencuat teknologi fotografi, dan makna film menjadi lapisan gel kimia yang dipakai pada plat fotografi. Tahun 1895, pita seluloid untuk merekam gambar disebut film (lapisan berikut kertasnya). Baru pada tahun 1920, para penggiat perekam gambar merasa bahwa gambar bergerak yang mereka buat bukan lagi sekadar rekaman, melainkan suatu bentuk karya, suatu ciptaan seni. Maka makna film bergeser, cukup jauh, dari sekadar lapisan, menjadi suatu bentuk seni.

Sebuah film, pada dasarnya adalah serangkaian gambar diam yang jika ditampilkan bergantian secara berkesinambungan, menciptakan ilusi gerak. Ilusi optik ini disebut juga fenomena phi. Penyebabnya adalah kinerja mata dan otak manusia yang disebut persistence of vision, menyimpan persepsi imaji yang dilihat sebelumnya dan membawanya ke imaji berikut. Contoh mudah menjelaskan ini adalah dengan menggunakan mainan thaumatrope. Satu sisi adalah sangkar kosong, sisi lain adalah seekor burung. Bila mainan itu diputar dan kedua imaji tersebut dipertontonkan pada mata secara bergantian secara berkesinambungan secara cepat, maka akan tercipta ilusi bahwa burung ada di dalam sangkar.

Ini adalah dasar dari film atau gambar bergerak. Dari dasar ini maka secara etimologi muncul istilah moving pictures (gambar bergerak), yang lalu dipendekkan menjadi movie sebagai istilah tidak baku. Istilah sinema berasal dari bahasa Perancis cinéma, yang merupakan kependekan dari cinématographe, istilah yang dilontarkan penciptanya, Lumiere bersaudara.Asal kata ini berasal dari bahasa Yunani κίνημα (kinima), yang berarti gerakan, dari kata kerja κινώ (kino), yang berarti gerak.

Istilah-istilah ini perlahan mengalami pergeseran makna. Sinema sering dimaknai sebagai industri film atau sebagai seni pembuatan film. Makna sinema yang beredar sekarang cenderung ke arah pembuatan film sebagai karya, sebuah bentuk seni untuk menyimulasikan pengalaman-pengalaman dan mengomunikasikan ide, cerita, persepsi, perasaan, keindahan, atau atmosfer dengan menggunakan rangkaian gambar bergerak yang sudah terekam atau terprogram, termasuk di dalamnya rangsangan-rangsangan sensori lainnya.

Di luar negeri, makna movie, moving pictures, atau motion pictures, sebenarnya tidak lebih dari tontonan yang mengarah ke hiburan. Sementara istilah film atau sinema sering dimaknai lebih dari sekadar tontonan; lebih mengarah ke seni dan karya. Film-film “serius” untuk festival jarang memberi label movie pada karya mereka. Mereka lebih memilih istilah film.

Dalam bahasa Indonesia kita hanya menggunakan istilah film saja (atau pelem) untuk mendefinisikan gambar bergerak, baik itu tontonan yang menghibur, atau karya seni. Hanya sedikit kalangan pendidikan dan penggiat film yang memilih menggunakan kata sinema.

b. Kekuatan film sekarang ini
Proses pembuatan film berpijak pada ranah seni dan ranah industri. Sebuah film dibuat dengan merekam gambar dari kejadian aktual menggunakan kamera gambar bergerak; dengan merekam gambar-gambar, coretan, model-model miniatur, menggunakan teknik animasi tradisional; menggunakan teknik CGI (computer-generated imagery) dan animasi komputer; atau dengan mengombinasikan sebagian atau semua teknik ini serta penggunaan efek visual lainnya.

