Statement dan Tema dalam Film

Statement dan Tema dalam Film

Oleh Baskoro Adi dan Perdana Kartawiyudha

A. Statement
Statement adalah sikap pembuat cerita terhadap topik atau kasus yang diangkat. Biasanya topik atau kasus ini sudah terwujud dalam logline.Cara pencerita menyikapi kasus yang tertuang dalam logline inilah yang disebut statement. Beberapa orang menyebut statement ini dengan istilah pesan moral (moral of the story).

Berbeda dengan director’s statement yang umumnya berisi penjabaran latar belakang dan alasan sutradara terlibat dalam suatu film, statement dalam pembuatan cerita ini ditulis lebih singkat, padat, dan jelas dalam menyampaikan sikap pembuat cerita terhadap topik yang disampaikan. Umumnya statement dalam cerita ini hanya ditulis dalam satu kalimat saja. Contoh kalimat statement adalah sebagai berikut:
a. cinta datang di saat ketika kita membuka diri
b. kebahagiaan dimulai dari diri sendiri
c. nikmati hidup selagi bisa

Bandingkan dengan kalimat logline seperti “seorang mahasiswa yang sudah tak tahan ingin buang air di toilet tapi semua toilet yang ada di kampus terpakai”. Kalimat statement cenderung lebih mendalam, filosofis, dan menunjukkan sikap, tetapi memang tidak terlalu jelas menjelaskan ceritanya seperti apa. Berbeda dengan kalimat logline yang secara jelas menggambarkan cerita dalam film, terutama dari segi karakter dan konflik yang dihadapinya.

Ketika menonton film, kita bisa menangkap apa logline film tersebut dengan menonton sepertiga awal film. Sedangkan untuk memahami statement dari suatu film, penonton perlu menonton film hingga selesai.

Bagi beberapa pembuat film, statement atau yang lebih umum disebut pesan moral ini adalah sesuatu yang berusaha dihindari dalam mendesain cerita. Hadirnya statement atau pesan moral dianggap hanya membuat cerita terkesan menggurui penonton ke arah normatif. Padahal inti dari dibuatnya statement atau pesan moral ini adalah menunjukkan sikap pembuat film. Apapun itu. Bahkan ketika pembuat film ingin menunjukkan ketidakberpihakannya terhadap suatu kasus, itu juga bisa dianggap pencerita sudah menentukan sikapnya.

Bagi pencerita tingkat tinggi, mereka seringkali sudah sangat mahir mengolah cerita sehingga mereka bisa langsung bercerita dengan sangat baik tanpa terlebih dahulu merancang logline dan statement, bahkan perlu melewati tahapan sinopsis ataupun treatment. Beberapa dari mereka tidak sadar bahwa tanpa memformulasikan logline dan statement, dua unsur tersebut sudah langsung terwujud dengan kuat dalam karya mereka. Hanya saja tidak semua dari kita mempunyai bakat dan kemampuan sehebat itu.

Apalagi ketika dalam proses belajar, statement dan logline penting untuk dirancang sejak awal. Bukan dengan niatan menggurui penonton, tetapi keberadaan statement sesederhana menjadi titik yang ingin dicapai dalam proses bercerita. Dengan titik tuju yang jelas, pencerita bisa meminimalisasi kemungkinan tersesat di tengah jalan.Bahwa nanti di tengah jalan titik tujunya perlu berubah, bisa saja dilakukan. Artinya harus tetap ada titik lain yang dituju. Dengan demikian bisa mengurangi kemungkinan penulis tersesat di tengah proses menulis dan tak tahu harus ke mana.

Statement dan Tema dalam Film
Lebih jauh lagi, logline yang persis sama, bisa disikapi berbeda oleh pembuat cerita yang berbeda. Ada yang bersikap bijak, ada yang bersikap sinis, ada yang apatis, ada yang penuh amarah, dan lain sebagainya. Inilah hal yang bisa dimainkan dalam merancang statement. Sebagai pencerita, kita bisa memasang topeng yang berbeda dalam menyikapi suatu permasalahan. Statement yang baik juga tidak harus bijak. Kita bisa membuat orang belajar sesuatu dengan memperlihatkan kondisi yang tidak selalu positif. Akhiran yang ironi atau bahkan tragis pun dapat membuat penonton belajar sesuatu dari cerita yang ada, misalnya:
a. bahagiakan diri sendiri, baru bisa membahagiakan orang lain
b. Tuhan tak pernah tidur, demikian juga iblis
c. sepandai-pandainya menyimpan bangkai, akhirnya tercium juga

Kejelian dan keberanian menentukan statement, akan menentukan kesan yang penonton tangkap setelah menonton film. Kesan ini bisa menjadi bahan pemikiran atau bahkan inspirasi bagi mereka dalam memandang suatu permasalahan maupun menjalani hidup. Tidak hanya itu, kesan yang dimunculkan dari statement, bisa membuat penonton juga sadar bahwa orang yang berbeda bisa menyikapi suatu permasalahan dengan cara yang berbeda pula. Dan itu tidak apa-apa.

B. Tema
Tema adalah satu kata (atau 2 kata majemuk) yang menjelaskan film Anda. Bisa juga berarti pesan dari film Anda.

Film The Conjuring (2013) adalah film horor dengan tema keluarga. Dalam film tersebut, digambarkan bagaimana jahatnya Bathsheba, sebuah roh jahat yang berumur ratusan tahun, kalah oleh kekuatan keluarga.

Saat Carolyn Perron, sang Ibu dalam kisah itu kerasukan arwah Bathsheba, bukan kekuatan air suci yang menghentikannya membunuh keluarganya. Tapi Lorraine Warren, sang paranormal, memegang kepala Carolyn, dan mengingatkan kembali betapa berartinya keluarga bagi Carolyn. Akhirnya Carolyn bisa mendapatkan kekuatan kembali, dan mengeluarkan Bathsheba dari dalam tubuhnya.

Contoh lain adalah film Up (2013), yang mengangkat tema petualangan. Dalam film itu, Carl Frederiksen berusaha mengabulkan permintaan terakhir istrinya, yaitu memindahkan rumahnya ke Paradise Falls.

Carl menikah dengan Ellie, karena keduanya menyukai petualangan. Carl dan Ellie, menganggap pernikahan mereka adalah sebuah petualangan. Mereka mencatat semua perjalan kehidupan pernikahan mereka dalam sebuah adventure book.

Usaha Carl memindahkan rumah tidak berjalan mulus. Saat ia putus asa akan usahanya yang akan kandas, ia membuka kembali adventure book. Di sana ia menemukan kembali semangat hidup, saat menemukan tulisan Ellie, “and now, find your new adventure!”.


Sumber: Buku Menulis Cerita Film Pendek: Sebuah Modul Workshop Penulisan Skenario Tingkat Dasar. Pusat Pengembangan Perfilman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2017.
Tim Penyusun: Perdana Kartawiyudha (koordinator), Baskoro Adi Wuryanto, Damas Cendekia, Melody Muchransyah, dan Rahabi Mandra.

Logline Dalam Membuat Film

Logline Dalam Membuat Film 1

Oleh Baskoro Adi dan Perdana Kartawiyudha

A. Formulasi Logline
Apa itu logline? Logline adalah intisari dari cerita. Karena berupa intisari, maka logline harus singkat. Jika sebuah skenario di-analogikan sebagai tubuh manusia, LOGLINE adalah tulangnya. Jika tulang kuat, maka tubuh menjadi kuat. Jika logline kuat, skenario yang dihasilkan juga akan kuat.

Tak jarang, membuat logline hanya singkat ini bisa menghabiskan waktu berhari-hari. Jika Anda ingin menjadi penulis naskah profesional, buat minimal 50 logline setiap minggu.

Perhatikan kalimat berikut: Saya makan bakso.
Apakah kalimat tersebut merupakan cerita yang baik? Tidak. Karena cerita yang baik harus:
- Mengandung konflik - Ada pertaruhan - Ada kekuatan emosi - Karakter yang menarik

Modifikasi kalimat tersebut menjadi kalimat baru, yang mengandung cerita menarik, misalkan: Member JKT48 yang tiga hari belum makan, saat mau makan bakso, di tengah jalan ada Godzila.

Dalam kalimat tersebut terkandung: - Karakter menarik - Kekuatan emosi bagi (bagi para wota) - Konflik besar oleh karakter lemah - Pertaruhan, tiga hari tidak makan, sehingga jika tidak makan akan fatal.

Formulasi dasar Logline adalah: somebody wants something real bad, but having a hard time while having it. Jadi dalam logline, harus ada karakter, konflik yang harus mengandung stake, dan goal.

Ingat, logline harus singkat. Berlatihlah membuat logline dengan kurang dari 25 kata. Apakah itu hanya berlaku untuk film pendek saja? Tentu tidak. Perhatikan Logline berikut:
Leonidas, Raja Sparta, memimpin 300 orang pejuang untuk melawan 100.000 tentara Persia untuk mempertahankan negerinya.
Logline di atas terdiri dari 15 kata, yang dikembangkan menjadi film berdurasi 2 jam.

Rumus logline:
LOGLINE = (KARAKTER + GOAL) x KONFLIK

Ingat rumus dasar matematika?

LOGLINE = (1.000.000.000.000 + 1.000.000.000.000.000.000) x 0
LOGLINE = 0

Jadi sehebat apapun karakter Anda, sebesar apapun Goal karakter Anda, jika tidak ada konflik, maka tidak ada cerita. Cerita adalah bagaimana seorang karakter berusaha mendapatkan tujuannya, sementara ia dihalangi oleh sesuatu. Kita akan melihat perjuangan seseorang. Logline adalah merumuskannya dalam sebuah kalimat.

Jika sudah paham dengan konsep logline, berikut beberapa hal yang harus diperhatikan supaya logline Anda tidak terjebak menjadi sesuatu yang klise atau terlalu biasa.

