Pengenalan Film (part 1)

Film Pendek 01

 oleh Rahabi Mandra

a. Film, sinema, movie, moving pictures
Kata “film” sudah ada sejak sekitar tahun 1600-an—bahasa Inggris lama—yaitu filmen, artinya lapisan, atau kulit, atau membran. Baru pada tahun 1845 mencuat teknologi fotografi, dan makna film menjadi lapisan gel kimia yang dipakai pada plat fotografi. Tahun 1895, pita seluloid untuk merekam gambar disebut film (lapisan berikut kertasnya). Baru pada tahun 1920, para penggiat perekam gambar merasa bahwa gambar bergerak yang mereka buat bukan lagi sekadar rekaman, melainkan suatu bentuk karya, suatu ciptaan seni. Maka makna film bergeser, cukup jauh, dari sekadar lapisan, menjadi suatu bentuk seni.

Sebuah film, pada dasarnya adalah serangkaian gambar diam yang jika ditampilkan bergantian secara berkesinambungan, menciptakan ilusi gerak. Ilusi optik ini disebut juga fenomena phi. Penyebabnya adalah kinerja mata dan otak manusia yang disebut persistence of vision, menyimpan persepsi imaji yang dilihat sebelumnya dan membawanya ke imaji berikut. Contoh mudah menjelaskan ini adalah dengan menggunakan mainan thaumatrope. Satu sisi adalah sangkar kosong, sisi lain adalah seekor burung. Bila mainan itu diputar dan kedua imaji tersebut dipertontonkan pada mata secara bergantian secara berkesinambungan secara cepat, maka akan tercipta ilusi bahwa burung ada di dalam sangkar.

Ini adalah dasar dari film atau gambar bergerak. Dari dasar ini maka secara etimologi muncul istilah moving pictures (gambar bergerak), yang lalu dipendekkan menjadi movie sebagai istilah tidak baku. Istilah sinema berasal dari bahasa Perancis cinéma, yang merupakan kependekan dari cinématographe, istilah yang dilontarkan penciptanya, Lumiere bersaudara.Asal kata ini berasal dari bahasa Yunani κίνημα (kinima), yang berarti gerakan, dari kata kerja κινώ (kino), yang berarti gerak.

Istilah-istilah ini perlahan mengalami pergeseran makna. Sinema sering dimaknai sebagai industri film atau sebagai seni pembuatan film. Makna sinema yang beredar sekarang cenderung ke arah pembuatan film sebagai karya, sebuah bentuk seni untuk menyimulasikan pengalaman-pengalaman dan mengomunikasikan ide, cerita, persepsi, perasaan, keindahan, atau atmosfer dengan menggunakan rangkaian gambar bergerak yang sudah terekam atau terprogram, termasuk di dalamnya rangsangan-rangsangan sensori lainnya.

Di luar negeri, makna movie, moving pictures, atau motion pictures, sebenarnya tidak lebih dari tontonan yang mengarah ke hiburan. Sementara istilah film atau sinema sering dimaknai lebih dari sekadar tontonan; lebih mengarah ke seni dan karya. Film-film “serius” untuk festival jarang memberi label movie pada karya mereka. Mereka lebih memilih istilah film.

Dalam bahasa Indonesia kita hanya menggunakan istilah film saja (atau pelem) untuk mendefinisikan gambar bergerak, baik itu tontonan yang menghibur, atau karya seni. Hanya sedikit kalangan pendidikan dan penggiat film yang memilih menggunakan kata sinema.

b. Kekuatan film sekarang ini
Proses pembuatan film berpijak pada ranah seni dan ranah industri. Sebuah film dibuat dengan merekam gambar dari kejadian aktual menggunakan kamera gambar bergerak; dengan merekam gambar-gambar, coretan, model-model miniatur, menggunakan teknik animasi tradisional; menggunakan teknik CGI (computer-generated imagery) dan animasi komputer; atau dengan mengombinasikan sebagian atau semua teknik ini serta penggunaan efek visual lainnya.

Film adalah artefak budaya yang dibuat oleh budaya tertentu. Film merefleksikan budaya tersebut, sekaligus mempengaruhinya. Film “Ada Apa Dengan Cinta” merupakan refleksi dari cara hidup anak SMA pada suatu masa, tentang seorang siswi supel dan kisah cintanya dengan siswa pendiam yang suka menyendiri. Siswa ini suka baca buku “Aku” karya Chairil Anwar, dan setelah film ditayangkan, berbondong-bondonglah para penonton mencari buku itu dan membacanya. Film menjadi cerminan cara hidup suatu masyarakat, sekaligus mempengaruhinya.

Dengan memahami hal ini, maka film bisa dianggap sebagai bentuk seni yang penting, sumber hiburan yang populer, dan medium yang sangat kuat untuk mendidik — atau mendoktrin — masyarakat. Basis visual dan audio dalam film memberinya kekuatan komunikasi secara universal, karena pada dasarnya semua manusia berkomunikasi dengan melihat dan mendengar. Beberapa film telah menjadi populer di seluruh dunia dengan menggunakan terjemahan suara atau teks, menjadi bahasa pemirsa yang dituju.

c. Tahapan kerja dalam film
Pembuatan film memiliki lima tahapan besar:
Development (Pengembangan) — tahap pertama ketika ide-ide untuk film dibuat, hak cipta terhadap novel atau pertunjukan dibeli, serta ketika skenario dibuat. Pencarian dana dilakukan pada tahap ini dan diselesaikan.
Pra-produksi — persiapan untuk syuting dilakukan di tahap ini. Kru dan pemain ditentukan, lokasi syuting dipilih dan dikunci, semua set dibangun.
Produksi — semua elemen-elemen mentah (gambar, suara, efek visual) dari film direkam selama proses syuting.
Pasca-produksi — Gambar, suara, efek visual, dan semua elemen yang sudah direkam diedit dan dimatangkan di tahap ini.
Distribusi — Hasil akhir film didistribusikan dan ditayangkan di bioskop, festival, atau tempat-tempat penayangan lainnya.

Development
Pada tahap ini, produser dari proyek film memilih cerita, bisa datang dari buku, pertunjukan teater, dari film lain, dari kisah nyata, video game, komik, novel grafik, ide original, dan lain-lain. Setelah menentukan tema atau mengembangkan pesan yang ingin disampaikan, produser bekerja dengan penulis skenario untuk menyiapkan sinopsis. Selanjutnya, mereka membuat outline atau kerangka untuk menjabarkan cerita menjadi adegan-adegan dan fokus pada pembentukan struktur dramatik. Salah satu cara lain (yang biasa dilakukan di animasi) untuk mengembangkan sinopsis menjadi skenario adalah melalui pembuatan treatment, biasanya 25-30 halaman berisi deskripsi cerita, mood, dan karakter. Biasanya hanya sedikit sekali dialog dan pengarahan adegan, dan berisi gambar-gambar untuk mempermudah visualisasi adegan-adegan penting.

Selanjutnya, seorang penulis skenario menulis skenario selama beberapa bulan. Penulis skenario bisa melakukan rewrite beberapa kali untuk mengembangkan dramatisasi, kejelasan tulisan, struktur, karakter, dialog, dan keseluruhan style cerita. Kadang-kadang produser melewati proses perbaikan yang dilakukan penulis skenario, dan memasukkan skenario yang sudah dimiliki ke dalam proses script coverage; produser membawa skenario kepada investor, studio, production house lain, dan pihak-pihak terkait yang berminat untuk menilai (dan memperbaiki) skenario tersebut. Produser akan memiliki catatan-catatan menyeluruh terhadap skenario, untuk kemudian bisa diperbaiki oleh penulis skenario, script doctor, atau oleh penulis skenario lain.