Film adalah artefak budaya yang dibuat oleh budaya tertentu. Film merefleksikan budaya tersebut, sekaligus mempengaruhinya. Film “Ada Apa Dengan Cinta” merupakan refleksi dari cara hidup anak SMA pada suatu masa, tentang seorang siswi supel dan kisah cintanya dengan siswa pendiam yang suka menyendiri. Siswa ini suka baca buku “Aku” karya Chairil Anwar, dan setelah film ditayangkan, berbondong-bondonglah para penonton mencari buku itu dan membacanya. Film menjadi cerminan cara hidup suatu masyarakat, sekaligus mempengaruhinya.

Dengan memahami hal ini, maka film bisa dianggap sebagai bentuk seni yang penting, sumber hiburan yang populer, dan medium yang sangat kuat untuk mendidik — atau mendoktrin — masyarakat. Basis visual dan audio dalam film memberinya kekuatan komunikasi secara universal, karena pada dasarnya semua manusia berkomunikasi dengan melihat dan mendengar. Beberapa film telah menjadi populer di seluruh dunia dengan menggunakan terjemahan suara atau teks, menjadi bahasa pemirsa yang dituju.

c. Tahapan kerja dalam film
Pembuatan film memiliki lima tahapan besar:
Development (Pengembangan) — tahap pertama ketika ide-ide untuk film dibuat, hak cipta terhadap novel atau pertunjukan dibeli, serta ketika skenario dibuat. Pencarian dana dilakukan pada tahap ini dan diselesaikan.
Pra-produksi — persiapan untuk syuting dilakukan di tahap ini. Kru dan pemain ditentukan, lokasi syuting dipilih dan dikunci, semua set dibangun.
Produksi — semua elemen-elemen mentah (gambar, suara, efek visual) dari film direkam selama proses syuting.
Pasca-produksi — Gambar, suara, efek visual, dan semua elemen yang sudah direkam diedit dan dimatangkan di tahap ini.
Distribusi — Hasil akhir film didistribusikan dan ditayangkan di bioskop, festival, atau tempat-tempat penayangan lainnya.

Development
Pada tahap ini, produser dari proyek film memilih cerita, bisa datang dari buku, pertunjukan teater, dari film lain, dari kisah nyata, video game, komik, novel grafik, ide original, dan lain-lain. Setelah menentukan tema atau mengembangkan pesan yang ingin disampaikan, produser bekerja dengan penulis skenario untuk menyiapkan sinopsis. Selanjutnya, mereka membuat outline atau kerangka untuk menjabarkan cerita menjadi adegan-adegan dan fokus pada pembentukan struktur dramatik. Salah satu cara lain (yang biasa dilakukan di animasi) untuk mengembangkan sinopsis menjadi skenario adalah melalui pembuatan treatment, biasanya 25-30 halaman berisi deskripsi cerita, mood, dan karakter. Biasanya hanya sedikit sekali dialog dan pengarahan adegan, dan berisi gambar-gambar untuk mempermudah visualisasi adegan-adegan penting.

Selanjutnya, seorang penulis skenario menulis skenario selama beberapa bulan. Penulis skenario bisa melakukan rewrite beberapa kali untuk mengembangkan dramatisasi, kejelasan tulisan, struktur, karakter, dialog, dan keseluruhan style cerita. Kadang-kadang produser melewati proses perbaikan yang dilakukan penulis skenario, dan memasukkan skenario yang sudah dimiliki ke dalam proses script coverage; produser membawa skenario kepada investor, studio, production house lain, dan pihak-pihak terkait yang berminat untuk menilai (dan memperbaiki) skenario tersebut. Produser akan memiliki catatan-catatan menyeluruh terhadap skenario, untuk kemudian bisa diperbaiki oleh penulis skenario, script doctor, atau oleh penulis skenario lain.

Distributor film sudah bisa dihubungi pada tahap ini, agar mereka bisa menilai di pasar seperti apa film ini bisa dijual, dan menilai potensi suksesnya film ini secara finansial. Distributor-distributor Hollywood mengadopsi pendekatan bisnis yang keras dan menganggap penting faktor-faktor seperti genre film, target penonton, kesuksesan film-film yang mirip yang pernah dibuat sebelumnya, aktor-aktor yang bisa muncul di film, serta sutradara-sutradara potensial. Semua faktor ini dapat memberi gambaran sebuah film dapat memiliki sekian calon penonton. Tidak semua film meraih keuntungan dari penayangan di bioskop saja, jadi perusahaan-perusahaan film akan mempertimbangkan kemungkinan pemasukan lain lewat penjualan DVD, penayangan di televisi, serta bentuk distribusi lain.