1. Hindari kata yang terlalu general
Saat membuat logline, hindari menyebutkan “seorang pemuda”, “seorang wanita”, “seorang gadis”. Tapi cobalah menggunakan kata yang lebih spesifik.Ini yang bisa membuat logline Anda lebih kuat. Sebagai contoh, pada film My Name is Khan, jika dirumuskan logline-nya, bisa dituliskan sebagai berikut:
(1) Seorang penderita autisme Muslim pasca 9/11, berusaha menemui Presiden Amerika untuk menyatakan bahwa orang Muslim bukan Teroris.

Bayangkan jika penulisan logline-nya sebagai berikut:
(2) Seorang pemuda berusaha menemui Presiden Amerika untuk menyatakan Muslim bukan teroris.

Logline dengan nomor (1), dapat menimbulkan empati bagi calon penonton. Sementara jika ada yang pitching kepada saya Logline nomor (2), reaksi saya pribadi adalah:
- Iseng amat pemuda itu?
- Ya, Presiden Amerika sudah sering mendengar statement itu
- Oke, jadi pemuda ini akan menulis surat, menunggu audiensi, dan akhirnya bertemu presiden dan menyatakan itu. So what?

2. Logline Anda harus sudah menjanjikan sesuatu
Logline Dalam Membuat Film 2Jika Anda ingin membuat skenario horror, logline Anda harus sudah bisa membuat orang takut. Jika ingin membuat skenario komedi, Logline Anda harus sudah bisa membuat orang tertawa. Sekali lagi, dengan pilihan kata yang tepat, logline Anda bisa berpengaruh besar.
Logline Efek
Seorang pria akan berangkat kerja, namun dikejar Anjing

Perampok berdarah dingin ingin beraksi, namun dikejar pitbull

Perampok berdarah dingin ingin beraksi, namun dikejar cerberus

Pembunuh berdarah dingin ingin beraksi, namun dikejar pudel
Logline sampah, terlalu general. Then what?
Logline action


Logline horror


Logline komedi
Tiap logline di atas, hanya berbeda satu kata. Perbanyak referensi untuk membuat logline.

3. Buat goal yang besar, tapi bisa dikendalikan oleh karakter utama.
Penonton suka melihat kemenangan besar, dimana seorang tokoh yang dianggap lemah, akhirnya bisa melakukan sesuatu yang besar.

Kisah The Lord of the Rings misalkan, seorang Hobbit yang berusaha menyelamatkan Middle Earth dengan menemukan cincin yang mengendalikan cincin-cincin lain di sana.

Kisah Lord of the Rings menjadi menarik, karena bagaimana seorang hobbit yang kecil dan lemah, berusaha menyelamatkan realm-nya. Kisah ini akan kurang menarik jika tokoh utamanya adalah Dwarf, Elf, atau Treant yang lebih perkasa. Penonton ingin melihat sebuah perjuangan besar yang dilakukan oleh karakter utama.

Tapi hindarkan juga konflik yang terlalu besar, dimana karakter utama memperjuangkan sesuatu yang tidak bisa dikendalikan oleh karakter utama.

Contoh: Seorang siswa SD yang ingin menghentikan kiamat. Contoh logline tersebut terlalu besar, dan tidak masuk akal.

Basic action adalah usaha yang dilakukan protagonis untuk mencapai tujuannya.Semakin besar tujuan karakter utama, maka basic action yang harus diambil juga harus besar.

Dalam film My Name is Khan (2010), sang tokoh utama, Rizwan Khan (Shah Rukh Khan), ingin membuktikan bahwa muslim bukanlah teroris. Karena ia tidak memiliki cukup kekuatan, maka ia harus menemui Presiden Amerika untuk berkata bahwa “My name is Khan, and I’m not a terrorist”. Usaha Khan menjelajah Amerika untuk bertemu Presiden Amerika inilah yang disebut dengan basic action.

Sementara dalam film Finding Nemo (2003), sang tokoh utama, Marlin, seekor ikan badut, yang harus menjelajah Samudera Pasifik untuk menemukan anaknya, Nemo. Usaha Marlin menjelajah Samudera Pasifik inilah yang disebut dengan basic action.


Sumber: Buku Menulis Cerita Film Pendek: Sebuah Modul Workshop Penulisan Skenario Tingkat Dasar. Pusat Pengembangan Perfilman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2017.
Tim Penyusun: Perdana Kartawiyudha (koordinator), Baskoro Adi Wuryanto, Damas Cendekia, Melody Muchransyah, dan Rahabi Mandra.

Memahami Cerita dan Mengelolah Ide (Pengenalan Film Bagian 3)

Memahami Cerita dan Mengelolah Ide (Pengenalan Film Bagian 3)
Oleh Baskoro Adi dan Rahabi Mandra

1. Apa itu cerita?
Cerita adalah sebuah laporan, fiksi maupun nyata, baik tertulis maupun verbal tentang sebuah rangkaian kejadian yang saling berhubungan. Mengapa cerita yang baik itu penting? Perhatikan keadaan berikut:

(1)
Anda sedang tiduran di kamar, kemudian ibu anda msuk ke dalam kamar dan ngomel, “Kamu jangan ngerokok, jangan narkoba, jangan nakal, jangan pulang malam!” Kemudian ibu Anda keluar.

dan (2)
Ibu anda masuk ke kamar saat anda sedang tiduran. Beliau duduk dan bercerita, “Kamu ingat teman Papa, Om Anton? Beliau meninggal karena kanker paru-paru. Kamu jangan merokok ya?”.

Dari kedua keadaan di atas, keadaan nomor 1, sang Ibu menggunakan daftar untuk menasehati anaknya. Sementara keadaan nomor 2, sang Ibu menggunakan cerita. Keadaan nomor 2 jelas lebih mengena kepada pendengar.

Banyak pesan disampaikan melalui cerita. Kisah supaya tidak durhaka kepada orang tua, disampaikan melalui kisah Malin Kundang. Kisah supaya baik dengan saudara, disampaikan melalui kisah Cinderella dan Bawang Merah Bawang Putih. Bahkan banyak firman Tuhan disampaikan melalui cerita.

Kembali ke pertanyaan di atas: Mengapa cerita yang baik itu penting? Karena cerita yang baik akan mampu memanipulasi emosi.

Selalu ingat, kebanyakan keputusan yang dibuat oleh manusia, lebih banyak dipengaruhi oleh emosi daripada logika. Pengguna Apple, sadar bahwa dengan harga yang lebih rendah, mereka bisa membeli komputer dengan spesifikasi lebih baik, namun mereka tetap membeli komputer Apple yang harganya lebih tinggi. Keputusan yang dibuat berdasarkan emosi.

Seorang wanita bisa memilih seorang pria yang sudah jelas-jelas menyakitinya, sementara ada pria yang lebih baik tersedia. Keputusan yang dibuat juga berdasarkan emosi. Apakah banyak manusia seperti itu? BANYAK. Bahkan mungkin Anda salah satunya.

Begitu Anda bisa membuat cerita yang baik, Anda akan nyaris bisa menjual apapun.

2. Bagaimana mengolah ide?
Coba tanyakan ke penulis sukses/ternama, apa kiranya pertanyaan yang umumnya selalu mereka dapatkan. Biasanya mereka akan menjawab, “Dapat ide dari mana sih?”

Kita sebagai penggiat dunia kreatif pasti pernah merasakan kok kepala ini tidak bekerja ya, tidak ada ide muncul. Banyak penulis-penulis yang baru memulai sudah punya ketakutan duluan — takut kehabisan ide. Ya, banyak dari kita bisa mengerti keadaan ini. Untuk menghilangkan kekuatiran ini, ada baiknya kita menganggap ide seperti… kelinci deh. Kita pelihara saja dua, dan kalau kita bisa memelihara dan mengelolanya, tidak lama kemudian kita sudah punya selusin.

Beberapa orang memang bisa menulis dengan cepat, namun coba perhatikan saja – secepat-cepatnya orang menulis, penulis novel setidaknya menulis hanya satu dalam setahun, sementara penulis skenario layar lebar hanya dua hingga tiga tiap tahunnya. Jadi dalam setahun sebenarnya kita hanya butuh antara satu-tiga ide cerita yang bagus.

Sebenarnya cara terbaik untuk muncul dengan ide bagus itu adalah dengan memperhatikan hidup. Setiap penulis selalu “diberi” ide cerita setiap harinya, yang diantarkan oleh hidup. Persoalannya, tidak semua penulis menerimanya. Hanya penulis-penulis yang benar-benar memperhatikan hidup, memperhatikan kejadian sekitar, menjadikannya pengalaman, dan mengolahnya sedemikian rupa, baru bisa dikatakan “mendapatkan” ide cerita. Ini sama seperti peluang. Setiap hari peluang hilir-mudik dalam hidup kita, namun jika kita tidak menyadarinya, menangkapnya, maka peluang akan pergi begitu saja.

Kuncinya adalah harus siap sedia ketika ide datang. Ini bukan berarti hanya sekadar siap dengan pulpen dan kertas. Ini berarti juga siap secara mental untuk memperhatikan dan mengenali informasi yang selalu lalu-lalang dan menyentuh pikiran kita, bisa menjadi ide yang bermanfaat. Kapan terjadinya? Kapan saja – ketika kita lihat ada iklan menarik di billboard, ketika seorang teman tiba-tiba nyeletuk ide bagus, ketika di suatu hari ada masalah datang ke kita, atau ketika kita baru saja melewati rintangan berat dalam hidup kita – semua itu bisa diolah-alihkan hingga menjadi dasar dari cerita kita berikutnya, jika kita memang merasa demikian.

Dari dulu sampai sekarang, orang-orang besar dengan ide besar selalu mengutarakan rahasia mereka kepada kita: selalu bawa catatan dan pulpen. Pikiran kita hanya mampu menampung informasi baru dan menjaganya tetap segar selama tiga menit. Kalau tidak diabadikan di dalam catatan, kita bisa kehilangan sebuah ide selama-lamanya.

