MAKALAH: Umar Ibn Al-Khaththāb (Perkembangan Islam Sebagai Kekuatan Politik)

Umar Ibn Al-Khaththāb (Perkembangan Islam Sebagai Kekuatan Politik)

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang

Kedatangan Islam memberikan dinamika baru bagi manusia dan peradaban. Selain memberikan iklim politik baru, Islam juga memberikan sistem baru yang didasarkan pada ajaran-ajarannya, seperti: tidak mendapatkan tantangan, Islam memulai kegiatan politiknya berhadapan dengan suku-suku yang sudah eksis kemudian memperluas pengaruhnya. Bahkan dalam menjalankan kebijakan politiknya, Islam mengatur tata cara perang (jihad) demi untuk melindungi umatnya dan melebarkan sayap kekuasaannya.

    Dalam perjalanan sejarah diketahui bahwa, Umar adalah orang yang besar dalam kesederhanaan, orang yang dilahirkan oleh kemanusiaan dan didik oleh Islam. Beliau penguasa mukmin yang apabila disebutkan pemimpin-pemimpin negara dan pemerintahan sejak fajar sejarah manusia hingga akhir ini, maka beliau adalah orang yang terbesar di antara mereka, paling baik dan paling bersih. Beliau ahli ibadah dan pengajar yang membetulkan pengertian-pengertian kehidupan. Dalam pandangan orang Nasrani, Umar merupakan orang Islam yang paling mirip dengan Paulus, rasul pengikut Nasrani. Bukan karena kisah kepindahannya yang sangat mengejutkan, tetapi karena Umar dalam menegakkan tiang agama baru itu tidak kurang penting dan tidak kalah jika dibandingkan peran Paulus dalam agama Nasrani.Bahkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah berkata kepada Umar: "Sesungguhnya Allah menjadikan kebenaran pada lidah dan hati Umar. Dan jika saja ada Nabi sesudah diriku, maka Umarlah nabi itu."

    Dengan pernyataan tersebut, maka diperlukan sejarah terlebih dahulu, dan sebuah kajian yang mendalam tentang sosok Umar bin Khattab sebagai khalifah memiliki begitu banyak catatan sejarah yang menarik untuk diungkapkan baik yang berkaitan dengan riwayat hidupnya yang mulia, serta kegiatan-kegiatan yang di lakukannya selama menjabat sebagai khalifah, sehingga posisi Umar akan menjadi jelas.

    B. Rumusan dan Batasan Masalah

    Berdasarkan uraian diatas, maka penulis mencoba merumuskan permasalahan yang akan dibahas dalam penulisan makalah ini yang berjudul "Umar ibn al-Khattab (Perkembangan Islam Sebagai Kekuatan Politik) adalah:
    1. Bagaimana biografi Umar bin Khattab?
    2. Bagaimana proses pembai'atan Umar bin khattab?
    3. Sejauh mana ekspansi wilayah Islam serta kebijaksanaan-kebijaksanaan yang diterapkan oleh Umar bin Khattab dalam menjalankan roda kepemimpinannya? Bagaimana akhir pemerintahan Umar bin khattab?

    BAB II
    PEMBAHASAN


    A. Biografi Umar bin Khaththab

    Beliau adalah Umar bin al-Khattab bin Nufail bin Abdil 'Uzza bin Rubah bin Abdullah bin Qurth bin Rizah bin 'Adiy bin Ka'ab bin Luay bin Galib al-Qurasyi al-'Adawy. Ibunya bernama Hantamah binti Hasyim bin al-Mughirah bin Abdillah bin Umar bin Makhzum saudara Abi Jahl, beliau masuk Islam tahun keenam kenabian dan berusia 27 tahun. Umar dilahirkan di Mekkah tahun 586 M dari keturunan suku Quraisy yang terpandang dan terhormat dikalangan kota Mekkah. Dari garis ayah, silsilah keturunan Umar bin Khaththab bertemu dengan garis keturunan nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. pada nenek yang ketujuh. Dari garis ibu, bertemu pula dengan garis keturunan nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. pada nenek yang keenam. Umar bin Khattab adalah seorang yang terkenal tegas, berani dan fasih berbicara dan berpidato. Karena itu beliau sering menjadi wakil atau utusan kaum Quraisy dalam pertemuan atau perundingan dengan suku-suku lainnya baik di Mekkah maupun diluar kota Mekkah. Beliau semula dipanggil dengan gelar Abu Hafs, dan setelah memeluk Islam Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memberi gelar al-Faruq (pemisah antara yang hak dan batil). Pada masa mudanya, Umar adalah seorang pegulat dan orator yang ulung. Beliau merupakan salah seorang sahabat yang telah mengenal baca tulis. Berdagang merupakan usahanya yang paling utama.