Produser dan penulis skenario mempersiapkan proposal film, atau treatment, dan mempresentasikannya pada calon pendana. Mereka juga mempresentasikan film pada aktor dan sutradara untuk “mengikat” mereka pada proyek ini. Ada juga proyek yang sudah melibatkan sutradara sejak tahap pembuatan cerita.

Tahap pencarian dana dan dukungan ini tidak mudah. Banyak proyek yang gagal melewati tahap ini. Bila presentasi berhasil, film menerima “lampu hijau,” artinya proyek tersebut sudah dapat dukungan finansial: dari production house atau studio besar, investor independen, atau kumpulan/asosiasi/penggiat film. Setelah semua pihak bertemu dan kesepakatan disetujui, film berlanjut ke tahap pra-produksi. Sampai titik ini, sebuah film sudah seharusnya memiliki strategi pemasaran dan target penonton yang jelas.

Tahap development untuk film-film animasi berbeda sedikit, karena biasanya sutradara yang mengembangkan dan mempresentasikan cerita kepada produser eksekutif berdasarkan storyboard yang masih kasar. Untuk animasi, jarang sekali ditemukan skenario penuh pada tahap ini. Jika film animasi dapat lampu hijau untuk tahap selanjutnya, maka penulis skenario baru dilibatkan untuk mempersiapkan skenario.

Pra-Produksi
Pada tahap pra-produksi, setiap langkah konkrit dalam membuat film benar-benar didesain dan direncanakan dengan matang. Perusahaan didirikan dan kantor produksi dibangun. Konsep film dibayangkan dan diprevisualisasikan oleh sutradara, dan bisa dibuatkan storyboard dengan bantuan ilustrator dan storyboard artist. Anggaran produksi dibuat untuk memperkirakan biaya pengeluaran. Untuk produksi besar, biasanya akan memperhitungkan asuransi untuk perlindungan terhadap kecelakaan.

Di tahap ini, produser juga mempekerjakan kru. Kebutuhan cerita dan biaya akan menentukan jumlah dan jenis kru yang terlibat selama pembuatan film. Banyak sekali film terkenal hollywood yang mempekerjakan ratusan kru plus pemain, sementara film independen beranggaran rendah memiliki delapan kru saja (atau bahkan kurang).

Berikut beberapa posisi kru yang biasa hadir dalam sebuah produksi:
Storyboard artist: membuat gambar-gambar untuk membantu sutradara dan desainer produksi mengomunikasikan ide mereka kepada tim produksi.

Sutradara: tanggung jawab terbesarnya adalah penceritaan, keputusan-keputusan kreatif, dan kualitas akting yang ada dalam film.

Asisten sutradara (astrada): tugas umumnya adalah mengelola jadwal syuting dan logistik produksi, di antara banyaknya tugas yang lain. Ada berbagai macam astrada, dan masing-masing memiliki tanggung jawab yang berbeda, sesuai pembagian tugas secara khusus.

Manajer produksi: mengelola anggaran produksi dan jadwal produksi. Manajer produksi juga bisa memberikan laporan — atas nama produser, perusahaan atau rumah produksi — kepada para eksekutif dan pemodal.

Manajer lokasi: menemukan dan mengelola lokasi-lokasi syuting. Lokasi syuting bisa di dalam sebuah studio dengan lingkungan yang bisa dikontrol, atau langsung di lokasi, misalnya pasar, gunung, atau laut.

Desainer produksi: menciptakan konsep visual film, bekerja sama dengan penata artistik.

Penata artistik: mengelola departemen artistik, yaitu membangun atau menata set.

