Jenis Wacana Tulis

Jenis Wacana Tulis

a. Wacana Narasi
Wacana narasi menyajikan peristiwa-peristiwa dalam suatu rangkaian kesatuan dalam urutan waktu tertentu. Dalam wacana narasi, penulis menyajikan jalinan suatu peristiwa yang dapat disebut sebagai cerita. Tujuan utamanya bukan untuk memberikan gambaran tentang masalah atau objek menurut pengamatan penulis, melainkan memberikan suatu kisah yang terjadi dalam suatu rangkaian waktu. Oleh karena itu, karangan yang disajikan dengan wacana narasi bersifat dinamis. Narasi menekankan uraiannya pada jalinan peristiwa dalam hubungan waktu. Penyajiannya tidak selalu bersifat progresif.yang penting dalam narasi ialah uraia tantang kejadian, yang disajikan tidak selalu mulai dari awal, tetapi dapat pula dimulai kisahnya dari bagian kejadian yang penting yang menarik perhatiannya.

Ada tiga prinsip penting dalam narasi, yakni keutuhan, koherensi, dan penekanan. Keutuhan ceritera pada narasi dibangun dengan mengarahkan rincian setiap bagian ceritera pada satu ide yang membangun keseluruhan ceritera. Tiap-tiap bagian ceritera di hubungkan dengan bagian-bagian cerita yang lain sehingga terjadi jalinan peristiwa yang erat.di antara peristiwa-peristiwa yang berada dalam jaringan tersebut ada satu peristiwa yang mendapat penekanan, yang menjadi pusat perhatian.

b. Wacana Deskripsi
Wacana deskripsi memberikan penjelasan tantang sesuatu masalah atau objek yang disajikan. Wacana deskripsi memberikan gambaran objek seperti apa adanya, maka wacana deskripsi bersifat statis. Wacana deskripsi dapat di bedakan dua macam, yakni deskripsi ekspositori dan deskripsi literer. Deskripsi ekspositori mempunyai ciri-ciri yang hampir sama dengan wacana eksposisi. Tujuan wacana ekspositori adalah memberikan gambaran yang mendalam tantang suatu masalah atau objek namun tatap mengemukakan gambaran yang bersifat konkret saja. Uraiannya bersifat analitis dan tidak memberikan kesan emosional.

Deskripsi literer menyajikan uraian sesuatu masalah secara rinci. Perbedaannya dengan deskripsi ekspositori terletak pada kesan yang di timbulkannya. Uraiannya dititikberatkan pada sifat lahiriah serta keberadaannya sebagai sesuatu yang berwarna kehidupan dan berbagai sifat yang lain.

c. Wacana Eksposisi
Wacana eksposisi memberikan penjelasan mengenai suatu masalah atau objek secara mendalam. Tujuannya supaya pembaca memperoleh pengertian yang jelas terhadap masalah yang disajikan. Wacana eksposisi membahas hakikat masalah serta hubungan-hubungannya, baik hubungan antara bagian-bagian masalah itu sendiri maupun hubungan-hubungannya dengan masalah yang lain. Oleh karena itu, wacana eksposisi banyak di gunakan dalam karangan ilmiah.

Dalam wacana eksposisi dikenal beberapa jenis pembagian, antara lain definisi dan analisis. Definisi merupakan jenis eksposisi yang sering digunakan karena mendasari penjelasan yang disajikan dalam suatu karangan. Dapat atau tidaknya pembaca memahami penjelasan yang disajikan dalam suatu karangan, antara lain bergantung pada dapat atau tidaknya penulis mengemukakan definisi yang memadai. Analisis merupakan wacana eksposisi yang menjelaskan suatu masalah dengan mengemukakan uraian keseluruhan masalah menjadi bagian-bagian sehingga pembaca dapat memahami masalah tersebut.

d. Wacana Argumentasi
Wacana argumentasi mengarahkan pembaca kepada suatu sikap tertentu terhadap suatu masalah atau objek yang dikehendaki oleh penulis. Dalam mengarahkan sikap tersebut wacana argumentasi menyajikan bukti yang dikemukakan dengan cara yang meyakinkan sehingga pembaca dapat menarik kesimpulannya sendiri secara logis dan mengakui kebenaran pandangan yang dikemukakan pengarang.

Wacana argumentasi berdasar pada pikiran yang kritis dan logis. Dalam menyajikan fakta dan bukti yang lain, penulis harus senantiasa memperhatikan apakah semuanya itu memang dapat digunakan sebagai bukti yang benar.

Apresiasi Karya Sastra Prosa Fiksi

apresiasi-prosa-fiksi
A. Pengertian Gaya dalam Karya Fiksi
Istilah gaya diangkat dari istilah style yang berasal dari bahasa Latin stilus yang mengandung arti leksikal ‘ alat untuk menulis’.

Istilah gaya dalam karya sastra mengandung pengertian “cara pengarang menyampaikan gagasannya dengan menggunakan media bahasa yang indah dan harmonis serta mampu menuansakan makna dan suasana yang dapat mneyentuh daya intelektual dan emosi pembaca. Berdasarkan uraian tersebut di atas, Scharbach menyebut gaya “ sebagai hiasan, sebagai sesuatu yang suci, sebagai sesuatu yang indah dan lemah gemulai serta perwujudan manusia itu sendiri”.

Dari beberapa pengertian gaya tersebut di atas, jelaslah bahwa gaya dalam karya fiksi adalah sebuah kekuatan atau kemampuan pengarang untuk menyampaikan perasaannya lewat kreasi cipta tulis untuk menyentuh perasaan pembaca.