Andaikan kita sudah mencoba memelototi hidup, mencari ide ke segala penjuru, namun rasanya ide genius itu tidak kunjung muncul, lantas bagaimana? Masih ada beberapa cara untuk membimbing diri kita sendiri agar kita terdorong ke ide-ide itu.

3. Mengamati Berita
Sesekali kadang kita mendengar sebuah berita dari internet, radio, atau televisi, dan kita mendapatkan sebuah konsep menarik untuk dijadikan awal cerita. Yang kita tangkap dari berita memang bukan cerita utuh yang lantas kita ambil dan kita tuliskan ulang. Biasanya hanya berupa konsep pemikiran, atau bibit cerita. Misalnya kita mendengar kisah tentang anak luar biasa yang bisa menyembuhkan penyakit apapun dengan mencelupkan tangannya ke minuman pasien dengan sebuah batu. Bibit cerita bisa diambil dari anak luar biasa itu, dari batu, dari pasien yang berkebutuhan, dari celupan tangan, atau dari ide menyembuhkan segala penyakit.

Lantas salah satu ide itu bisa kita bawa kepada jenis cerita atau genre yang tengah menarik perhatian kita. Misalnya kita sedang ingin membuat horor – kita ambil ide batu dari berita tadi, dan kita bayangkan hantu-hantu yang bisa saja muncul dari batu tersebut, dan bahwa setiap pasien yang meminumnya akan dihantui. Atau misalnya kita sedang ingin membuat cerita romantis – kita bayangkan anak luar biasa yang dibutuhkan banyak orang ini sedang jatuh cinta dengan, misalnya, seorang anak pasien. Atau misalnya kita ingin membuat science fiction – kita bayangkan batu itu datangnya dari kelainan mineral di bumi ini, yang setelah ditelusuri, datangnya dari serpihan meteor yang baru terjadi belakangan ini.

Maka ketika kita mendengar sesuatu yang terjadi di sekitar kita, coba saja dihubung-hubungkan dengan jenis cerita yang sedang kita kembangkan.

4. Dokumenter Sejarah
Nah, di titik ini kita sadar bahwa sejarah itu penting. Penulis-penulis berpengalaman akan mengakui bahwa dokumenter sejarah itu sarat dengan ide cerita. Sejarah bisa bercerita tentang apa saja sebenarnya, hanya saja cerita-cerita itu adalah cerita terpilih yang karena kekuatan ceritanya maka tak lekang oleh waktu. Banyak sekali konsep di dalam sejarah yang bisa diselami, diambil, dan dikembangkan.

Dalam sejarah, kita punya perang, pemimpin-pemimpin politik dan perangainya, kita punya kehidupan, kematian, persatuan, adu kekuatan, cinta, dan yang paling penting, di dalamnya selalu ada konflik. Buku-buku dan film-film favorit kita kebanyakan terinspirasi oleh sejarah, baik secara nyata atau secara semu, dan kadang kita tidak menyadarinya.Sebagai contoh, serial Game of Thrones itu didasari pada sejarah Wars of the Roses di Inggris pada abad ke-15. Dua kubu yang sangat kuat, York dan Lancaster (diubah jadi Stark dan Lannister) bertempur demi kekuasaan. Film Gladiator dan King’s Speech secara nyata mengambil dari sejarah dan menceritakannya kembali.

5. Artikel Lama Koran
Kita bisa menemukan banyak sekali narasi kreatif pada korankoran lama. Ini bukan hanya karena isi pada artikel itu, tapi juga karena gaya penulisan di masa lalu juga sangat berbeda dengan sekarang. Selain itu, hal-hal yang terjadi dan dipercaya di masa lalu sangat mungkin berubah dan menjadi berbeda dari keadaan sekarang, sehingga “memaksa” kita untuk menggunakan cara berpikir yang berbeda juga agar bisa menerapkannya ke dalam cerita kita.

Sebagai contoh, andaikata kita besar di tahun 1990-an di Jakarta, pada saat itu era internet belum benar-benar menyatu dengan masyarakat. Lalu kita lihat artikel tentang sahabat pena, ketika seseorang bertukar surat dengan orang lain di lain kota atau negara. Lalu kita melihat sebuah artikel tentang temuan telepon seluler terbaru, dan kita lihat opini orang-orang terhadap hijab yang belum sepopuler sekarang.Ada nilai-nilai yang dipandang berbeda di saat itu dibandingkan sekarang, dan ini yang membuatnya menjadi menarik.

6. Menyatukan Kedua Hal Jadi Satu
Biasanya salah satu cara mudah membuat ide cerita yang menarik adalah dengan menyatukan dua elemen yang biasanya tidak bisa disatukan. Seperti contoh, pada tahun 2012 ada yang menyatukan konsep sejarah Abraham Lincoln dengan mitos vampir. Abraham Lincoln, menurut film tersebut, adalah vampir.

Kita juga bisa menyatukan dua karakter yang berseberangan ke dalam sebuah film. Cerita bisa bergulir dengan sendirinya karena kedua karakter tersebut otomatis menghasilkan konflik.

7. Sesuatu Yang Wajar Dikurangi Sesuatu
Bayangkan sesuatu yang penting hilang dari sebuah konsep yang kita cukup kenal baik. Bayangkan main golf tanpa stik golf. Bayangkan berbohong tanpa ada konsekuensi. Bayangkan bisnis tanpa pertukaran nilai. Bayangkan pacaran dengan jiwa tanpa raga. Bayangkan bumi tanpa manusia. Bayangkan sebuah negara tanpa presiden. Setelah membuang satu elemen dari sebuah konsep, biasanya pikiran kita bisa mengarah pada ide cerita yang baru.

8. Apa Jadinya Jika
Metode Apa Jadinya Jika atau What If? ini cukup populer di kalangan penulis dan penggiat kreatif. Hanya dengan mempertanyakan apa jadinya jika dunia ini dikuasai oleh mesin dan mesin tersebut menggunakan manusia sebagai sumber energi, maka jadilah film The Matrix. Contoh lain: apa jadinya jika seseorang jatuh cinta dengan orang lain yang hidup di rentang waktu yang berbeda. Contoh lain lagi: apa jadinya jika ada orang yang bisa menemukan mesin waktu.

Bayangkan hidup keseharian kita.Apa jadinya jika sesuatu yang fantastis hadir dalam hidup kita? Maksudnya tidak melulu harus fantasi atau fiksi ilmiah, bisa juga tentang pergerakan sosial yang belum pernah dicoba di sejarah dunia kita. Apa jadinya jika seorang laki-laki jatuh cinta pada operating system? Apa jadinya jika ada seseorang yang begitu terlatih hingga bisa menghancurkan satu pleton grup militer, atau seluruh keluarga mafia?

Kita bisa juga membayangkan apa jadinya jika konsep berbohong tidak pernah ada dalam kemanusiaan, atau apa jadinya jika manusia tidak pernah menemukan listrik. Kita juga bisa membayangkan apa jadinya jika seorang pemimpin memimpin satu dunia seutuhnya. Rasa takut dalam membayangkan “apa jadinya jika” akan memunculkan sebuah cerita horor yang menarik. Mengandaikan konsep hidup yang berbeda dari yang seharusnya bisa menghadirkan cerita yang menarik dan tidak terpikirkan oleh banyak orang.

Anda juga bisa mencoba berada di keramaian, dan memperhatikan orang lain. Bayangkan orang yang Anda perhatikan tersebut punya kisah. Ide juga bisa berasal dari pengalaman diri sendiri atau orang lain.

Tak jarang ide juga berasal dari alam bawah sadar. Saat Anda bermimpi, Anda dalam keadaan setengah sadar, Anda dalam pengaruh obat. Tambahkan formulasi “What if” dalam hal yang observasi tersebut.

Contoh: Anda berada di halte bis, kemudian ada seorang gadis yang menarik perhatian Anda. Dia menggunakan sepatu boots, memakai jins, jaket kulit, dandanan gothic, tato. Kemudian, percikkan pertanyaan-pertanyaan “what if (bagaimana jika)”.
What if she’s an alien?
-  Bagaimana jika dia adalah pembunuh berantai?
- Bagaimana jika dia adalah seorang relawan dengan 40 adik asuh?
- Bagaimana jika dia hafal Al Qur’an?
- What if she’s a super hero who fight crimes during our sleep?
- What if ....
- Bagaimana jika ....


Sumber: Buku Menulis Cerita Film Pendek: Sebuah Modul Workshop Penulisan Skenario Tingkat Dasar. Pusat Pengembangan Perfilman Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. 2017.
Tim Penyusun: Perdana Kartawiyudha (koordinator); Baskoro Adi Wuryanto; Damas Cendekia; Melody Muchransyah; Rahabi Mandra.

Pengenalan Film Bagian 2

Pengenalan Film Bagian 2
oleh Rahabi Mandra

1. Film Independen
Bila semua hal yang telah dibahas pada Pengenalan Film (Part 1) rasanya terlalu rumit, mungkin bisa dimulai dengan membuat film independen. Pembuatan film independen, atau independent filmmaking, adalah proses pembuatan film yang tidak menggunakan pakem-pakem mainstream di atas. Karena keterbatasan atau kebutuhan tertentu, pembuat film memutuskan untuk memproduksi dengan caranya sendiri. Hal ini bisa dilakukan mengingat perkembangan teknologi yang ada sekarang memungkinkan seseorang untuk syuting dan mengedit film mereka sendiri, merekam dan mengedit suara, membuat musik, dan mematangkan film menggunakan komputer rumah.