Distributor film sudah bisa dihubungi pada tahap ini, agar mereka bisa menilai di pasar seperti apa film ini bisa dijual, dan menilai potensi suksesnya film ini secara finansial. Distributor-distributor Hollywood mengadopsi pendekatan bisnis yang keras dan menganggap penting faktor-faktor seperti genre film, target penonton, kesuksesan film-film yang mirip yang pernah dibuat sebelumnya, aktor-aktor yang bisa muncul di film, serta sutradara-sutradara potensial. Semua faktor ini dapat memberi gambaran sebuah film dapat memiliki sekian calon penonton. Tidak semua film meraih keuntungan dari penayangan di bioskop saja, jadi perusahaan-perusahaan film akan mempertimbangkan kemungkinan pemasukan lain lewat penjualan DVD, penayangan di televisi, serta bentuk distribusi lain.

Produser dan penulis skenario mempersiapkan proposal film, atau treatment, dan mempresentasikannya pada calon pendana. Mereka juga mempresentasikan film pada aktor dan sutradara untuk “mengikat” mereka pada proyek ini. Ada juga proyek yang sudah melibatkan sutradara sejak tahap pembuatan cerita.

Tahap pencarian dana dan dukungan ini tidak mudah. Banyak proyek yang gagal melewati tahap ini. Bila presentasi berhasil, film menerima “lampu hijau,” artinya proyek tersebut sudah dapat dukungan finansial: dari production house atau studio besar, investor independen, atau kumpulan/asosiasi/penggiat film. Setelah semua pihak bertemu dan kesepakatan disetujui, film berlanjut ke tahap pra-produksi. Sampai titik ini, sebuah film sudah seharusnya memiliki strategi pemasaran dan target penonton yang jelas.

Tahap development untuk film-film animasi berbeda sedikit, karena biasanya sutradara yang mengembangkan dan mempresentasikan cerita kepada produser eksekutif berdasarkan storyboard yang masih kasar. Untuk animasi, jarang sekali ditemukan skenario penuh pada tahap ini. Jika film animasi dapat lampu hijau untuk tahap selanjutnya, maka penulis skenario baru dilibatkan untuk mempersiapkan skenario.

Pra-Produksi
Pada tahap pra-produksi, setiap langkah konkrit dalam membuat film benar-benar didesain dan direncanakan dengan matang. Perusahaan didirikan dan kantor produksi dibangun. Konsep film dibayangkan dan diprevisualisasikan oleh sutradara, dan bisa dibuatkan storyboard dengan bantuan ilustrator dan storyboard artist. Anggaran produksi dibuat untuk memperkirakan biaya pengeluaran. Untuk produksi besar, biasanya akan memperhitungkan asuransi untuk perlindungan terhadap kecelakaan.

Di tahap ini, produser juga mempekerjakan kru. Kebutuhan cerita dan biaya akan menentukan jumlah dan jenis kru yang terlibat selama pembuatan film. Banyak sekali film terkenal hollywood yang mempekerjakan ratusan kru plus pemain, sementara film independen beranggaran rendah memiliki delapan kru saja (atau bahkan kurang).

Berikut beberapa posisi kru yang biasa hadir dalam sebuah produksi:
Storyboard artist: membuat gambar-gambar untuk membantu sutradara dan desainer produksi mengomunikasikan ide mereka kepada tim produksi.

Sutradara: tanggung jawab terbesarnya adalah penceritaan, keputusan-keputusan kreatif, dan kualitas akting yang ada dalam film.

Asisten sutradara (astrada): tugas umumnya adalah mengelola jadwal syuting dan logistik produksi, di antara banyaknya tugas yang lain. Ada berbagai macam astrada, dan masing-masing memiliki tanggung jawab yang berbeda, sesuai pembagian tugas secara khusus.

Manajer produksi: mengelola anggaran produksi dan jadwal produksi. Manajer produksi juga bisa memberikan laporan — atas nama produser, perusahaan atau rumah produksi — kepada para eksekutif dan pemodal.

Manajer lokasi: menemukan dan mengelola lokasi-lokasi syuting. Lokasi syuting bisa di dalam sebuah studio dengan lingkungan yang bisa dikontrol, atau langsung di lokasi, misalnya pasar, gunung, atau laut.

Desainer produksi: menciptakan konsep visual film, bekerja sama dengan penata artistik.

Penata artistik: mengelola departemen artistik, yaitu membangun atau menata set.

Desainer kostum: membuat dan mengelola pakaian untuk semua karakter dalam film.

Penata rambut dan make up: bekerja sama dengan desainer kostum untuk menciptakan tampilan tertentu untuk sebuah karakter.

Casting director: menemukan aktor yang tepat untuk mengisi peran-peran dalam skenario. Untuk ini biasanya seorang casting director akan melakukan audisi.

Koreografer: membuat dan mengoordinasikan gerak dan tari — biasanya untuk film musikal. Bisa juga ditemukan kredit koreografer laga (fight choreographer) untuk film action/laga.

Director of photography (DoP/DP): adalah seseorang yang memimpin dan menjaga kualitas fotografi dari keseluruhan film, termasuk di dalamnya kualitas gambar, pencahayaan, dan gerak kamera.

Sound recordist: adalah seorang kepala departemen suara selama tahap produksi, bertanggungjawab merekam dan melakukan mixing suara di set—biasanya dialog dan efek suara direkam dalam mono, dan ambiens dalam stereo. Mereka bekerja dengan operator boom.

Sound designer: menciptakan konsep aural dalam film. Dalam beberapa produksi, seorang sound designer kadang disebut sebagai director of audiography.

Music Composer: menciptakan musik untuk film (biasanya baru dimulai pada tahap pasca produksi).

Produksi
Dalam tahap produksi, pengambilan gambar, suara, dan elemen mentah lainnya dilakukan. Kru akan lebih banyak dipekerjakan di sini, seperti property master, script continuity report/script supervisor, asisten sutradara, fotografer still, on location editor, dan sebagainya. Ini hanya sebagian peran yang biasa muncul dalam pembuatan film; sebuah rumah produksi memiliki kebebasan untuk mengombinasikan, menyatukan, atau memilah peran-peran para kru sesuai dengan kebutuhan produksi.

Bayangkan suatu hari syuting dimulai. Biasanya kita akan melihat kru tiba di set/lokasi sesuai dengan call time yang ditetapkan. Para kru di Indonesia biasa menyebutnya kolingan (callingan). Para aktor biasanya punya waktu kolingan yang berbeda. Konstruksi set, penataan set, dan penataan cahaya biasanya memakan waktu berjam-jam atau bahkan berhari-hari, sehingga biasanya dilakukan jauh sebelum syuting dimulai.

Grip (tim yang bertanggung jawab dalam mengoperasikan alat pendukung kamera seperti crane, dolly, stabilizer, dan sebagainya), gaffer (chief lighting) dan tim lighting, dan kru desain produksi biasanya akan mengerjakan satu langkah di depan departemen kamera dan suara; agar efisien, mereka akan mempersiapkan scene berikutnya sementara departemen lain melakukan perekaman.

Pada saat kru mempersiapkan alat-alat, para pemeran akan dipakaikan kostum dan didandani oleh departemen kostum, tata rambut dan make-up. Para pemeran melatih script dan blocking (posisi pemain dalam kaitannya dengan posisi kamera) bersama sutradara. Tim kamera dan suara akan ikut berlatih bersama mereka sambil melakukan penyesuaian. Pada akhirnya, adegan akan direkam, kemungkinan besar berulang-ulang, sebanyak yang dibutuhkan sutradara. Pada umumnya, berikut adalah prosedur yang biasa terjadi pada saat pengambilan gambar:

Asisten sutradara akan menyerukan “set clear!” atau “stand by!” atau “picture is up!” untuk memberitahu semua orang bahwa pengambilan gambar akan dilakukan, dilanjutkan dengan “tenang semua!” atau “quiet, everyone!” Setelah semua kru siap untuk merekam, astrada akan menyerukan “sound” atau “roll sound” (jika perekaman melibatkan suara), dan sound recordist akan merekam suara sambil menyerukan “sound speed,” “sound roll,” atau “roll” saja. Clapper (orang yang memegang clap di depan kamera), akan menyebutkan nomor scene, nomor shot, dan nomor take. Astrada lanjut memanggil “kamera” dan dijawab “speed!” oleh operator kamera persis setelah kamera mulai merekam. Kamera operator juga bisa mengganti jawaban itu dengan perintah “mark it!” kepada clapper. Clapper segera menutup clap dan mencari posisi aman agar tidak terekam. Jika adegan melibatkan figuran/extras dan akting pada background, astrada akan memberi kode pada mereka “background action!” Terakhir adalah sutradara (atau kadang-kadang astrada, jika dibutuhkan) yang memerintahkan “action!” kepada pemeran utama.