Desainer kostum: membuat dan mengelola pakaian untuk semua karakter dalam film.

Penata rambut dan make up: bekerja sama dengan desainer kostum untuk menciptakan tampilan tertentu untuk sebuah karakter.

Casting director: menemukan aktor yang tepat untuk mengisi peran-peran dalam skenario. Untuk ini biasanya seorang casting director akan melakukan audisi.

Koreografer: membuat dan mengoordinasikan gerak dan tari — biasanya untuk film musikal. Bisa juga ditemukan kredit koreografer laga (fight choreographer) untuk film action/laga.

Director of photography (DoP/DP): adalah seseorang yang memimpin dan menjaga kualitas fotografi dari keseluruhan film, termasuk di dalamnya kualitas gambar, pencahayaan, dan gerak kamera.

Sound recordist: adalah seorang kepala departemen suara selama tahap produksi, bertanggungjawab merekam dan melakukan mixing suara di set—biasanya dialog dan efek suara direkam dalam mono, dan ambiens dalam stereo. Mereka bekerja dengan operator boom.

Sound designer: menciptakan konsep aural dalam film. Dalam beberapa produksi, seorang sound designer kadang disebut sebagai director of audiography.

Music Composer: menciptakan musik untuk film (biasanya baru dimulai pada tahap pasca produksi).

Produksi
Dalam tahap produksi, pengambilan gambar, suara, dan elemen mentah lainnya dilakukan. Kru akan lebih banyak dipekerjakan di sini, seperti property master, script continuity report/script supervisor, asisten sutradara, fotografer still, on location editor, dan sebagainya. Ini hanya sebagian peran yang biasa muncul dalam pembuatan film; sebuah rumah produksi memiliki kebebasan untuk mengombinasikan, menyatukan, atau memilah peran-peran para kru sesuai dengan kebutuhan produksi.

Bayangkan suatu hari syuting dimulai. Biasanya kita akan melihat kru tiba di set/lokasi sesuai dengan call time yang ditetapkan. Para kru di Indonesia biasa menyebutnya kolingan (callingan). Para aktor biasanya punya waktu kolingan yang berbeda. Konstruksi set, penataan set, dan penataan cahaya biasanya memakan waktu berjam-jam atau bahkan berhari-hari, sehingga biasanya dilakukan jauh sebelum syuting dimulai.

Grip (tim yang bertanggung jawab dalam mengoperasikan alat pendukung kamera seperti crane, dolly, stabilizer, dan sebagainya), gaffer (chief lighting) dan tim lighting, dan kru desain produksi biasanya akan mengerjakan satu langkah di depan departemen kamera dan suara; agar efisien, mereka akan mempersiapkan scene berikutnya sementara departemen lain melakukan perekaman.

Pada saat kru mempersiapkan alat-alat, para pemeran akan dipakaikan kostum dan didandani oleh departemen kostum, tata rambut dan make-up. Para pemeran melatih script dan blocking (posisi pemain dalam kaitannya dengan posisi kamera) bersama sutradara. Tim kamera dan suara akan ikut berlatih bersama mereka sambil melakukan penyesuaian. Pada akhirnya, adegan akan direkam, kemungkinan besar berulang-ulang, sebanyak yang dibutuhkan sutradara. Pada umumnya, berikut adalah prosedur yang biasa terjadi pada saat pengambilan gambar:

Asisten sutradara akan menyerukan “set clear!” atau “stand by!” atau “picture is up!” untuk memberitahu semua orang bahwa pengambilan gambar akan dilakukan, dilanjutkan dengan “tenang semua!” atau “quiet, everyone!” Setelah semua kru siap untuk merekam, astrada akan menyerukan “sound” atau “roll sound” (jika perekaman melibatkan suara), dan sound recordist akan merekam suara sambil menyerukan “sound speed,” “sound roll,” atau “roll” saja. Clapper (orang yang memegang clap di depan kamera), akan menyebutkan nomor scene, nomor shot, dan nomor take. Astrada lanjut memanggil “kamera” dan dijawab “speed!” oleh operator kamera persis setelah kamera mulai merekam. Kamera operator juga bisa mengganti jawaban itu dengan perintah “mark it!” kepada clapper. Clapper segera menutup clap dan mencari posisi aman agar tidak terekam. Jika adegan melibatkan figuran/extras dan akting pada background, astrada akan memberi kode pada mereka “background action!” Terakhir adalah sutradara (atau kadang-kadang astrada, jika dibutuhkan) yang memerintahkan “action!” kepada pemeran utama.