Walau proses produksi sudah demikian mudah dicapai, masih ada tahap-tahap yang tetap memiliki tantangan tersendiri bila tidak menyesuaikan dengan sistem yang ada, di antaranya adalah tahap pencarian modal, distribusi, dan pemasaran. Dulu, para pembuat film independen mengandalkan tahapan ini pada festival film (seperti Sundance, Venice, Berlin, Cannes, dan Toronto) agar film mereka dilirik dan bisa dijual ke distributor dan produser. Sekarang ini internet sudah memberikan jalan bagi pembuat film independen untuk mendistribusikan film mereka menggunakan platform-platform dengan biaya murah atau tanpa biaya sama sekali. Pembuat film skala besar, pembuat film independen, studio besar, rumah produksi kecil, semua berbaur di sana. Semua pihak punya kesempatan yang sama untuk menjual atau menayangkan film mereka. Tidak menutup kemungkinan pada sebuah platform penayangan kita bisa melihat satu film layar lebar berbiaya besar dari California bersanding dengan satu film independen berbiaya murah dari Tegal.

Dengan distribusi film melalui internet, pembuat film independen yang tidak memiliki akses kepada distributor, kini memiliki kemampuan untuk meraih penonton global.

2. Sikap pembuat film sebagai individu dan sebagai bagian dalam tim
Orang-orang biasanya plin-plan, angin-anginan, dan sulit diprediksi jika sudah berhadapan dengan situasi yang genting sebagaimana biasa terjadi di set syuting. Seorang sutradara harus bisa menjaga emosi dan kondisinya walaupun pemodal bersila tangan di belakang monitor meminta ini itu, produser meminta scene tambahan karena dirasa penting untuk penjualan, dan aktor yang tidak mau memakai kostum karena ia rasa tidak sesuai perannya. Seorang sutradara (dan produser) yang baik harus bisa berkepala dingin dan menentukan langkah terbaik untuk mendekati kru, aktor, dan pemodal agar bisa mencapai visi yang diinginkan dalam film itu.

Ini bukan hal yang mudah. Mau tidak mau harus diakui bahwa seorang sutradara harus bisa memanipulasi, atau dalam istilah yang lebih positif, mampu bernegosiasi.Keahlian yang harus dimiliki untuk menguasai kemampuan ini sebenarnya bukan kepekaan terhadap estetika, tetapi keahlian berkomunikasi secara efektif bahkan pada saat situasi buruk. Seorang sutradara yang baik harus pintar berbicara, namun lebih penting lagi harus pandai mendengarkan.

Kemampuan mendengarkan wajib dimiliki untuk pekerjaan apapun yang menuntut adanya komunikasi, termasuk berjualan. Sutradara menjual konsep, menjual ide. Penjualan adalah mendengarkan. Penjual yang hebat tidak hanya mendengarkan kata-kata; ia mendengarkan momen-momen diam, bahasa tubuh, hal-hal yang tidak diucapkan, bunyi gesekan tangan, ketukan kaki, gemeretak gigi. Seorang sutradara harus bisa mendengarkan agar memahami apa yang sebenarnya diinginkan produser dan pemodal. Lalu ia harus mengerti apa yang harus dikatakan dan bagaimana cara menyampaikan keinginan itu.

Hal ini tidak hanya berlaku pada sutradara atau produser. Seorang penulis skenario, desainer produksi, director of photography, editor, penata musik, dan posisi-posisi penting lainnya juga dituntut memiliki keahlian berkomunikasi. Karena pada dasarnya pembuatan film adalah kerja sama tim.

Berikut adalah beberapa pedoman yang bisa dipertimbangkan ketika kita mengambil peran dalam sebuah produksi, di tahap apapun:
  1. Gunakan intuisi. Ketika mempekerjakan kru atau memilih proyek ini atau itu dari investor ini atau itu, lakukan riset sebelumnya. Setelah itu, pertimbangkan dengan matang, dan dengarkan diri sendiri. Jika rasanya tidak tepat atau tidak cocok, cari yang lain. Setelah memahami seluk-beluk film, kita akan memahami bahwa beberapa keputusan tidak bisa diambil hanya dengan logika saja. Kadang-kadang menggunakan intuisi lebih bermanfaat pada akhirnya. Lebih baik menunggu investor yang tepat dua bulan lagi ketimbang bekerja sama dengan investor yang salah dan harus terima nasib untuk waktu yang lama.
  2. Pilih orang yang memiliki keahlian/perspektif yang berbeda. Semua orang terlahir dengan bakat dan keahlian yang berbedabeda; pandai di satu hal, buruk di hal lain. Jika kita bekerja dengan orang yang memiliki perspektif berbeda, suatu masalah dapat langsung dilihat dari berbagai sudut pandang, dan bisa diselesaikan melalui banyak pilihan. Keberadaan orang-orang dengan keahlian yang berbeda di dalam tim juga akan memperkuat tim tersebut. Semakin banyak keahlian, semakin banyak senjata untuk menyelesaikan masalah secara kreatif.
  3. Tetap kalem, tetap adem. Jika sedang ada di tengah-tengah meeting dan suasana memanas, mundur selangkah dari perdebatan dan biarkan diskusi berlangsung supaya kita bias merasakan apa yang sebenarnya terjadi, dan mengapa situasi memanas. Yang penting adalah semua permasalahan harus terlihat dengan jelas agar bisa dipadamkan, dan hal ini hanya bisa dilakukan dengan kepala dingin.
  4. Jangan bawa-bawa perasaan. Perasaan memang baik adanya dibawa-bawa dalam berpacaran, tapi tidak demikian halnya dalam bekerja.Kalau ada yang membuat kesal, biarkan lewat, tunggu rasa kesal berlalu, kemudian segera bergerak dan menyelesaikan masalah secara obyektif. Diingat saja bahwa kebanyakan orang melakukan sesuatu tidak ditujukan kepada orang lain, tetapi untuk kemaslahatan diri sendiri.
  5. Perkuat pasukan. Masalah-masalah akan datang dan tidak bisa dihindari. Harus dihadapi. Ketimbang menegur tim, coba cari cara untuk memperkuat mereka. Jika mereka melakukan sesuatu yang tidak kita sukai, coba pikirkan apa yang sebenarnya kita inginkan dari mereka; lalu beri mereka tugas yang kita tahu mereka akan bisa selesaikan. Ketika tugas selesai dikerjakan, jangan lupa untuk memuji dan berterimakasih. Kadang-kadang orang lupa kekuatan apresiasi dan terima kasih.
  6. Beri pertanyaan. Ketika suatu permasalahan muncul dan kita ingin membuka pembicaraan dengan kru, mulai dengan pertanyaan. Pertanyaan yang dilontarkan jangan bersifat menuduh, dan biarkan mereka membawa kita pada akar permasalahan. Jangan bergerak berdasarkan asumsi sampai semua masalah terang benderang.
  7. Memahami perbedaan karakter setiap orang. Kita harus bisa menyesuaikan diri dengan rekan kerja kita, agar tugas bisa segera selesai. Ada beberapa orang yang perlu tuntunan dan arahan lebih. Ada beberapa orang yang cukup dijelaskan dengan kata-kata. Ada beberapa orang yang perlu didorong dan diberi motivasi. Ada juga yang sangat sensitif dan jika didiamkan malah dapat menyelesaikan pekerjaan dengan lebih baik. Ada yang tidak bisa menjelaskan dengan baik, sehingga membutuhkan waktu. Kita harus bisa merespon pada setiap orang dengan caracara yang pada akhirnya membuat aktivitas jadi produktif.
  8. Tetapkan target yang realistis. Tidak ada orang yang suka kegagalan. Jika kita membuat keputusan yang mempengaruhi tim, buat agar mereka juga merasa dilibatkan dalam pengambilan keputusan tersebut. Coba untuk membuat target bersama-sama, atau menentukan target dan menanyakan pada tim apakah target tersebut dapat dilaksanakan. Libatkan mereka ke dalam strategi kita supaya mereka merasa menjadi bagian dari rencana kita. Ketika target sudah ditentukan, jalani dengan penuh keyakinan sampai tujuan. Sedikit saja keraguan muncul dari kita, maka semangat tim pasti langsung goyah.
  9. Jujur dan baik hati. Tidak ada kata yang lebih tepat daripada kata-kata klise dalam pelajaran moral ini.Kebaikan hati dan kejujuran seringkali tidak lagi dianggap sekarang ini. Belakangan ini pendekatan yang lebih keras, seperti suara lantang, menjadi penuntut, dan tanpa kompromi, nampaknya adalah cara yang efektif untuk mendapatkan hasil yang terbaik dari seseorang. Belum tentu. Orang-orang akan merespon kejujuran dan kebaikan hati dengan cara yang positif. Melatih cara berbicara kepada tim dengan keterbukaan dan perhatian akan mendapatkan hasil yang lebih produktif, bahkan dalam situasi yang buruk sekali pun.
  10. Tanya apa yang dibutuhkan oleh tim. Pada saat melakukan wawancara, coba untuk tanyakan kepada calon kru atau pemain apa kira-kira yang dibutuhkannya agar pekerjaan dapat diselesaikan dengan baik. Dengan menanyakan pertanyaan ini akan menunjukkan bahwa kita peduli dan ingin tahu betul potensi yang mereka miliki. Dengan demikian, setelah mereka menyatakan hal-hal yang dapat membangkitkan semangat mereka untuk bekerja, mereka juga akan terdorong untuk melakukan yang terbaik untuk proyek kita.


Sumber: Buku Menulis Cerita Film Pendek: Sebuah Modul Workshop Penulisan Skenario Tingkat Dasar. Pusat Pengembangan Perfilman Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. 2017.
Tim Penyusun: Perdana Kartawiyudha (koordinator); Baskoro Adi Wuryanto; Damas Cendekia; Melody Muchransyah; Rahabi Mandra.

Pengenalan Film (part 1)

Film Pendek 01

 oleh Rahabi Mandra

a. Film, sinema, movie, moving pictures
Kata “film” sudah ada sejak sekitar tahun 1600-an—bahasa Inggris lama—yaitu filmen, artinya lapisan, atau kulit, atau membran. Baru pada tahun 1845 mencuat teknologi fotografi, dan makna film menjadi lapisan gel kimia yang dipakai pada plat fotografi. Tahun 1895, pita seluloid untuk merekam gambar disebut film (lapisan berikut kertasnya). Baru pada tahun 1920, para penggiat perekam gambar merasa bahwa gambar bergerak yang mereka buat bukan lagi sekadar rekaman, melainkan suatu bentuk karya, suatu ciptaan seni. Maka makna film bergeser, cukup jauh, dari sekadar lapisan, menjadi suatu bentuk seni.