Sebuah take akan selesai ketika sutradara menyerukan “cut!” dan kamera serta suara akan berhenti merekam. Seorang script continuity report/script supervisor akan mencatat segala hal yang bersangkutan dengan kesinambungan adegan, sementara tim suara dan kamera akan membuat catatan teknis tentang take tersebut di lembaran laporan masing-masing. Jika sutradara memutuskan melakukan take lagi, maka seluruh proses akan diulang. Setelah puas, kru akan bergeser ke posisi atau “setup” kamera berikutnya dan merekam lagi, terus saja sampai scene tersebut tercakup semua. Setelah syuting scene tersebut selesai, astrada akan menyerukan “bungkus” atau “wrap” atau “moving on” atau “next scene.” Setiap kru yang bersangkutan akan membereskan scene tersebut dan pindah ke scene berikutnya, atau selesai.

Pada akhirnya, sutradara akan mengesahkan jadwal syuting hari berikutnya, dan laporan progres harian (daily progress report) akan dikirim ke rumah produksi. Di dalam laporan ini termasuk juga laporan continuity, suara, dan tim kamera. Setiap kru dan pemain akan menerima call sheet yang akan memberitahukan mereka kapan dan di mana mereka harus berada pada esok harinya. Setelah itu, sutradara, produser, kepala departemen, dan kadang-kadang pemain, bisa berkumpul bersama dan menyaksikan footage (bahan rekam, disebut juga dailies) yang diambil pada hari itu, dan mengulas hasil kerja mereka.

Jam kerja dalam satu hari syuting berkisar antara 14 sampai 18 jam, berbarengan terus dalam satu lokasi. Bentuk kerja seperti ini biasanya membangun semangat dan solidaritas setiap orang yang terlibat di dalamnya. Maka ketika syuting selesai, biasanya rumah produksi akan mengadakan wrap party, untuk berterimakasih pada kru dan pemain atas usaha mereka.

Untuk produksi live-action (adegan nyata, bukan adegan berbasis CGI), salah satu tantangannya adalah menyelaraskan jadwal kerja dari pemain utama dan para kru, karena pada setiap scene yang akan direkam, mereka dituntut hadir di waktu dan tempat yang sama. Film animasi memiliki alur kerja yang berbeda; para pengisi suara bisa merekam suara mereka di studio rekam pada waktu yang berbeda dan baru bertemu satu sama lain pada saat penayangan perdana; pembuat gerak rambut dan pembuat tekstur kulit pada suatu karakter bisa tidak bertemu sama sekali.

Pasca-produksi
Pada tahap ini, materi mentah syuting “dimasak” kembali oleh editor. Bayangkan sebuah dapur dan seorang koki, bahan masakan terbaik sudah dipetik, tinggal diracik hingga matang. Editor memilah shot dan membangun lagi adegan-adegan. Tidak menutup kemungkinan bahwa struktur penceritaan yang ada di skenario bisa berubah total setelah masuk ruang editing. Adegan di menit 60 bisa saja dipindahkan ke awal film, dan adegan ending bisa diletakkan di tengah-tengah, dan sangat memungkinkan menjadikan film itu memiliki struktur yang lebih baik.

Desain suara juga dilakukan di tahap ini. Dialog-dialog diedit dan dikembangkan kualitasnya; musik dan lagu dibuat dan diaransemen (jika film tersebut memiliki konsep memakai music score); efek suara didesain dan direkam, termasuk di dalamnya penambahan suara langkah, suara pintu, suara ledakan, suara napas, dan lain sebagainya. Penambahan suara ini bisa dibuat kembali di dalam studio, dikenal dengan istilah foley, atau bisa membeli atau memanfaatkan suara yang sudah ada di sound library.

Lalu visual efek berbasis komputer grafik juga dilakukan di tahap ini, seperti menambahkan efek darah, pecahan kaca pada mobil, menggeser posisi bulan, menambah awan dan pepohonan pada sebuah scene pemandangan, memperbanyak jumlah manusia pada stadion, dan lain sebagainya. Setelah semua gambar lengkap, film akan diwarnai kembali oleh colorist sesuai dengan look yang diharapkan. Warna antar shot diselaraskan (karena biasanya shot satu dan shot lain memiliki komposisi warna yang beda, atau sering disebut belang). Biasanya film-film horor akan memanfaatkan warna-warna dingin, sementara film drama romantis akan menggunakan warna-warna hangat.

Akhirnya, ketika semua elemen visual selesai dimasak, dan semua elemen suara selesai dibuat, maka semuanya akan disatukan, dan film selesai dibuat.

Distribusi
Distribusi adalah tahap akhir. Di industri film di luar ada peran distributor yang bekerja mendistribusikan film. Di Indonesia, biasanya produser sendiri yang melakukan distribusi. Film yang sudah dibuat dirilis ke bioskop, ke festival, atau bisa juga langsung ke konsumen melalui media DVD, VCD, Blu-ray, atau unduh langsung dari provider media digital. Film akan diduplikasi sesuai kebutuhan (ke pita film atau ke hard drive) dan didistribusikan ke bioskop untuk ditayangkan. Produser atau distributor akan mempublikasikan poster, flyer, press kit, trailer film, dan materi pemasaran lainnya untuk mempromosikan film. Tidak menutup kemungkinan bagi produser atau distributor untuk merilis materi mentah film kepada kalangan tertutup (pers dan wartawan) ditambah rekaman dokumentasi di balik layar, untuk memperkuat promosi.

Distributor film biasanya merilis film dengan mengadakan launch party, premiere beserta red-carpet, press release, wawancara dengan wartawan, preview bersama pers, dan penayangan pada festival film. Banyak film yang berpromosi menggunakan website tersendiri, terpisah dari website milik production house atau milik distributor. Untuk film-film skala besar, pemain dan kru penting biasanya dikontrak untuk berpartisipasi mempromosikan film melalui tur. Mereka diminta hadir ke festival dan penayangan perdana, diwawancarai oleh televisi, radio, jurnalis cetak dan online. Film tertentu mungkin saja melakukan tur lebih dari satu kali, untuk memunculkan kembali permintaan pasar terhadap film tersebut selama jangka waktu tayang berlangsung.

Urutan penayangan biasanya memiliki pola tertentu. Awalnya sebuah film akan ditayangkan di bioskop-bioskop terpilih, atau apabila gaungnya sudah terdengar luas, bisa langsung ditayangkan secara luas dan bersamaan di seluruh bioskop. Beberapa minggu atau beberapa bulan setelah penayangan, film biasanya dirilis ke segmen pasar yang berbeda melalui rental film, retail (DVD, Blu-ray), pay-per-view, in-flight entertainment, televisi kabel, satelit, atau televisi lokal dan nasional (free-to-air). Hak distribusi juga bisa diperjualbelikan dengan distributor luar negeri untuk mencakup pasar internasional. Distributor dan rumah produksi akan berbagi keuntungan.


Sumber: Buku Menulis Cerita Film Pendek: Sebuah Modul Workshop Penulisan Skenario Tingkat Dasar. Pusat Pengembangan Perfilman Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. 2017.
Tim Penyusun: Perdana Kartawiyudha (koordinator); Baskoro Adi Wuryanto; Damas Cendekia; Melody Muchransyah; Rahabi Mandra.