Sebuah take akan selesai ketika sutradara menyerukan “cut!” dan kamera serta suara akan berhenti merekam. Seorang script continuity report/script supervisor akan mencatat segala hal yang bersangkutan dengan kesinambungan adegan, sementara tim suara dan kamera akan membuat catatan teknis tentang take tersebut di lembaran laporan masing-masing. Jika sutradara memutuskan melakukan take lagi, maka seluruh proses akan diulang. Setelah puas, kru akan bergeser ke posisi atau “setup” kamera berikutnya dan merekam lagi, terus saja sampai scene tersebut tercakup semua. Setelah syuting scene tersebut selesai, astrada akan menyerukan “bungkus” atau “wrap” atau “moving on” atau “next scene.” Setiap kru yang bersangkutan akan membereskan scene tersebut dan pindah ke scene berikutnya, atau selesai.

Pada akhirnya, sutradara akan mengesahkan jadwal syuting hari berikutnya, dan laporan progres harian (daily progress report) akan dikirim ke rumah produksi. Di dalam laporan ini termasuk juga laporan continuity, suara, dan tim kamera. Setiap kru dan pemain akan menerima call sheet yang akan memberitahukan mereka kapan dan di mana mereka harus berada pada esok harinya. Setelah itu, sutradara, produser, kepala departemen, dan kadang-kadang pemain, bisa berkumpul bersama dan menyaksikan footage (bahan rekam, disebut juga dailies) yang diambil pada hari itu, dan mengulas hasil kerja mereka.

Jam kerja dalam satu hari syuting berkisar antara 14 sampai 18 jam, berbarengan terus dalam satu lokasi. Bentuk kerja seperti ini biasanya membangun semangat dan solidaritas setiap orang yang terlibat di dalamnya. Maka ketika syuting selesai, biasanya rumah produksi akan mengadakan wrap party, untuk berterimakasih pada kru dan pemain atas usaha mereka.

Untuk produksi live-action (adegan nyata, bukan adegan berbasis CGI), salah satu tantangannya adalah menyelaraskan jadwal kerja dari pemain utama dan para kru, karena pada setiap scene yang akan direkam, mereka dituntut hadir di waktu dan tempat yang sama. Film animasi memiliki alur kerja yang berbeda; para pengisi suara bisa merekam suara mereka di studio rekam pada waktu yang berbeda dan baru bertemu satu sama lain pada saat penayangan perdana; pembuat gerak rambut dan pembuat tekstur kulit pada suatu karakter bisa tidak bertemu sama sekali.

Pasca-produksi
Pada tahap ini, materi mentah syuting “dimasak” kembali oleh editor. Bayangkan sebuah dapur dan seorang koki, bahan masakan terbaik sudah dipetik, tinggal diracik hingga matang. Editor memilah shot dan membangun lagi adegan-adegan. Tidak menutup kemungkinan bahwa struktur penceritaan yang ada di skenario bisa berubah total setelah masuk ruang editing. Adegan di menit 60 bisa saja dipindahkan ke awal film, dan adegan ending bisa diletakkan di tengah-tengah, dan sangat memungkinkan menjadikan film itu memiliki struktur yang lebih baik.