Sebuah film, pada dasarnya adalah serangkaian gambar diam yang jika ditampilkan bergantian secara berkesinambungan, menciptakan ilusi gerak. Ilusi optik ini disebut juga fenomena phi. Penyebabnya adalah kinerja mata dan otak manusia yang disebut persistence of vision, menyimpan persepsi imaji yang dilihat sebelumnya dan membawanya ke imaji berikut. Contoh mudah menjelaskan ini adalah dengan menggunakan mainan thaumatrope. Satu sisi adalah sangkar kosong, sisi lain adalah seekor burung. Bila mainan itu diputar dan kedua imaji tersebut dipertontonkan pada mata secara bergantian secara berkesinambungan secara cepat, maka akan tercipta ilusi bahwa burung ada di dalam sangkar.

Ini adalah dasar dari film atau gambar bergerak. Dari dasar ini maka secara etimologi muncul istilah moving pictures (gambar bergerak), yang lalu dipendekkan menjadi movie sebagai istilah tidak baku. Istilah sinema berasal dari bahasa Perancis cinéma, yang merupakan kependekan dari cinématographe, istilah yang dilontarkan penciptanya, Lumiere bersaudara.Asal kata ini berasal dari bahasa Yunani κίνημα (kinima), yang berarti gerakan, dari kata kerja κινώ (kino), yang berarti gerak.

Istilah-istilah ini perlahan mengalami pergeseran makna. Sinema sering dimaknai sebagai industri film atau sebagai seni pembuatan film. Makna sinema yang beredar sekarang cenderung ke arah pembuatan film sebagai karya, sebuah bentuk seni untuk menyimulasikan pengalaman-pengalaman dan mengomunikasikan ide, cerita, persepsi, perasaan, keindahan, atau atmosfer dengan menggunakan rangkaian gambar bergerak yang sudah terekam atau terprogram, termasuk di dalamnya rangsangan-rangsangan sensori lainnya.

Di luar negeri, makna movie, moving pictures, atau motion pictures, sebenarnya tidak lebih dari tontonan yang mengarah ke hiburan. Sementara istilah film atau sinema sering dimaknai lebih dari sekadar tontonan; lebih mengarah ke seni dan karya. Film-film “serius” untuk festival jarang memberi label movie pada karya mereka. Mereka lebih memilih istilah film.

Dalam bahasa Indonesia kita hanya menggunakan istilah film saja (atau pelem) untuk mendefinisikan gambar bergerak, baik itu tontonan yang menghibur, atau karya seni. Hanya sedikit kalangan pendidikan dan penggiat film yang memilih menggunakan kata sinema.

b. Kekuatan film sekarang ini
Proses pembuatan film berpijak pada ranah seni dan ranah industri. Sebuah film dibuat dengan merekam gambar dari kejadian aktual menggunakan kamera gambar bergerak; dengan merekam gambar-gambar, coretan, model-model miniatur, menggunakan teknik animasi tradisional; menggunakan teknik CGI (computer-generated imagery) dan animasi komputer; atau dengan mengombinasikan sebagian atau semua teknik ini serta penggunaan efek visual lainnya.

Film adalah artefak budaya yang dibuat oleh budaya tertentu. Film merefleksikan budaya tersebut, sekaligus mempengaruhinya. Film “Ada Apa Dengan Cinta” merupakan refleksi dari cara hidup anak SMA pada suatu masa, tentang seorang siswi supel dan kisah cintanya dengan siswa pendiam yang suka menyendiri. Siswa ini suka baca buku “Aku” karya Chairil Anwar, dan setelah film ditayangkan, berbondong-bondonglah para penonton mencari buku itu dan membacanya. Film menjadi cerminan cara hidup suatu masyarakat, sekaligus mempengaruhinya.

Dengan memahami hal ini, maka film bisa dianggap sebagai bentuk seni yang penting, sumber hiburan yang populer, dan medium yang sangat kuat untuk mendidik — atau mendoktrin — masyarakat. Basis visual dan audio dalam film memberinya kekuatan komunikasi secara universal, karena pada dasarnya semua manusia berkomunikasi dengan melihat dan mendengar. Beberapa film telah menjadi populer di seluruh dunia dengan menggunakan terjemahan suara atau teks, menjadi bahasa pemirsa yang dituju.

c. Tahapan kerja dalam film
Pembuatan film memiliki lima tahapan besar:
Development (Pengembangan) — tahap pertama ketika ide-ide untuk film dibuat, hak cipta terhadap novel atau pertunjukan dibeli, serta ketika skenario dibuat. Pencarian dana dilakukan pada tahap ini dan diselesaikan.
Pra-produksi — persiapan untuk syuting dilakukan di tahap ini. Kru dan pemain ditentukan, lokasi syuting dipilih dan dikunci, semua set dibangun.
Produksi — semua elemen-elemen mentah (gambar, suara, efek visual) dari film direkam selama proses syuting.
Pasca-produksi — Gambar, suara, efek visual, dan semua elemen yang sudah direkam diedit dan dimatangkan di tahap ini.
Distribusi — Hasil akhir film didistribusikan dan ditayangkan di bioskop, festival, atau tempat-tempat penayangan lainnya.

Development
Pada tahap ini, produser dari proyek film memilih cerita, bisa datang dari buku, pertunjukan teater, dari film lain, dari kisah nyata, video game, komik, novel grafik, ide original, dan lain-lain. Setelah menentukan tema atau mengembangkan pesan yang ingin disampaikan, produser bekerja dengan penulis skenario untuk menyiapkan sinopsis. Selanjutnya, mereka membuat outline atau kerangka untuk menjabarkan cerita menjadi adegan-adegan dan fokus pada pembentukan struktur dramatik. Salah satu cara lain (yang biasa dilakukan di animasi) untuk mengembangkan sinopsis menjadi skenario adalah melalui pembuatan treatment, biasanya 25-30 halaman berisi deskripsi cerita, mood, dan karakter. Biasanya hanya sedikit sekali dialog dan pengarahan adegan, dan berisi gambar-gambar untuk mempermudah visualisasi adegan-adegan penting.

Selanjutnya, seorang penulis skenario menulis skenario selama beberapa bulan. Penulis skenario bisa melakukan rewrite beberapa kali untuk mengembangkan dramatisasi, kejelasan tulisan, struktur, karakter, dialog, dan keseluruhan style cerita. Kadang-kadang produser melewati proses perbaikan yang dilakukan penulis skenario, dan memasukkan skenario yang sudah dimiliki ke dalam proses script coverage; produser membawa skenario kepada investor, studio, production house lain, dan pihak-pihak terkait yang berminat untuk menilai (dan memperbaiki) skenario tersebut. Produser akan memiliki catatan-catatan menyeluruh terhadap skenario, untuk kemudian bisa diperbaiki oleh penulis skenario, script doctor, atau oleh penulis skenario lain.

Distributor film sudah bisa dihubungi pada tahap ini, agar mereka bisa menilai di pasar seperti apa film ini bisa dijual, dan menilai potensi suksesnya film ini secara finansial. Distributor-distributor Hollywood mengadopsi pendekatan bisnis yang keras dan menganggap penting faktor-faktor seperti genre film, target penonton, kesuksesan film-film yang mirip yang pernah dibuat sebelumnya, aktor-aktor yang bisa muncul di film, serta sutradara-sutradara potensial. Semua faktor ini dapat memberi gambaran sebuah film dapat memiliki sekian calon penonton. Tidak semua film meraih keuntungan dari penayangan di bioskop saja, jadi perusahaan-perusahaan film akan mempertimbangkan kemungkinan pemasukan lain lewat penjualan DVD, penayangan di televisi, serta bentuk distribusi lain.

Produser dan penulis skenario mempersiapkan proposal film, atau treatment, dan mempresentasikannya pada calon pendana. Mereka juga mempresentasikan film pada aktor dan sutradara untuk “mengikat” mereka pada proyek ini. Ada juga proyek yang sudah melibatkan sutradara sejak tahap pembuatan cerita.

Tahap pencarian dana dan dukungan ini tidak mudah. Banyak proyek yang gagal melewati tahap ini. Bila presentasi berhasil, film menerima “lampu hijau,” artinya proyek tersebut sudah dapat dukungan finansial: dari production house atau studio besar, investor independen, atau kumpulan/asosiasi/penggiat film. Setelah semua pihak bertemu dan kesepakatan disetujui, film berlanjut ke tahap pra-produksi. Sampai titik ini, sebuah film sudah seharusnya memiliki strategi pemasaran dan target penonton yang jelas.

Tahap development untuk film-film animasi berbeda sedikit, karena biasanya sutradara yang mengembangkan dan mempresentasikan cerita kepada produser eksekutif berdasarkan storyboard yang masih kasar. Untuk animasi, jarang sekali ditemukan skenario penuh pada tahap ini. Jika film animasi dapat lampu hijau untuk tahap selanjutnya, maka penulis skenario baru dilibatkan untuk mempersiapkan skenario.

Pra-Produksi
Pada tahap pra-produksi, setiap langkah konkrit dalam membuat film benar-benar didesain dan direncanakan dengan matang. Perusahaan didirikan dan kantor produksi dibangun. Konsep film dibayangkan dan diprevisualisasikan oleh sutradara, dan bisa dibuatkan storyboard dengan bantuan ilustrator dan storyboard artist. Anggaran produksi dibuat untuk memperkirakan biaya pengeluaran. Untuk produksi besar, biasanya akan memperhitungkan asuransi untuk perlindungan terhadap kecelakaan.