Skripsi: Peningkatkan Kemampuan Membaca Melalui Metode Pembelajaran Membaca Kritis

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Masalah minat baca sampai saat ini masih menjadi tema yang cukup aktual. Tema ini sering dijadikan topik pertemuan ilmiah dan diskusi oleh para pemerhati dan para pakar yang peduli terhadap perkembangan minat baca di Indonesia. Namun hasil dari pertemuan-pertemuan ilmiah tersebut belum memberikan suatu rekomendasi yang tepat bagi perkembangan yang signifikan terhadap minat baca masyarakat. Permasalahan yang dirasakan oleh bangsa Indonesia sampai saat ini adalah adanya data berdasarkan temuan penelitian dan pengamatan yang menunjukkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia relatif masih sangat rendah. Ada beberapa indikator yang menunjukkan masih rendahnya minat baca masyarakat Indonesia. Rendahnya budaya membaca ini juga dirasakan pada pelajar dan mahasiswa. Perpustakaan di sekolah/kampus yang ada jarang dimanfaatkan secara optimal oleh siswa/mahasiswa. Demikian pula perpustakaan umum yang ada di setiap kota/kabupaten yang tersebar di nusantara ini, pengunjungnya relatif tidak begitu banyak menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia belum mempunyai budaya membaca. Sehingga wajar apabila Indeks Sumber Daya Manusia bangsa Indonesia juga rendah.

Skripsi Peningkatkan Kemampuan Membaca Melalui Metode Pembelajaran Membaca Kritis

Upaya menumbuhkan minat baca bukannya tidak dilakukan. Pemerintah melalui lembaga yang relevan telah mencanangkan program minat baca. Hanya saja yang dilakukan oleh pemerintah maupun institusi swasta untuk menumbuhkan minat baca belum optimal. Oleh karena itu, agar bangsa Indonesia dapat mengejar kemajuan yang telah dicapai oleh negara-negara tetangga, perlu menumbuhkan minat baca sejak dini. Sejak mereka mulai dapat membaca. Dengan menumbuhkan minat baca sejak anak-anak masih dini, diharapkan budaya membaca masyarakat Indonesia dapat ditingkatkan.

Seiring dengan perkembangan zaman serta Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, maka kita dituntut untuk terus mengadakan pembaharuan disegala lini kehidupan. Terutama yang bersentuhan langsung dengan kemajuan ilmu pengetahuan, dimana dalam Sistem yang ada di dalam pendidikan harus terus mengadakan perubahan kearah yang positif. Berbagai teknik pembelajaran, baik itu metode, pendekatan, maupun tata cara atau aturan dalam pembelajaran banyak dirancang untuk menghasilkan transfer ilmu pengetahuan dari guru ke siswa yang lebih optimal. Hakikat pembelajaran sebenarnya adalah memberi rasa nyaman dan betah siswa (anak didik) dalam menerima pelajaran.

Tuntutan perubahan menuntut kesiapan guru bahasa Indonesia di sekolah dasar untuk siap memberikan pemahaman dasar kepada siswa. Sehingga pengajaran bahasa Indonesia di tingkat sekolah dasar (SD) perlu diperkaya dengan berbagai inovasi pengajaran untuk meningkatkan penguasaan siswa terhadap beberapa komponen dalam pengajaran bahasa Indonesia, yaitu membaca, berbicara, mendengarkan, dan menulis. Beberapa komponen dalam pengajaran bahasa Indonesia ini sangat penting untuk dikuasai siswa sebelum terjun ke lingkungan masyarakat yang lebih kompleks.

Kesiapan guru mata pelajaran dan pembelajaran yang kondusif semakin menjadi tuntutan keharusan ketika muncul berbagai problematika membaca siswa di sekolah. Fakta rendahnya kemampuan membaca siswa di setiap sekolah dapat diamati di berbagai media informasi, menurut salah satu sumber yang penulis kutip (Idonesia Buku.com/07-04-2010) dikemukakan Kemampuan membaca siswa sekolah di tingkat sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah (SD/MI) saat ini memiliki kecenderungan rendah. Lemahnya kemampuan membaca siswa SD/MI patut diduga karena lemahnya pembelajaran Bahasa Indonesia, khususnya pembelajaran membaca. Salah satu penelitian yang mengungkap lemahnya kemampuan siswa, dalam hal ini siswa kelas IV SD/MI, adalah penelitian Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS), yaitu studi internasional dalam bidang membaca pada anak-anak di seluruh dunia yg disponsori oleh The International Association for the Evaluation Achievement. Hasil studi menunjukkan bahwa rata-rata anak Indonesia berada pada urutan keempat dari bawah dari 45 negara di dunia.

Di sekolah dasar, pengajaran membaca merupakan salah satu aspek pokok pengajaran bahasa dan sastra Indonesia. Salah satu tujuannya agar siswa memiliki kegemaran dan memanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari, bahkan membaca merupakan faktor penentu bagi keberhasilan belajar seseorang. Membaca merupakan salah satu dari empat keterampilan bahasa yang tidak kalah pentingnya dengan keterampilan yang lain. Kita ketahui bahwa pada masa sekarang ini banyak buku, majalah, koran serta tulisan yang berbentuk lain sebagai penyampai informasi. Untuk itu keterampilan membaca sangat diperlukan untuk memahami informasi atau isi pesan yang ada dalam teks bacaan.

Perlu diketahui bahwa pada dasarnya membaca tidak hanya sekadar meyuarakan bunyi-bunyi bahasa atau mencari arti kata-kata sulit dalam suatu teks bacaan, tetapi lebih dari itu, membaca melibatkan pemahaman memahami apa yang dibacanya, apa maksudnya, dan apa implikasinya. Bayangkan, jika seorang anak (SD) hanya bisa melafalkan kata-kata tanpa bisa memahami apa maksud dari kata-katanya maka kegiatan yang dilakukannya kurang bermakna.

B. Rumusan Masalah
Sesuai dengan uraian latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini terfokus pada “Bagaimanakah meningkatkan kemampuan membaca melalui metode pembelajaran membaca kritis di kelas V SD Neg. 8 Pulau Laiya Kec. Liukang Tupabbiring Kab. Pangkep?”

Untuk versi lengkap, silahkan download skripsi dalam format PDF melalui link di bawah.

download


download


download

INFO:
Password: jaririndu.blogspot.com

Pengertian Kata Ulang dan Jenisnya (2)

Halo sahabat IKB, kali ini saya akan berbagi tentang Makna, Kata, dan Kata Ulang dalam beberapa bagian postingan. Ini adalah bagian 2 dari postingan ini. Untuk bagian pertama bisa kunjungi Pengertian Makna, Kata, Kata Ulang dan Jenisnya (1).

Bagian 2

Jenis-Jenis Kata Ulang
Kata ulang terbagi ke dalam empat jenis. Jenis-jenis tersebut adalah sebagai berikut:
a. Pengulangan seluruh bentuk kata dasar atau dwilingga
Pengulangan utuh terdiri atas dua macam. Pertama, perulangan terhadap kata dasar, kedua, perulangan terhadap kata berimbuhan. Contoh:
(1) buah : buah-buahan
(2) gunung : gunung-gunung
(3) kejadian : kejadian-Kejadian
(4) lari : lari-lari
(5) merah : merah-merah
(6) pagi : pagi-pagi
makna kata ulang