Desain suara juga dilakukan di tahap ini. Dialog-dialog diedit dan dikembangkan kualitasnya; musik dan lagu dibuat dan diaransemen (jika film tersebut memiliki konsep memakai music score); efek suara didesain dan direkam, termasuk di dalamnya penambahan suara langkah, suara pintu, suara ledakan, suara napas, dan lain sebagainya. Penambahan suara ini bisa dibuat kembali di dalam studio, dikenal dengan istilah foley, atau bisa membeli atau memanfaatkan suara yang sudah ada di sound library.

Lalu visual efek berbasis komputer grafik juga dilakukan di tahap ini, seperti menambahkan efek darah, pecahan kaca pada mobil, menggeser posisi bulan, menambah awan dan pepohonan pada sebuah scene pemandangan, memperbanyak jumlah manusia pada stadion, dan lain sebagainya. Setelah semua gambar lengkap, film akan diwarnai kembali oleh colorist sesuai dengan look yang diharapkan. Warna antar shot diselaraskan (karena biasanya shot satu dan shot lain memiliki komposisi warna yang beda, atau sering disebut belang). Biasanya film-film horor akan memanfaatkan warna-warna dingin, sementara film drama romantis akan menggunakan warna-warna hangat.

Akhirnya, ketika semua elemen visual selesai dimasak, dan semua elemen suara selesai dibuat, maka semuanya akan disatukan, dan film selesai dibuat.

Distribusi
Distribusi adalah tahap akhir. Di industri film di luar ada peran distributor yang bekerja mendistribusikan film. Di Indonesia, biasanya produser sendiri yang melakukan distribusi. Film yang sudah dibuat dirilis ke bioskop, ke festival, atau bisa juga langsung ke konsumen melalui media DVD, VCD, Blu-ray, atau unduh langsung dari provider media digital. Film akan diduplikasi sesuai kebutuhan (ke pita film atau ke hard drive) dan didistribusikan ke bioskop untuk ditayangkan. Produser atau distributor akan mempublikasikan poster, flyer, press kit, trailer film, dan materi pemasaran lainnya untuk mempromosikan film. Tidak menutup kemungkinan bagi produser atau distributor untuk merilis materi mentah film kepada kalangan tertutup (pers dan wartawan) ditambah rekaman dokumentasi di balik layar, untuk memperkuat promosi.

Distributor film biasanya merilis film dengan mengadakan launch party, premiere beserta red-carpet, press release, wawancara dengan wartawan, preview bersama pers, dan penayangan pada festival film. Banyak film yang berpromosi menggunakan website tersendiri, terpisah dari website milik production house atau milik distributor. Untuk film-film skala besar, pemain dan kru penting biasanya dikontrak untuk berpartisipasi mempromosikan film melalui tur. Mereka diminta hadir ke festival dan penayangan perdana, diwawancarai oleh televisi, radio, jurnalis cetak dan online. Film tertentu mungkin saja melakukan tur lebih dari satu kali, untuk memunculkan kembali permintaan pasar terhadap film tersebut selama jangka waktu tayang berlangsung.

Urutan penayangan biasanya memiliki pola tertentu. Awalnya sebuah film akan ditayangkan di bioskop-bioskop terpilih, atau apabila gaungnya sudah terdengar luas, bisa langsung ditayangkan secara luas dan bersamaan di seluruh bioskop. Beberapa minggu atau beberapa bulan setelah penayangan, film biasanya dirilis ke segmen pasar yang berbeda melalui rental film, retail (DVD, Blu-ray), pay-per-view, in-flight entertainment, televisi kabel, satelit, atau televisi lokal dan nasional (free-to-air). Hak distribusi juga bisa diperjualbelikan dengan distributor luar negeri untuk mencakup pasar internasional. Distributor dan rumah produksi akan berbagi keuntungan.


Sumber: Buku Menulis Cerita Film Pendek: Sebuah Modul Workshop Penulisan Skenario Tingkat Dasar. Pusat Pengembangan Perfilman Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. 2017.
Tim Penyusun: Perdana Kartawiyudha (koordinator); Baskoro Adi Wuryanto; Damas Cendekia; Melody Muchransyah; Rahabi Mandra.
Baca Lengkap....