Di tahap ini, produser juga mempekerjakan kru. Kebutuhan cerita dan biaya akan menentukan jumlah dan jenis kru yang terlibat selama pembuatan film. Banyak sekali film terkenal hollywood yang mempekerjakan ratusan kru plus pemain, sementara film independen beranggaran rendah memiliki delapan kru saja (atau bahkan kurang).

Berikut beberapa posisi kru yang biasa hadir dalam sebuah produksi:
Storyboard artist: membuat gambar-gambar untuk membantu sutradara dan desainer produksi mengomunikasikan ide mereka kepada tim produksi.

Sutradara: tanggung jawab terbesarnya adalah penceritaan, keputusan-keputusan kreatif, dan kualitas akting yang ada dalam film.

Asisten sutradara (astrada): tugas umumnya adalah mengelola jadwal syuting dan logistik produksi, di antara banyaknya tugas yang lain. Ada berbagai macam astrada, dan masing-masing memiliki tanggung jawab yang berbeda, sesuai pembagian tugas secara khusus.

Manajer produksi: mengelola anggaran produksi dan jadwal produksi. Manajer produksi juga bisa memberikan laporan — atas nama produser, perusahaan atau rumah produksi — kepada para eksekutif dan pemodal.

Manajer lokasi: menemukan dan mengelola lokasi-lokasi syuting. Lokasi syuting bisa di dalam sebuah studio dengan lingkungan yang bisa dikontrol, atau langsung di lokasi, misalnya pasar, gunung, atau laut.

Desainer produksi: menciptakan konsep visual film, bekerja sama dengan penata artistik.

Penata artistik: mengelola departemen artistik, yaitu membangun atau menata set.

Desainer kostum: membuat dan mengelola pakaian untuk semua karakter dalam film.

Penata rambut dan make up: bekerja sama dengan desainer kostum untuk menciptakan tampilan tertentu untuk sebuah karakter.

Casting director: menemukan aktor yang tepat untuk mengisi peran-peran dalam skenario. Untuk ini biasanya seorang casting director akan melakukan audisi.

Koreografer: membuat dan mengoordinasikan gerak dan tari — biasanya untuk film musikal. Bisa juga ditemukan kredit koreografer laga (fight choreographer) untuk film action/laga.

Director of photography (DoP/DP): adalah seseorang yang memimpin dan menjaga kualitas fotografi dari keseluruhan film, termasuk di dalamnya kualitas gambar, pencahayaan, dan gerak kamera.

Sound recordist: adalah seorang kepala departemen suara selama tahap produksi, bertanggungjawab merekam dan melakukan mixing suara di set—biasanya dialog dan efek suara direkam dalam mono, dan ambiens dalam stereo. Mereka bekerja dengan operator boom.

Sound designer: menciptakan konsep aural dalam film. Dalam beberapa produksi, seorang sound designer kadang disebut sebagai director of audiography.

Music Composer: menciptakan musik untuk film (biasanya baru dimulai pada tahap pasca produksi).

Produksi
Dalam tahap produksi, pengambilan gambar, suara, dan elemen mentah lainnya dilakukan. Kru akan lebih banyak dipekerjakan di sini, seperti property master, script continuity report/script supervisor, asisten sutradara, fotografer still, on location editor, dan sebagainya. Ini hanya sebagian peran yang biasa muncul dalam pembuatan film; sebuah rumah produksi memiliki kebebasan untuk mengombinasikan, menyatukan, atau memilah peran-peran para kru sesuai dengan kebutuhan produksi.

Bayangkan suatu hari syuting dimulai. Biasanya kita akan melihat kru tiba di set/lokasi sesuai dengan call time yang ditetapkan. Para kru di Indonesia biasa menyebutnya kolingan (callingan). Para aktor biasanya punya waktu kolingan yang berbeda. Konstruksi set, penataan set, dan penataan cahaya biasanya memakan waktu berjam-jam atau bahkan berhari-hari, sehingga biasanya dilakukan jauh sebelum syuting dimulai.

Grip (tim yang bertanggung jawab dalam mengoperasikan alat pendukung kamera seperti crane, dolly, stabilizer, dan sebagainya), gaffer (chief lighting) dan tim lighting, dan kru desain produksi biasanya akan mengerjakan satu langkah di depan departemen kamera dan suara; agar efisien, mereka akan mempersiapkan scene berikutnya sementara departemen lain melakukan perekaman.

Pada saat kru mempersiapkan alat-alat, para pemeran akan dipakaikan kostum dan didandani oleh departemen kostum, tata rambut dan make-up. Para pemeran melatih script dan blocking (posisi pemain dalam kaitannya dengan posisi kamera) bersama sutradara. Tim kamera dan suara akan ikut berlatih bersama mereka sambil melakukan penyesuaian. Pada akhirnya, adegan akan direkam, kemungkinan besar berulang-ulang, sebanyak yang dibutuhkan sutradara. Pada umumnya, berikut adalah prosedur yang biasa terjadi pada saat pengambilan gambar:

Asisten sutradara akan menyerukan “set clear!” atau “stand by!” atau “picture is up!” untuk memberitahu semua orang bahwa pengambilan gambar akan dilakukan, dilanjutkan dengan “tenang semua!” atau “quiet, everyone!” Setelah semua kru siap untuk merekam, astrada akan menyerukan “sound” atau “roll sound” (jika perekaman melibatkan suara), dan sound recordist akan merekam suara sambil menyerukan “sound speed,” “sound roll,” atau “roll” saja. Clapper (orang yang memegang clap di depan kamera), akan menyebutkan nomor scene, nomor shot, dan nomor take. Astrada lanjut memanggil “kamera” dan dijawab “speed!” oleh operator kamera persis setelah kamera mulai merekam. Kamera operator juga bisa mengganti jawaban itu dengan perintah “mark it!” kepada clapper. Clapper segera menutup clap dan mencari posisi aman agar tidak terekam. Jika adegan melibatkan figuran/extras dan akting pada background, astrada akan memberi kode pada mereka “background action!” Terakhir adalah sutradara (atau kadang-kadang astrada, jika dibutuhkan) yang memerintahkan “action!” kepada pemeran utama.

Sebuah take akan selesai ketika sutradara menyerukan “cut!” dan kamera serta suara akan berhenti merekam. Seorang script continuity report/script supervisor akan mencatat segala hal yang bersangkutan dengan kesinambungan adegan, sementara tim suara dan kamera akan membuat catatan teknis tentang take tersebut di lembaran laporan masing-masing. Jika sutradara memutuskan melakukan take lagi, maka seluruh proses akan diulang. Setelah puas, kru akan bergeser ke posisi atau “setup” kamera berikutnya dan merekam lagi, terus saja sampai scene tersebut tercakup semua. Setelah syuting scene tersebut selesai, astrada akan menyerukan “bungkus” atau “wrap” atau “moving on” atau “next scene.” Setiap kru yang bersangkutan akan membereskan scene tersebut dan pindah ke scene berikutnya, atau selesai.

Pada akhirnya, sutradara akan mengesahkan jadwal syuting hari berikutnya, dan laporan progres harian (daily progress report) akan dikirim ke rumah produksi. Di dalam laporan ini termasuk juga laporan continuity, suara, dan tim kamera. Setiap kru dan pemain akan menerima call sheet yang akan memberitahukan mereka kapan dan di mana mereka harus berada pada esok harinya. Setelah itu, sutradara, produser, kepala departemen, dan kadang-kadang pemain, bisa berkumpul bersama dan menyaksikan footage (bahan rekam, disebut juga dailies) yang diambil pada hari itu, dan mengulas hasil kerja mereka.

Jam kerja dalam satu hari syuting berkisar antara 14 sampai 18 jam, berbarengan terus dalam satu lokasi. Bentuk kerja seperti ini biasanya membangun semangat dan solidaritas setiap orang yang terlibat di dalamnya. Maka ketika syuting selesai, biasanya rumah produksi akan mengadakan wrap party, untuk berterimakasih pada kru dan pemain atas usaha mereka.

Untuk produksi live-action (adegan nyata, bukan adegan berbasis CGI), salah satu tantangannya adalah menyelaraskan jadwal kerja dari pemain utama dan para kru, karena pada setiap scene yang akan direkam, mereka dituntut hadir di waktu dan tempat yang sama. Film animasi memiliki alur kerja yang berbeda; para pengisi suara bisa merekam suara mereka di studio rekam pada waktu yang berbeda dan baru bertemu satu sama lain pada saat penayangan perdana; pembuat gerak rambut dan pembuat tekstur kulit pada suatu karakter bisa tidak bertemu sama sekali.

Pasca-produksi
Pada tahap ini, materi mentah syuting “dimasak” kembali oleh editor. Bayangkan sebuah dapur dan seorang koki, bahan masakan terbaik sudah dipetik, tinggal diracik hingga matang. Editor memilah shot dan membangun lagi adegan-adegan. Tidak menutup kemungkinan bahwa struktur penceritaan yang ada di skenario bisa berubah total setelah masuk ruang editing. Adegan di menit 60 bisa saja dipindahkan ke awal film, dan adegan ending bisa diletakkan di tengah-tengah, dan sangat memungkinkan menjadikan film itu memiliki struktur yang lebih baik.

Desain suara juga dilakukan di tahap ini. Dialog-dialog diedit dan dikembangkan kualitasnya; musik dan lagu dibuat dan diaransemen (jika film tersebut memiliki konsep memakai music score); efek suara didesain dan direkam, termasuk di dalamnya penambahan suara langkah, suara pintu, suara ledakan, suara napas, dan lain sebagainya. Penambahan suara ini bisa dibuat kembali di dalam studio, dikenal dengan istilah foley, atau bisa membeli atau memanfaatkan suara yang sudah ada di sound library.