Pengulangan sebagian atau dwipurna
Pengulangan sebagian ialah pengulangan sebagian dari bentuk dasarnya. Dalam hal ini, bentuk dasarnya tidak diulang seluruhnya melainkan sebagian saja. Bentuk dasar pengulangan sebagian ini terdiri atas bentuk kompleks dan bentuk tunggal.
1) Pengulangan sebagian dengan kata dasar bentuk tunggal, yaitu:
(1) laki………lalaki/lelaki
(2) tamu…….tatamu/tetamu
(3) sama…….sasama/sesama
(4) pohon……popohon/pepohonan
2) Pengulangan sebagian dengan kata dasar bentuk kompleks, yaitu:
(1) minuman : minum-minuman
(2) makanan : makan-makanan
(3) berlari : berlari-lari
(4) ditusuk : ditusuk-kusuk
Apabila bentuk dasar itu berupa bentuk komplek, kemungkinan bentuknya sebagai berikut:
- Bentuk men-misalnya
mengambil : mengambil-ambil
mengemasi : mengemas-emasi
membaca : membaca-baca
melambaikan : melambai-lambai
memperkatakan : memperkata-kata
- Bentuk di - misalnya:
dikemasi : dikemas-kemasi
ditarik : ditarik-tarik
ditanami : ditanam-tanami
disodorkan : disodor-sodorkan
- Bentuk ber-misalnya:
berjalan : berjalan-jalan
bertemu : bertemu-temu
bermain : bermain-main
berkata : berkata-kata
berlarut : berlarut-larut
- Bentuk ter-misalnya:
terbatuk : terbatuk-batuk
terbentur : terbentur-bentur
tersenyum : Tersenyum-senyum
terbalik : Terbalik-balik
terjatuh : Terjatuh-jatuh
- Bentuk ber-an misalnya:
berlarian : berlari-larian
berjauhan : berjauh-jauhan
bersentuhan : bersentuh-sentuhan
berdekatan : berdekat-dekatan
berpelukan : berpeluk-pelukan
- Bentuk an-misalnya:
sayuran : sayur-sayuran
karangan : karang-karangan
tumbuhan : tumbuh-tumbuhan
minuman : minum-minuman
makanan : makan-makanan
- Bentuk ke-misalnya:
kedua : kedua-dua
ketiga : ketiga-tiga
keempat : keempat-empat
kelima : Kelima-lima
3) Pengulangan yang berkombinasi dengan proses pembunuhan afiks
Pengulangan ini terjadi bersama-sama dengan proses pembunuhan atiks dan bersama-sama pula mendukung satu fungsi. Misalnya kata ulang keteta-keretaan. Ada dua pilihan proses pembentukan kata ulangnya.
kereta : kereta-kereta
kereta : kereta-keretaan
Dari faktor arti, pilihan pertama dan kedua berbeda, bentuk dasar kereta menjadi kereta-kereta mengatakan makna banyak, sedangkan pada kereta-keretaan tidak terdapat makna banyak contoh:
(1) anak : anak-anakan
(2) rumah : rumah-rumahan
(3) orang : orang-orangan
(4) gunung : gunung-gunungan
(5) putih : keputih-putihan
(6) luas : seluas-luasnya
4) Pengulangan dengan perubahan fonem
Pengulangan dengan perubahan fonem adalah pengulangan yang terjadi dengan cara mengulang bentuk dasar disertai perubahan bunyi pada salah satu suku kata, dan biasanya terjadi pada fonem vokal atau fonem konsonan, seperti:
1) Pengulangan fonem vokal, yaitu:
(1) gerak : gerak-gerik
(2) robek : robak-robik
(3) serba : serba-serbi
(4) bolak : bolak-balik
2) Pengulangan fonem konsonan, yaitu:
(1) lauk : lauk-pauk
(2) ramah : ramah-tamah
(3) sayur : Sayur-mayur
(4) tali : tali-mali
(5) beras : beras-petas
Contoh dalam kalimat: ibu sedang memasak lauk-pauk, sayur-mayur yang dibelinya di pasar, Ramlan (1985: 62).

Fungsi Kata Ulang/Reduplikasi
Sebagai salah satu bentuk proses morfologis, maka proses reduplikasi atau pengulangan tidak berfungsi mengubah golongan jenis kata. Dengan demikian, pada umumnya reduplikasi tidak mempunyai fungsi gramatik. Jika ada maka bentuk-bentuk ulang yang mengandung fungsi gramatik hanya terbatas pada beberapa bentuk tertentu saja.
a. Mengubah golongan kata kerja menjadi kata benda
Walaupun pada umumnya perulangan atau reduplikasi tidak mempunyai fungsi gramatik, namun ada juga beberapa reduplikasi seperti contoh berikut ini:
(1) injak : injak-injak (kata kerja)
(2) undur : undur-undur (kata kerja)
(3) karang : karang-karangan (kata kerja)
Bentuk ulang di atas dapat lebih jelas diketahui dalam konteks kalimat seperti dibawah ini:
injak-injak itu merusak
undur-undur itu masih sangat kecil
karang-karangan itu menyenangkan
Bentuk ulang dalam kalimat di atas menduduki unsur subjek. Sebagai subjek bentuk ulang tersebut merupakan golongan kata benda meskipun berasal dari bentuk dasar golongan kata kerja.
b. Mengubah golongan kata sifat menjadi kata keterangan.
Contoh :
(1) rajin menjadi serajin-rajinnya
(2) cepat menjadi secepat-cepatnya
(3) malas menjadi semalas-malasnya
c. Mengubah bentuk tunggal menjadi bentuk jamak
Contoh:
(1) ibu menjadi ibu-ibu
(2) makanan menjadi makanan-makanan
(3) lauk menjadi lauk-pauk

Makna Kata Ulang
Kata Ulang memiliki beberapa makna, di antaranya adalah sebagai berikut:
a. Menyatakan makna banyak
(1) bintang-bintang : banyak bintang
(2) pembangunan-pembangunan : banyak pembangunan
(3) murid-murid : banyak murid
(4) buah-buahan : banyak buah
(5) kemajuan-kemajuan : banyak kemajuan
Makna banyak tidak selalu dinyatakan dengan pengulangan. Misalnya dalam kalimat rumah penduduk banyak yang rusak akibat angin belian.
b. Menyatakan makna banyak
Disini makna banyak telah berhubungan dengan bentuk dasar, melainkan berhubungan dengan kata yang “diterangkan”. Kata yang diterangkan pada tataran frase menduduki fungsi sebagai unsur pusat, misalnya kata rumah dalam frase rumah besar-besar, dan pada tataran klausa menduduki fungsi sebagai subjek, misalnya kata rumah dalam klausa rumah itu besar-besar. Pengulangan pada kata besar-besar itu mengatakan makna ‘banyak’ bagi kata yang “diterangkan”, dalam hal ini kata rumah.
Contoh lain, misalnya:
mahasiswa itu pandai-pandai
pohon ditepi pohon itu rindang-rindang
c. Menyatakan makna tak bersyarat
(1) meskipun hujan, saya akan datang
(2) jambu-jambu mentah dimakannya
(3) duri-duri diterjang
(4) dararah-darah diminum
d. Mengatakan makna yang menyerupai apa yang tersebut pada bentuk dasar
Proses pengulangan berkombinasi dengan proses pembubuan afiks-an.
(1) kuda-kudaan : yang menyerupai kuda
(3) gunung-gunungan : yang menyerupai gunung
(4) rumah-rumahan : yang menyerupai rumah
(5) kemuda-mudaan : menyerupai (anak) muda
e. Mengatakan bahwa perbuatan yang tersebut pada bentuk dasarnya dilakukan dengan santai
(1) berjalan-jalan
(2) makan-makan
(3) minum-minum
(4) tidur-tidur
f. Mengatakan bahwa perbuatan yang tersebut pada bentuk dasarnya dilakukan oleh dua pihak dan saling mengenai (menyatakan makna saling)
(1) pukul-memukul
(2) tolong-menolong
(3) dorong-mendorong
(4) surat-menyurat
(5) olok-memperolokkan
Makna saling bisa juga dilakukan dengan pembubuhan afiks ber-an.
Bersalam-salaman
berpandang-pandangan
berpukul-pukulan
g. Menyatakan hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan yang tersebut pada bentuk dasar.
(1) karang-mengarang
(2) cetak-mencetak
(3) jilid-menjilid
(4) potong-memotong
(5) masak-memasak
h. Menyatakan perbuatan yang pada bentuk dasarnya dilakukan berulang-ulang
(1) berteriak-teriak
(2) memukul-mukul
(3) memetik-metik
(4) menyobek-nyobek
i. Menyatakan makna agak
(1) kemerah-merahan
(2) kehitam-hitaman
(3) kekuning-kuningan
(4) kebiru-biruan
j. Menyatakan makna tingkat yang paling tinggi yang berkombinasi dengan proses pembubuhan afik se-nya (kualitatif).
(1) sepenuh-penuhnya
(2) serajin-rajinnya
(3) sekuat-kuatnya
(4) sedalam-dalamnya
(5) seluas-luasnya