    B. Pembaiatan Umar bin Al-Khattab

    Tatkala Abu Bakar r.a sakit dan merasa ajalnya sudah dekat, ia bermusyawarah dengan para pemuka sahabat tentang siapa yang bakal menggantikannya dan ia menunjuk Umar sebagai penggantinya dengan maksud untuk mencegah kemungkinan terjadihnya perselisihan dan perpecahan di kalangan umat Islam. Beberapa orang sahabat ketika mendengar saran-saran Abu Bakar mengenai penunjukan Umar sebagai khalifah, mereka merasa khawatir mengingat bahwa bawaan Umar begitu keras dan karena kekerasannya itu umat akan terpecah belah, karena merasa tidak cukup hanya bermusyawarah dengan orang-orang bijaksana di kalangan muslimin, terutama ada pihak yang menentang, dari dalam kamar di rumahnya itu, Abu Bakar menjenguk kepada orang-orang yang ada di masjid, dan kemudian berkata kepada mereka: " Apakah kalian menyetujui orang yang kutunjuk untuk menggantikan kedudukanku sepeninggalku? Sesungguhnya aku, demi Allah, telah bersungguh-sungguh berdaya-upaya memikirkan tentang hal ini, dan aku tidak mengangkat seseorang dari sanak keluargaku, tapi aku telah menunjuk Umar bin Khattab sebagai penggantiku, maka taatla kepadanya." Orang banyak pun berkata: "Sami'na wa atha'na" ("Kami dengar dan kami taat").

    C. Perkembangan Islam pada masa Pemerintahan Umar bin Khattab

    Keberhasilan yang dicapai pada masa pemerintahan Umar bin Khattab banyak ditentukan oleh berbagai kebijakan dalam mengatur dan menerapkan sistem pemerintahan. Tatkala Umar memangku sebagai khalifah, terdapat sejumlah peperangan dalam rangka upaya ekspansi wilayah Islam, antara lain pada tahun 14 H/635 M terjadi perang Yarmuk dimana kaum muslimin (berjumlah 24.000) berada di bawah panglima perang Khalid bin Walid sedang berperang melawan pasukan Romawi (lebih dari 200.000 personel). Meletuslah peperangan yang demikian sengit dimana Allah menggoyahkan pasukan musuh dan kafir. Orang-orang Romawi melarikan diri dan dikejar oleh kaum muslimin. Mereka berhasil memperoleh rampasan perang dalam jumlah besar dalam perang ini. Setelah itu pasukan Islam terus maju dengan panglimanya Ubaidah ibnul-jarrah yang juga ditemani oleh Khalid bin Walid menuju kota-kota di Syam. Pasuka Islam mampu menguasai Fahl Baisyan, kemudian Damaskus dan Himsh. Menyusul kemudian Qanisrin, Qaisarah, dan Biqa' serta Ba'labak. Setelah itu Ajnadain dan kota-kota Al-Jazirah serta kota-kota Lainnya.

    D. Akhir Kekhalifahan Umar bin Khaththab

    Umar memangku jabatan Amir al-Mukminīn selama sepuluh tahun lebih yang penuh dengan kejayaan, mengabdikan diri sepenuhnya kepada Allah dan agama Allah, pikiran, kalbu, dan segenap jiwa raganya dikerahkan semata-mata hanya untuk memikul tanggung jawab yang besar yang diletakkan dibahunya. Khalifah Umar meninggal sebab kekejaman tangan seorang budak Persia yang bernama "Abu Lu'lu'ah". Khalifah Umar ditusuk dengan belati beracun pada saat dia sedang melakukan shalat. Ketika Umar bin Khattab mengucapkan Takbirat al-Ihram, Abu Lu'luah datang dan berdiri di shaf terdepan yang dekat dengan Khlifah, dia menikam beliau dari belakang perut dan dada, setelah itu Abu Lu'lu'ah menikam beberapa orang lagi yang ikut shalat berjamaah sebanyak 13 orang selain Umar bin Khattab sendiri, karena merasa dirinya sudah terancam budak itu pun bunuh diri. Sebelum meninggal, Umar bin Khattab menunjuk enam orang sahabatnya dan meminta kepada mereka untuk memilih salah seorang diantaranya menjadi khalifah. Mereka adalah Usman bin Affan, Ali, Thalhah, Zubair, Sa'ad bin Abi Waqqash dan Abdur Rahman bin 'Auf. Dan diakhir hayatnya. Umar bin Khattaab memanggil anaknya Abdullah bin Umar serta menyuruhnya agar meletakkan pipinya ke lantai dan beliau merasa ajalnya telah dekat. Setelah itu Umar menghembuskan nafasnya yang terakhir. Umar wafat pada bulan Dzulhijjah 23 H/644 M., jenasah beliau dishalatkan di dalam masjid dan dikuburkan disamping kuburan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, di Madinah.



    DOWNLOAD MAKALAH


    Untuk download versi lengkapnya bisa lewat link di bawah!


    Download via Google Drive

    DOWNLOAD GD

    Download via Mediafire

    DOWNLOAD MF