Lalu visual efek berbasis komputer grafik juga dilakukan di tahap ini, seperti menambahkan efek darah, pecahan kaca pada mobil, menggeser posisi bulan, menambah awan dan pepohonan pada sebuah scene pemandangan, memperbanyak jumlah manusia pada stadion, dan lain sebagainya. Setelah semua gambar lengkap, film akan diwarnai kembali oleh colorist sesuai dengan look yang diharapkan. Warna antar shot diselaraskan (karena biasanya shot satu dan shot lain memiliki komposisi warna yang beda, atau sering disebut belang). Biasanya film-film horor akan memanfaatkan warna-warna dingin, sementara film drama romantis akan menggunakan warna-warna hangat.

Akhirnya, ketika semua elemen visual selesai dimasak, dan semua elemen suara selesai dibuat, maka semuanya akan disatukan, dan film selesai dibuat.

Distribusi
Distribusi adalah tahap akhir. Di industri film di luar ada peran distributor yang bekerja mendistribusikan film. Di Indonesia, biasanya produser sendiri yang melakukan distribusi. Film yang sudah dibuat dirilis ke bioskop, ke festival, atau bisa juga langsung ke konsumen melalui media DVD, VCD, Blu-ray, atau unduh langsung dari provider media digital. Film akan diduplikasi sesuai kebutuhan (ke pita film atau ke hard drive) dan didistribusikan ke bioskop untuk ditayangkan. Produser atau distributor akan mempublikasikan poster, flyer, press kit, trailer film, dan materi pemasaran lainnya untuk mempromosikan film. Tidak menutup kemungkinan bagi produser atau distributor untuk merilis materi mentah film kepada kalangan tertutup (pers dan wartawan) ditambah rekaman dokumentasi di balik layar, untuk memperkuat promosi.

Distributor film biasanya merilis film dengan mengadakan launch party, premiere beserta red-carpet, press release, wawancara dengan wartawan, preview bersama pers, dan penayangan pada festival film. Banyak film yang berpromosi menggunakan website tersendiri, terpisah dari website milik production house atau milik distributor. Untuk film-film skala besar, pemain dan kru penting biasanya dikontrak untuk berpartisipasi mempromosikan film melalui tur. Mereka diminta hadir ke festival dan penayangan perdana, diwawancarai oleh televisi, radio, jurnalis cetak dan online. Film tertentu mungkin saja melakukan tur lebih dari satu kali, untuk memunculkan kembali permintaan pasar terhadap film tersebut selama jangka waktu tayang berlangsung.

Urutan penayangan biasanya memiliki pola tertentu. Awalnya sebuah film akan ditayangkan di bioskop-bioskop terpilih, atau apabila gaungnya sudah terdengar luas, bisa langsung ditayangkan secara luas dan bersamaan di seluruh bioskop. Beberapa minggu atau beberapa bulan setelah penayangan, film biasanya dirilis ke segmen pasar yang berbeda melalui rental film, retail (DVD, Blu-ray), pay-per-view, in-flight entertainment, televisi kabel, satelit, atau televisi lokal dan nasional (free-to-air). Hak distribusi juga bisa diperjualbelikan dengan distributor luar negeri untuk mencakup pasar internasional. Distributor dan rumah produksi akan berbagi keuntungan.


Sumber: Buku Menulis Cerita Film Pendek: Sebuah Modul Workshop Penulisan Skenario Tingkat Dasar. Pusat Pengembangan Perfilman Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. 2017.
Tim Penyusun: Perdana Kartawiyudha (koordinator); Baskoro Adi Wuryanto; Damas Cendekia; Melody Muchransyah; Rahabi Mandra.

Skripsi: Peningkatkan Kemampuan Membaca Melalui Metode Pembelajaran Membaca Kritis

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Masalah minat baca sampai saat ini masih menjadi tema yang cukup aktual. Tema ini sering dijadikan topik pertemuan ilmiah dan diskusi oleh para pemerhati dan para pakar yang peduli terhadap perkembangan minat baca di Indonesia. Namun hasil dari pertemuan-pertemuan ilmiah tersebut belum memberikan suatu rekomendasi yang tepat bagi perkembangan yang signifikan terhadap minat baca masyarakat. Permasalahan yang dirasakan oleh bangsa Indonesia sampai saat ini adalah adanya data berdasarkan temuan penelitian dan pengamatan yang menunjukkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia relatif masih sangat rendah. Ada beberapa indikator yang menunjukkan masih rendahnya minat baca masyarakat Indonesia. Rendahnya budaya membaca ini juga dirasakan pada pelajar dan mahasiswa. Perpustakaan di sekolah/kampus yang ada jarang dimanfaatkan secara optimal oleh siswa/mahasiswa. Demikian pula perpustakaan umum yang ada di setiap kota/kabupaten yang tersebar di nusantara ini, pengunjungnya relatif tidak begitu banyak menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia belum mempunyai budaya membaca. Sehingga wajar apabila Indeks Sumber Daya Manusia bangsa Indonesia juga rendah.

Skripsi Peningkatkan Kemampuan Membaca Melalui Metode Pembelajaran Membaca Kritis

Upaya menumbuhkan minat baca bukannya tidak dilakukan. Pemerintah melalui lembaga yang relevan telah mencanangkan program minat baca. Hanya saja yang dilakukan oleh pemerintah maupun institusi swasta untuk menumbuhkan minat baca belum optimal. Oleh karena itu, agar bangsa Indonesia dapat mengejar kemajuan yang telah dicapai oleh negara-negara tetangga, perlu menumbuhkan minat baca sejak dini. Sejak mereka mulai dapat membaca. Dengan menumbuhkan minat baca sejak anak-anak masih dini, diharapkan budaya membaca masyarakat Indonesia dapat ditingkatkan.

Seiring dengan perkembangan zaman serta Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, maka kita dituntut untuk terus mengadakan pembaharuan disegala lini kehidupan. Terutama yang bersentuhan langsung dengan kemajuan ilmu pengetahuan, dimana dalam Sistem yang ada di dalam pendidikan harus terus mengadakan perubahan kearah yang positif. Berbagai teknik pembelajaran, baik itu metode, pendekatan, maupun tata cara atau aturan dalam pembelajaran banyak dirancang untuk menghasilkan transfer ilmu pengetahuan dari guru ke siswa yang lebih optimal. Hakikat pembelajaran sebenarnya adalah memberi rasa nyaman dan betah siswa (anak didik) dalam menerima pelajaran.

Tuntutan perubahan menuntut kesiapan guru bahasa Indonesia di sekolah dasar untuk siap memberikan pemahaman dasar kepada siswa. Sehingga pengajaran bahasa Indonesia di tingkat sekolah dasar (SD) perlu diperkaya dengan berbagai inovasi pengajaran untuk meningkatkan penguasaan siswa terhadap beberapa komponen dalam pengajaran bahasa Indonesia, yaitu membaca, berbicara, mendengarkan, dan menulis. Beberapa komponen dalam pengajaran bahasa Indonesia ini sangat penting untuk dikuasai siswa sebelum terjun ke lingkungan masyarakat yang lebih kompleks.

Kesiapan guru mata pelajaran dan pembelajaran yang kondusif semakin menjadi tuntutan keharusan ketika muncul berbagai problematika membaca siswa di sekolah. Fakta rendahnya kemampuan membaca siswa di setiap sekolah dapat diamati di berbagai media informasi, menurut salah satu sumber yang penulis kutip (Idonesia Buku.com/07-04-2010) dikemukakan Kemampuan membaca siswa sekolah di tingkat sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah (SD/MI) saat ini memiliki kecenderungan rendah. Lemahnya kemampuan membaca siswa SD/MI patut diduga karena lemahnya pembelajaran Bahasa Indonesia, khususnya pembelajaran membaca. Salah satu penelitian yang mengungkap lemahnya kemampuan siswa, dalam hal ini siswa kelas IV SD/MI, adalah penelitian Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS), yaitu studi internasional dalam bidang membaca pada anak-anak di seluruh dunia yg disponsori oleh The International Association for the Evaluation Achievement. Hasil studi menunjukkan bahwa rata-rata anak Indonesia berada pada urutan keempat dari bawah dari 45 negara di dunia.

Di sekolah dasar, pengajaran membaca merupakan salah satu aspek pokok pengajaran bahasa dan sastra Indonesia. Salah satu tujuannya agar siswa memiliki kegemaran dan memanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari, bahkan membaca merupakan faktor penentu bagi keberhasilan belajar seseorang. Membaca merupakan salah satu dari empat keterampilan bahasa yang tidak kalah pentingnya dengan keterampilan yang lain. Kita ketahui bahwa pada masa sekarang ini banyak buku, majalah, koran serta tulisan yang berbentuk lain sebagai penyampai informasi. Untuk itu keterampilan membaca sangat diperlukan untuk memahami informasi atau isi pesan yang ada dalam teks bacaan.

Perlu diketahui bahwa pada dasarnya membaca tidak hanya sekadar meyuarakan bunyi-bunyi bahasa atau mencari arti kata-kata sulit dalam suatu teks bacaan, tetapi lebih dari itu, membaca melibatkan pemahaman memahami apa yang dibacanya, apa maksudnya, dan apa implikasinya. Bayangkan, jika seorang anak (SD) hanya bisa melafalkan kata-kata tanpa bisa memahami apa maksud dari kata-katanya maka kegiatan yang dilakukannya kurang bermakna.

B. Rumusan Masalah
Sesuai dengan uraian latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini terfokus pada “Bagaimanakah meningkatkan kemampuan membaca melalui metode pembelajaran membaca kritis di kelas V SD Neg. 8 Pulau Laiya Kec. Liukang Tupabbiring Kab. Pangkep?”

Untuk versi lengkap, silahkan download skripsi dalam format PDF melalui link di bawah.

download


download


download

INFO:
Password: jaririndu.blogspot.com

Pengertian Kata Ulang dan Jenisnya (2)

Halo sahabat IKB, kali ini saya akan berbagi tentang Makna, Kata, dan Kata Ulang dalam beberapa bagian postingan. Ini adalah bagian 2 dari postingan ini. Untuk bagian pertama bisa kunjungi Pengertian Makna, Kata, Kata Ulang dan Jenisnya (1).