Sumber: Bahrun, 2007. Kemampuan Siswa Kelas II SMK Gunung Sari Makassar Menentukan Makna Kata Ulang. Skripsi. FKIP Universitas Muhammadiyah Makassar

Pengertian Makna, Kata, Kata Ulang dan Jenisnya (1)

Halo sahabat IKB, kali ini saya akan berbagi tentang Makna, Kata, dan Kata Ulang dalam beberapa bagian postingan. Untuk bagian 2, silahkan kunjungi Pengertian Kata Ulang dan Jenisnya (2)

Bagian 1

1. Makna
Makna adalah maksud suatu kata atau isi suatu pembicaraan atau pikiran. Makna suatu kata diartikan pula sebagai hubungan antara atau lambang-lambang bahasa, baik itu berupa ajaran ataupun tulisan, dengan hal atau barang yang dimaksudnya.

2. Kata
Kata adalah satuan bahasa terkecil yang dapat berdiri sendiri dengan makna yang bebas dari definisi tersebut, terdapat dua hal yang menandai sebuah kata yakni:
a. Merupakan satuan bahasa terkecil.
b. Mengandung makna yang bebas.

makna dan kata ulang

Menurut Kamisa (1997: 288) kata adalah kumpulan dari beberapa huruf yang diucapkan dan mengandung makna sebagai ungkapan perasaan.

3. Bentuk Dasar Kata Ulang
Setiap kata ulang memiliki satuan yang diulang. Satuan yang diulang disebut bentuk dasar. Misalnya:
rumah-rumah : bentuk dasarnya rumah
sakit-sakit : bentuk dasarnya sakit
rintangan-rintangan : bentuk dasarnya rintangan
dua-dua : bentuk dasarnya dua
4. Kata Ulang
Kata ulang atau reduplikasi adalah pengulangan satuan gramatik, baik seluruhnya maupun sebagiannya, baik dengan variasi fonem maupun tidak. Hasil pengulangan itu disebut kata ulang. Satuan yang diulang merupakan bentuk dasar. Yasin (1988:128) mengatakan bahwa kata ulang atau reduplikasi adalah pengulangan atas suatu bentuk dasar, dan bentuk dasar sebagai hasil pengulangan tersebut dinamakan kata ulang.

Sebuah kata ulang dibentuk dengan berbagai cara, baik pengulangan sebagian bentuk dasar, seluruh bentuk dasar pemberian fonem, ataupun dengan pengulangan berimbuhan. Dengan proses seperti ini, maka tidak semua bentuk kata ulang mempunyai bentuk dasar yang sama, walaupun setiap kata ulang memiliki bentuk dasar yang diulang. Bentuk dasar tersebut merupakan bentuk linguistik.

Menurut Kusno (1986: 58) bahwa kata ulang adalah salah satu bentuk kata jadian yang terjadi karena suatu kata diulang sehingga timbul perubahan makna. Dalam kaitannya dengan proses pembentukan kata ulang. Yasin (1988: 131) mengatakan bahwa pada umumnya bentuk kata ulang tidak menunjukkan golongan kata bentuk dasarnya.

Dengan demikian, apabila bentuk ulang kebetulan merupakan golongan kata benda, maka dapat diketahui pula bahwa bentuk dasarnya juga merupakan golongan kata benda. Seperti anak-anak, mobil-mobilan, baik-baik, buah-buahan, pelan-pelan, kemalas-malasan dan lain-lain. Proses pengulangan ada juga yang berfungsi mengubah golongan kata. Pada kata ulang seperti karang-mengarang, cetak-mencetak, potong-memotong, jilid-menjilid, proses pengulangan mempunyai fungsi sebagai pembentuk kata nominal dari kosa kata, dan pada kata ulang seperti secepat-cepatnya, serajin-rajinnya, setinggi-tingginya, sekuat-kuatnya, proses pengulangan berfungsi sebagai pembentuk kata keterangan dan kata sifat.


Sumber: Bahrun, 2007. Kemampuan Siswa Kelas II SMK Gunung Sari Makassar Menentukan Makna Kata Ulang. Skripsi. FKIP Universitas Muhammadiyah Makassar

Untuk bagian 2, silahkan kunjungi Pengertian Kata Ulang dan Jenisnya (2)

Kisah Hidup “Penyair Besar” Kahlil Gibran

Kahlil Gibran (Gibran Khalil Gibran) adalah seorang seniman, penyair dan penulis Lebanon-Amerika. Gibran lahir di Basyari, Libanon pada tanggal 6 Januari 1883, yang pada saat itu termasuk dalam provinsi Suriah di Khilafah Turki Ustmani. Menghabiskan sebagian masa menulisnya di Amerika Serikat. Salah satu karyanya yang sangat tenar adalah sebuah buku yang berjudul The Prophet.
Kisah Hidup “Penyair Besar” Kahlil Gibran
Kahlil Gibran
Gibran dibesarkan dalam keluarga penganut katolik-maronit yang taat. Daerah tempat ia dilahirkan adalah wilayah yang kerap disinggahi badai, gempa serta petir sehingga tak heran jika fenomena-feomena alam yang ditangkap Gibran di masa kecil tersebut banyak dituangkan dan menjadi inspirasi dari sebagian karya-karyanya. Pada usia 10 tahun, bersama ibu dan kedua adik perempuannya, Gibran pindah ke kota Boston, Massachusetts, Amerika Serikat. Transisi Budaya dan akulturisasi yang dialami Gibran sedikit banyak berpengaruh pada gaya tulisan Gibran yang lebih adaptatif dan membentuk corak tulisan dengan sentuhan budaya arab dan barat. Gibran tinggal di Boston selama 3 tahun dan kembali ke Beirut, Lebanon dan bersekolah di Madrasah Al Hikmat sejak tahun 1898 hingga 1901.

Selama awal-awal masa remajanya, terjadi banyak konflik politik yang terjadi di Lebanon. Kesultanan Ustmaniyah kian lemah dan kurang mendapat simpati di mata rakyat Lebanon di masa itu, ditambah lagi banyakya penyelewengan-penyelewengan yang dilakukan organisasi-organisasi gereja serta minimnya peran wanita Asia Barat serta wanita arab yang menjadi sekedar pendamping bagi kaum pria banyak menginspirasi tulisan-tulisannya yang dituangkan dalam karya-karya sastra berbahasa Arab.
Kisah Hidup “Penyair Besar” Kahlil Gibran
Foto Kahlil Gibran oleh Fred Holland Day, skt. 1898.
Gibran kembali ke Boston saat ia menginjak usia 19 tahun, namun ingatan dan kenangannya tentang Lebanon tak pernah bisa lepas dari hatinya, Di boston dia menulis tulisan-tulisan yang berkisah tentang negeri kelahirannya untuk mengekspresikan dirinya. Dua kultur budaya yang berbeda memberinya kebebasan menulis yang lebih luas bagi Gibran, semua dituangkan lewat karya-karya satra yang megilhami banyak orang di masa itu.

Gibran menulis skrip drama pertamnya di Paris dari tahun 1901 hingga 1902. Karya pertamanya yang berjudul Spirits Rebellious (pemberontakan jiwa) yang berisi empat cerita kontemporer sebagai sindiran keras bagi orang-orang korup di gerja tempatnya beribadat dan negaranya, ditulis di Boston dan diterbitkan di New York. Akibat dari tulisan kerasnya tersebut, gibran menerima hukuman pengucilan dari Gereja Maronit, namun sindiran-sindiran Gibran yang tertuang dalam tulisannya banyak dianggap sebagai suara pembebasan bagi kaum-kaum tertindas di Asia Barat.

Di awal karir dan pembentukan diri selama di Paris, Gibran harus menerima kenyataan pahit, saat menerima berita duka yang dikabarkan dari konsulat Jendral Turki, Adik perempuannya, Sultana, yang baru berunur 15 tahun meninggal akibat penyakit TBC. Gibran segera memutuskan untuk kembali ke Boston, dan tak lama berselang, kakak laki-lakinya, Peter, juga meninggal akibat penyakit yang sama. Dan dalam duka yang menimpanya, Gibran kembali dihadapkan pada kegetiran saat Ibu yang memuja dan dipujanya telah meninggal karena serangan Tumor ganas yang menggerogotinya. Satu-satunya keluarga yang tersisa hanya adiknya, Marianna.

Kematian bertubi-tubi keluarganya terjadi di antara bulan maret dan juni tahun 1903, tragedi itu menyisakan banyak pergolakan batin yang menghantui Gibran selama hidupnya, ia dihantui banyak trauma dan ketakutan akan penyakit dan kemiskinan yang menghinggapi hidup keluarganya. Gibran harus bersusah payah dan bekerja keras untuk dapat menghidupi dirinya dan satu-satunya kelurga yang tersisa, Marianna, dan berupaya bangkit dengan kondisi keluarga yang tak lagi utuh.

Di tahun-tahun awal kehidupan mereka berdua, Marianna membiayai penerbitan karya-karya Gibran dengan biaya yang diperoleh dari hasil menjahit di Miss Teahan's Gowns, Boston. Berkat kegigihan dan usaha keras dari mereka berdua, Gibran kembali dapat meneruskan karir dan bakatnya dalan kesusteraan.

Pada tahun 1908, Gibran kembali ke Paris, disana dia hidup senang dan terjamin karena secara rutin menerima uang yang cukup dari Mary Haskell, seorang wanita yang dikenal mempunyai hubungan dekat dengan Gibran semenjak dia hidup di Boston. Mary Haskell adalah seorang kepala sekolah yang berusia 10 tahun lebih tua dari Gibran. Dari tahun 1909 sampai 1910, Gibran belajar di School of Beaux Arts dan Julian Academy. Gibran mendirikan sebuah studio di West Csdar Street di bagian kota Beacon Hill sekembalinya ke Boston. Dan diapun berinisiatif mengambil alih pembiayaan keluarganya.

Pada tahun 1911, gibran pindah ke kota New York. Di kota itu, gibran menghabiskan waktu berkesenian dan bekerjanya di apartemen studionya di 51 west tenth street, sebuah tempat yang sengaja didirikan untuk tempatnya melukis dan menulis.

Sebelum tahun 1912, Gibran menerbitkan karya spektakulernya "Broken Wings" yang diterbitkan dalam bahasa arab. Buku ini berkisah tentang cinta Selma Karami kepada seorang muridnya, namun Selma terpaksa menjadi tunangan kemenakannya sendiri sebelum akhirnya menikah dengan suami yang merupakan seorang uskup yang oprtunis. Sebagian orang menyebut bahwa karyanya tersebut merupakan refleksi dari kehidupan pribadi cinta Gibran di masa mudanya di Lebanon terhadap seorang gadis bernama Hana Fakher.

Di masa mudanya, Gibran dikenal dekat dengan Mary Elizabeth Haskell. Dia dikenal dekat dan sangat mengagumi pribadi wanita tersebut. Hubungan cinta mereka terkendala dengan banyaknya perbedaan yang ada antara Gibran dan Mary, hingga akhirnya Mary dilamar dan menikah dengan seorang pengusaha kaya bernama Florence Minis, karena ketidak jelasan hubungannya dengan Gibran yang semakin kentara.

Hingga periode tahun 1932 Gibran banyak menelurkan karya-karya sastranya yang banyak menjadi inspirasi banyak wanita arab di masa itu dan membangkitkan semangat emansipasi diantara mereka.

Pada tanggal 10 april 1931, jam 11 malam Gibran menghembuskan nafas terakhirnya setelah sekian lama digerogoti penyakit sirrosis hepatis dan TBC paru, meski Selama itu dia selalu menolak untuk dibawa ke Rumah Sakit. Hingga pada akhirnya pagi tanggal 10 april dia dibawa ke St. Vincent's Hospital di Greenwich Village dan meninggal disana. Mary Hasskel yang kala itu tengah merawat suaminya yang sedang sakit, menyempatkan diri untuk datang melayat Gibran. jenazah Gibran dikebumikan pada tanggal 21 agustus di Mar Sarkis, sebuah biara karmelit. tempat dimana Gibran melakukan ibadah.

Kisah Hidup “Penyair Besar” Kahlil Gibran
Memorial Kahlil Gibran di Washington, D.C.
Sepeninggal Gibran, murid didiknya yang bernama Barbara Young mulai menerbitkan karya-karya Gibran yang belum sempat dipublikasikan, dan mengenalkan kepada dunia luas tentang karya-karya besar yang pernah dibuat Gibran. kini banyak orang mulai mengenal Kahlil Gibran sebagai seorang penyair besar yang memberi arti besar pada perkembangan kesusasteraan dunia.

Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Kahlil_Gibran

Kalimat-Kalimat Cinta Ahyar Anwar

Di bawah ini adalah beberapa kalimat yang ada dalam buku seorang penulis dan kritikus sastra asal Sulawesi Selatan. Ahyar Anwar, lelaki yang menidurkan dan yang membangunkan cinta. Beberapa bukunya: Menidurkan Cinta, Aforisma Cinta dan Infinitum.

ahyar anwar
untuk apa berada dalam malam jika tidak melayani kesuramanya

ahyar anwar
untuk soal cinta, saya sama dengan orang gila
kami berdua tidak pernah merasa ragu bahwa sedang tergila-gila

ahyar anwar
pahlawan paling berani adalah mereka yang memasuki medan perang dengan ketulusan yang sempurna,
meski satu-satunya yang bisa ia menangkan hanyalah kekalahan

ahyar anwar
jika kesunyian itu tiba,
maka carilah senyum yang paling tulus dari luka yang menuliskan rintihan rindu darimu

ahyar anwar
sayang,
telah kita sadari jika hidup ini terbatas dan akan tiba satu titik waktu dimana kematian tiba disaat yang tidak kita harapkan, tapi sebelum titik waktu itu tiba
marilah kita saling mencintai laksana pahlawan yang bercampur seakan-akan kematian tidak pernah akan tiba

ahyar anwar
manusia tak hanya bergerak dari satu waktu ke waktu yang lain
tetapi dari satu kisah menuju kisah yang lain.
tetapi tidak semua kisah bergerak meninggalkan waktu, kadang berputar dan melingkar kembali tidak semua pencarian berjalan ke depan
kadang sebuah pencarian harus berjalan ke belakang menemukan masa depan pada kisah kenangan.
seperti sebuah musik yang mengalun mencari refrean kenangan.
seperti sebuah lagu yang dapat mengembalikan kita pada seutas kenangan yang berlalu....

ahyar anwar
tanpa perpisahan kita tak akan mengerti makna sebuah pertemuan

ahyar anwar
aku seperti masuk kedalam kutukan kisah-kisah cinta yang bergerak dalam rodah diagram yang mengalir menjauh dari keselarasan, terus menjauh untuk menemukan awal, dan mengejar tujuan akhir yang telah terjadi di depan.
inilah permainan infinitum yang sempurnah melingkar dan berulang-ulang,
tidak untuk menemukan satu kepastian, tapi justru hanya sebuah kesementaraan yang tidak sempurnah.

ahyar anwar
iya hanyalah penyair yang tak bisa tidur. ada cinta yang menyangga matanya

ahyar anwar
hidup adalah sebuah pilihan,
tetapi untuk cinta, pilihan kadang adalah sebuah kematian

Aforisma Cinta Ahyar Anwar

Metode Preview, Question, Read, Reflect, Recite and Review (PQ4R)

A. Pengertian Metode PQ4R
Metode berasal dari Bahasa Yunani, yaitu methodos berarti cara atau jalan yang ditempuh. Istilah metode menurut Anwar (2001: 281) adalah “cara yang telah diatur dan berpikir baik-baik untuk mencapai sesuatu maksud dalam ilmu pengetahuan dan sebagainya; cara belajar dan sebagainya”.