Bagian 2

Jenis-Jenis Kata Ulang
Kata ulang terbagi ke dalam empat jenis. Jenis-jenis tersebut adalah sebagai berikut:
a. Pengulangan seluruh bentuk kata dasar atau dwilingga
Pengulangan utuh terdiri atas dua macam. Pertama, perulangan terhadap kata dasar, kedua, perulangan terhadap kata berimbuhan. Contoh:
(1) buah : buah-buahan
(2) gunung : gunung-gunung
(3) kejadian : kejadian-Kejadian
(4) lari : lari-lari
(5) merah : merah-merah
(6) pagi : pagi-pagi
makna kata ulang

Pengulangan sebagian atau dwipurna
Pengulangan sebagian ialah pengulangan sebagian dari bentuk dasarnya. Dalam hal ini, bentuk dasarnya tidak diulang seluruhnya melainkan sebagian saja. Bentuk dasar pengulangan sebagian ini terdiri atas bentuk kompleks dan bentuk tunggal.
1) Pengulangan sebagian dengan kata dasar bentuk tunggal, yaitu:
(1) laki………lalaki/lelaki
(2) tamu…….tatamu/tetamu
(3) sama…….sasama/sesama
(4) pohon……popohon/pepohonan
2) Pengulangan sebagian dengan kata dasar bentuk kompleks, yaitu:
(1) minuman : minum-minuman
(2) makanan : makan-makanan
(3) berlari : berlari-lari
(4) ditusuk : ditusuk-kusuk
Apabila bentuk dasar itu berupa bentuk komplek, kemungkinan bentuknya sebagai berikut:
- Bentuk men-misalnya
mengambil : mengambil-ambil
mengemasi : mengemas-emasi
membaca : membaca-baca
melambaikan : melambai-lambai
memperkatakan : memperkata-kata
- Bentuk di - misalnya:
dikemasi : dikemas-kemasi
ditarik : ditarik-tarik
ditanami : ditanam-tanami
disodorkan : disodor-sodorkan
- Bentuk ber-misalnya:
berjalan : berjalan-jalan
bertemu : bertemu-temu
bermain : bermain-main
berkata : berkata-kata
berlarut : berlarut-larut
- Bentuk ter-misalnya:
terbatuk : terbatuk-batuk
terbentur : terbentur-bentur
tersenyum : Tersenyum-senyum
terbalik : Terbalik-balik
terjatuh : Terjatuh-jatuh
- Bentuk ber-an misalnya:
berlarian : berlari-larian
berjauhan : berjauh-jauhan
bersentuhan : bersentuh-sentuhan
berdekatan : berdekat-dekatan
berpelukan : berpeluk-pelukan
- Bentuk an-misalnya:
sayuran : sayur-sayuran
karangan : karang-karangan
tumbuhan : tumbuh-tumbuhan
minuman : minum-minuman
makanan : makan-makanan
- Bentuk ke-misalnya:
kedua : kedua-dua
ketiga : ketiga-tiga
keempat : keempat-empat
kelima : Kelima-lima
3) Pengulangan yang berkombinasi dengan proses pembunuhan afiks
Pengulangan ini terjadi bersama-sama dengan proses pembunuhan atiks dan bersama-sama pula mendukung satu fungsi. Misalnya kata ulang keteta-keretaan. Ada dua pilihan proses pembentukan kata ulangnya.
kereta : kereta-kereta
kereta : kereta-keretaan
Dari faktor arti, pilihan pertama dan kedua berbeda, bentuk dasar kereta menjadi kereta-kereta mengatakan makna banyak, sedangkan pada kereta-keretaan tidak terdapat makna banyak contoh:
(1) anak : anak-anakan
(2) rumah : rumah-rumahan
(3) orang : orang-orangan
(4) gunung : gunung-gunungan
(5) putih : keputih-putihan
(6) luas : seluas-luasnya
4) Pengulangan dengan perubahan fonem
Pengulangan dengan perubahan fonem adalah pengulangan yang terjadi dengan cara mengulang bentuk dasar disertai perubahan bunyi pada salah satu suku kata, dan biasanya terjadi pada fonem vokal atau fonem konsonan, seperti:
1) Pengulangan fonem vokal, yaitu:
(1) gerak : gerak-gerik
(2) robek : robak-robik
(3) serba : serba-serbi
(4) bolak : bolak-balik
2) Pengulangan fonem konsonan, yaitu:
(1) lauk : lauk-pauk
(2) ramah : ramah-tamah
(3) sayur : Sayur-mayur
(4) tali : tali-mali
(5) beras : beras-petas
Contoh dalam kalimat: ibu sedang memasak lauk-pauk, sayur-mayur yang dibelinya di pasar, Ramlan (1985: 62).

Fungsi Kata Ulang/Reduplikasi
Sebagai salah satu bentuk proses morfologis, maka proses reduplikasi atau pengulangan tidak berfungsi mengubah golongan jenis kata. Dengan demikian, pada umumnya reduplikasi tidak mempunyai fungsi gramatik. Jika ada maka bentuk-bentuk ulang yang mengandung fungsi gramatik hanya terbatas pada beberapa bentuk tertentu saja.
a. Mengubah golongan kata kerja menjadi kata benda
Walaupun pada umumnya perulangan atau reduplikasi tidak mempunyai fungsi gramatik, namun ada juga beberapa reduplikasi seperti contoh berikut ini:
(1) injak : injak-injak (kata kerja)
(2) undur : undur-undur (kata kerja)
(3) karang : karang-karangan (kata kerja)
Bentuk ulang di atas dapat lebih jelas diketahui dalam konteks kalimat seperti dibawah ini:
injak-injak itu merusak
undur-undur itu masih sangat kecil
karang-karangan itu menyenangkan
Bentuk ulang dalam kalimat di atas menduduki unsur subjek. Sebagai subjek bentuk ulang tersebut merupakan golongan kata benda meskipun berasal dari bentuk dasar golongan kata kerja.
b. Mengubah golongan kata sifat menjadi kata keterangan.
Contoh :
(1) rajin menjadi serajin-rajinnya
(2) cepat menjadi secepat-cepatnya
(3) malas menjadi semalas-malasnya
c. Mengubah bentuk tunggal menjadi bentuk jamak
Contoh:
(1) ibu menjadi ibu-ibu
(2) makanan menjadi makanan-makanan
(3) lauk menjadi lauk-pauk

Makna Kata Ulang
Kata Ulang memiliki beberapa makna, di antaranya adalah sebagai berikut:
a. Menyatakan makna banyak
(1) bintang-bintang : banyak bintang
(2) pembangunan-pembangunan : banyak pembangunan
(3) murid-murid : banyak murid
(4) buah-buahan : banyak buah
(5) kemajuan-kemajuan : banyak kemajuan
Makna banyak tidak selalu dinyatakan dengan pengulangan. Misalnya dalam kalimat rumah penduduk banyak yang rusak akibat angin belian.
b. Menyatakan makna banyak
Disini makna banyak telah berhubungan dengan bentuk dasar, melainkan berhubungan dengan kata yang “diterangkan”. Kata yang diterangkan pada tataran frase menduduki fungsi sebagai unsur pusat, misalnya kata rumah dalam frase rumah besar-besar, dan pada tataran klausa menduduki fungsi sebagai subjek, misalnya kata rumah dalam klausa rumah itu besar-besar. Pengulangan pada kata besar-besar itu mengatakan makna ‘banyak’ bagi kata yang “diterangkan”, dalam hal ini kata rumah.
Contoh lain, misalnya:
mahasiswa itu pandai-pandai
pohon ditepi pohon itu rindang-rindang
c. Menyatakan makna tak bersyarat
(1) meskipun hujan, saya akan datang
(2) jambu-jambu mentah dimakannya
(3) duri-duri diterjang
(4) dararah-darah diminum
d. Mengatakan makna yang menyerupai apa yang tersebut pada bentuk dasar
Proses pengulangan berkombinasi dengan proses pembubuan afiks-an.
(1) kuda-kudaan : yang menyerupai kuda
(3) gunung-gunungan : yang menyerupai gunung
(4) rumah-rumahan : yang menyerupai rumah
(5) kemuda-mudaan : menyerupai (anak) muda
e. Mengatakan bahwa perbuatan yang tersebut pada bentuk dasarnya dilakukan dengan santai
(1) berjalan-jalan
(2) makan-makan
(3) minum-minum
(4) tidur-tidur
f. Mengatakan bahwa perbuatan yang tersebut pada bentuk dasarnya dilakukan oleh dua pihak dan saling mengenai (menyatakan makna saling)
(1) pukul-memukul
(2) tolong-menolong
(3) dorong-mendorong
(4) surat-menyurat
(5) olok-memperolokkan
Makna saling bisa juga dilakukan dengan pembubuhan afiks ber-an.
Bersalam-salaman
berpandang-pandangan
berpukul-pukulan
g. Menyatakan hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan yang tersebut pada bentuk dasar.
(1) karang-mengarang
(2) cetak-mencetak
(3) jilid-menjilid
(4) potong-memotong
(5) masak-memasak
h. Menyatakan perbuatan yang pada bentuk dasarnya dilakukan berulang-ulang
(1) berteriak-teriak
(2) memukul-mukul
(3) memetik-metik
(4) menyobek-nyobek
i. Menyatakan makna agak
(1) kemerah-merahan
(2) kehitam-hitaman
(3) kekuning-kuningan
(4) kebiru-biruan
j. Menyatakan makna tingkat yang paling tinggi yang berkombinasi dengan proses pembubuhan afik se-nya (kualitatif).
(1) sepenuh-penuhnya
(2) serajin-rajinnya
(3) sekuat-kuatnya
(4) sedalam-dalamnya
(5) seluas-luasnya

Sumber: Bahrun, 2007. Kemampuan Siswa Kelas II SMK Gunung Sari Makassar Menentukan Makna Kata Ulang. Skripsi. FKIP Universitas Muhammadiyah Makassar