Pendapat lain dikemukakan oleh T. Raka Joni (Mappasoro, 2011: 26) bahwa metode adalah “cara yang bersifat relatif umum yang sesuai untuk mencapai tujuan”. Ini berarti metode digunakan untuk merealisasikan strategi yang telah dipilih atau ditetapkan.


Berdasarkan pendapat sebelumnya dapat disimpulkan bahawa metode adalah prosedur atau cara yang menggambarkan langkah-langkah dalam kegiatan proses pembelajaran demi tercapainya tujuan pembelajaran yang telah direncanakan.

B. Hakikat Metode PQ4R
Metode PQ4R lahir dari pengembangan metode SQ3R. Ternyata metode SQ3R belum sempurna karena masih dibutuhkan sebuah langkah lagi yaitu reflect (refleksi), guna mengembangkan informasi yang terdapat pada sebuah bacaan dan memindahkanya dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang

Menurut Suprijono (2012: 103) “Pengalaman awal bisa dibangun melalui aktifitas membaca, sehingga peserta didik akan memiliki cadangan pengetahuan (stock of knowledge). Salah satu metode membaca yang efektif digunakan adalah metode PQ4R”.

Sementara menurut Yulianti (2013) metode PQ4R adalah suatu metode membaca yang digunakan untuk membantu siswa berpikir kritis dengan memanfaatkan daya ingat siswa sehingga dapat membantu siswa memahami suatu bacaan.

PQ4R dilahirkan atas pendapat bahwa pembaca dapat mengembangkan keterampilan membacanya karena PQ4R merupakan metode yang efektif untuk membantu pembaca berpikir kritis dalam memahami suatu bacaan dan mengingatnya dalam waktu panjang sehingga pembaca memiliki cadangan pengetahuan.

C. Langkah-langkah Metode PQ4R
Menurut Abidin (2012: 100) tahapan metode PQ4R dilaksanakan dalam enam tahap yaitu: “(1) membaca sekilas (preview), (2) membuat pertanyaan (question), (3) membaca dalam hati (read), (4) merefleksi (reflect), (5) menceritakan kembali (recite) dan (6) meninjau kembali (review)”. Tahap pelaksanaannnya dapat diuraikan sebagai berikut:
1) Tahap prabaca
a) Mempersiapkan bahan bacaan Guru mempersiapkan dan memperkenalkan bahan/wacana yang akan dibaca, memperkenalkan metode PQ4R melalui penjelasan atau selebaran langkah-langkah PQ4R kepada siswa.
b) Membaca sekilas bahan/ wacana
c) Menyusun pertanyaan. Berdasarkan hasil membaca sekilas, siswa menyusun pertanyaan-pertanyaan yang akan dicari jawabannya melalui proses membaca.

2) Tahap membaca
a) Membaca dalam hati. Siswa membaca dalam hati untuk menjawab pertanyaan yang diajukannya dengan membaca cepat. Jika siswa menemukan jawabannya, siswa membaca lambat sambil menulis jawaban dari pertanyaan.
b) Refleksi. Siswa membandingkan informasi yang telah diperolehnya dengan informasi baru yang didapatkan dari hasil membaca.
c) Menceritakan kembali. Siswa menyusun kembali jawaban dari pertanyaaan sebagai perpaduan antara pengetahuan sebelum membaca dan setelah membaca, kemudian menceritakan kembali tanpa melihat wacana.

3) Tahap pascabaca
Meninjau ulang. Siswa menceritakan kembali pemahaman isi wacana dan untuk meyakinkan siswa dapat membaca sekilas kembali bahan/ wacana yang diberikan guru.

D. Kelebihan dan kelemahan Metode PQ4R
Pendapat Trianto (2007: 156) yang menyatakan bahwa keunggulan dan kelemahan metode PQ4R adalah:
(a)Metode PQ4R dapat mengaktifkan pengetahuan awal siswa dan mengawali proses pembuatan hubungan antara informasi baru dengan apa yang telah diketahui sebelumnya, (b) Metode PQ4R membantu siswa mengingat apa yang telah dibaca/efektif membantu siswa menghafal informasi dari bacaan, (c) Metode PQ4R membantu siswa memahami suatu bacaan, (d) Metode PQ4R memotivasi siswa untuk belajar sendiri, (e) Metode PQ4R membantu siswa berpikir kritis, dan (f) Metode PQ4R meningkatkan konsentrasi siswa terhadap isi bacaan.
Sedangkan kelemahan dari metode PQ4R adalah (a) Tidak tetap diterapkan pengajaran pengetahuan yang bersifat prosedural seperti pengetahuan keterampilan dan (b) Sangat sulit dilaksanakan jika saran seperti buku siswa (buku paket) tidak tersedia di sekolah.

Senada dengan pendapat Puspitasari yang menyataan bahwa pembelajaran metode PQ4R memiliki beberapa keunggulan dan kelemahan (Riadi, 2013) antara lain:
1) Keunggulan
a) Sangat tepat digunakan untuk pengajaran pengetahuan yang bersifat deklaratif berupa konsep-konsep, definisi, kaidah-kaidah, dan pengetahuan penerapan dalam kehidupan sehari-hari.
b) Dapat membantu siswa yang daya ingatannya lemah untuk menghafal konsep-konsep pelajaran.
c) Mudah diterapkan pada semua jenjang pendidikan.
d) Mampu membantu siswa dalam meningkatkan keterampilan proses bertanya dan mengomunikasikan pengetahuannya.
e) Dapat menjangkau materi pelajaran dalam cakupan yang luas.

2) Kelemahan
a) Tidak tepat diterapkan pada pengajaran pengetahuan yang bersifat prosedural seperti pengetahuan keterampilan.
b) Sangat sulit dilaksanakan jika sarana seperti buku siswa (buku paket) tidak tersedia di sekolah.

Bertemali dengan pendapat sebelumnya, bahwa keunggulan dari metode PQ4R yaitu memiliki langkah-langkah terstruktur yang dapat menumbuhkan dan mengembangkan kreatifitas siswa dalam proses belajar, dengan diterapkan metode ini siswa dapat menyimpan materi yang dipelajari dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang artinya pemahaman siswa akan materi yang dipelajari dapat tersimpan lama, dapat membuat siswa disiplin dalam membaca, dapat meningkatkan kemampuan bertanya, kemampuan mengkomunikasikan pendapat dan juga dapat dijadikan sebagai ritual sehari-hari sehingga siswa termotivasi dalam meningkatkan minat bacanya. Selain dari itu, terdapat kelemahan dari metode ini yaitu, tidak tepat diterapkan pada pengajaran pengetahuan yang bersifat prosedural seperti pengetahuan keterampilan proses dan sangat sulit dilaksanakan jika sarana seperti buku siswa (buku paket) tidak tersedia di sekolah dalam jumlah yang banyak.


Rujukan:
Abidin, Yunus. 2012. Pembelajaran Membaca Berbasis Pendidikan Karakter. Bandung: Refika Aditama.
Anwar, Dessy. 2001. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya: Karya Abadi Tama.
Mappasoro. 2011. Strategi Pembelajaran. Makassar: Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Makassar.
Riadi, Muchlisin. 2013. Strategi Membaca PQ4R. (Online). http://strategi membaca pq4r-pengertian dan referensi.htm. (diakses 21 Januari 2014)
Suprijono, Agus. 2012. Cooperative Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Trianto. 2007. Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka.
Yulianti, L. Eva. 2013. Penerapan Metode Preview, Question, Read, Reflect, Recite and Review (PQ4R) untuk Meningkatkan Keterampilan Membaca pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di SD. Skripsi. Bandung: Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja Indonesia.