Sekalipun pengarang berangkat dari satu ide yang sama, terdapat juga perbedaan karena pengarang mengungkapkan gagasannya dalam wacana ilmiah yang menggunakan gaya yang bersifat lugas, jelas, dan menjauhkan unsur-unsur gaya bahasa yang mengandung makna konotatif. Sedangkan pengarang dengan wacana sastra justru akan menggunakan pilihan kata yang mengandung makna padat, reflektif, asosiatif, konotatif, serta variasi dan keharmonisan kalimat sehingga mampu menuansakan keindahan.

Gaya bahasa yang efektif dalam karya fiksi adalah bahasa yang dapat mengungkapkan pesan atau informasi secara tepat sesuai dengan maksud yang ingin di kemukakan oleh penulis dengan itu pembaca dengan mudah memahaminya.

B. Unsur-unsur Gaya dalam Karya Fiksi
Unsur gaya dalam karya fiksi adalah bagian yang tak dapat terlupakan oleh para pengarang agar ciptaannya dapat menggugah perasaan pembaca. Dalam membaca beberapa karya fiksi mari kita mengutip dan memperhatikan perbedaan-perbedaan yang terdapat dalam tiap-tiap kaya fiksi tersebut, diantaranya:
1. Pilihan kata dari tiap pengarang,
2. Penataan kata dan kalimatnya, dan
3. Nuansa makna serta suasana penuturan yang ditampilkannya.

Dalam penulisan karya fiksi pengarang mempergunakan pemilihan kata yang berbeda-beda tetapi harus tetap mempergunakan bahasa yang efektif secara menyeluruh pada setiap unsur, baik yang menyangkut pemakaian ejaan, pengimbuhan, pemilihan kata, pengalimatan, dan pengalineaannya. Setiap pengarang punya gaya bahasa tersendiri yang sesuai dengan jiwanya, emosi, apresiasi bahasanya, pengarang harus merasa bebas mempergunakan bahasa untuk ciptaannya. Susunan kalimat, pilihan kata, dan penggunaan titik koma adalah hak penuh bagi pengarang. Yang harus diperhatikan lagi, bahwa pengarang tidak terlepas dari perbendaharaan kata.

Unsur-unsur gaya yang terdapat dalam karya fiksi sangatlah beragam sesuai dengan apa yang akan disampaikan pengarang dan ciri khas pengarang itu sendiri. Dari banyaknya pengarang juga terdapat perbedaan-perbedaan pilihan kata dan kalimat seperti cerpen yang berjudul “Retak-retak Waduk Raksasa” karangan Rohyati Salihin, cerpen yang berjudul “Nostalgia” Karangan Danarto, novel yang berjudul “Kering” oleh Almarhum Iwan Simatupang. Masih banyak lagi karangan-karangan yang dapat kita kutip kemudian dipelajari untuk mengetahui unsur gaya yang terdapat pada masing-masing karya fiksi tersebut.

Setelah mengapresiasi dari ketiga contoh karya fiksi di atas, maka terdapat unsur-unsur gaya yang masing-masing berbeda. Unsur-unsur gaya yang terdapat dalam karya fiksi atau cipta sastra yakni;

1. Unsur-unsur Kebahasaan berupa kata dan kalimat, dan
a. Pemilihan dan penataan kata istimewa
  • pada kutipan cerpen berjudul “Retak-retak Waduk Raksasa”, hampir tidak dijumpai pemilihan kata-kata istimewa,
  • pada kutipan cerpen berjudul “Nostalgia”, dijumpai pilihan kata dalam penataan yang istimewa, sedangkan
  • pada kutipan novel berjudul “Kering”, banyak dijumpai pemilihan kata yang istimewa pula.

b. Pemilihan dan penataan kalimat istimewa
  • pada kutipan cerpen berjudul “Retak-retak Waduk Raksasa”, sama sekali tidak menunjukkan variasi kalimat panjang dan pendek. Maka pada saat membaca karya seperti itu tidak jauh bedanya kita membaca koran.
  • pada kutipan cerpen berjudul “Nostalgia”, terdapat variasi kalimat panjang dan pendek, sedangkan
  • pada kutipan novel berjudul “Kering”, telah kita jumpai adanya kalimat-kalimat panjang dan pendek selain menunjukkan unsur-unsur yang istimewa, baik dalam hal pemilihan kata maupun kalimat-kalimatnya serta telah dijumpai pula gaya bahasa seperti repetisi, oratorik, dan klimaks. Kata dan kalimatnya pun banyak yang bermakna gelap sehingga pembaca terkadang kesulitan dalam memaknai apa yang telah dibacanya. Berbeda dengan kutipan-kutipan lainnya.

2. Alat gaya yang melibatkan masalah khiasan, seperti metafor, metonimi, simbolik, dan majas.

C. Hubungan Gaya dengan Ekspresi Pengarang
Gaya pada dasarnya berhubungan erat dengan cara seorang pengarang dalam menampilkan gagasannya. Penampilan atau pengekspresian gagasan itu lebih lanjut terwujud dalam bentuk gaya bahasa dengan segala aneka ragamnya. Jika dibagankan, hubungan gaya dan ekspresi itu dapat digambarkan sebagai berikut.

Dari bagan di atas, jelaslah bahwa gaya adalah cara seorang pengarang menyampaikan gagasannya lewat media sehingga mewujudkan bahasa yang indah dan harmonis. Adapun pendapat mengatakan bahwa gaya adalah orangnya atau pengarangnya karena lewat gaya kita dapat mengenal bgaimana sikap dan endapan pengetahuan, pengalaman, dan gagasan pengarangnya. Demikianlah uraian tentang masalah unsur gaya dalan karya fiksi, pada dasarnya kita telah mengkaji masalah-masalah yang penting dalam makalah ini tentang unsur gaya dalam karya fiksi.
Imam Al Ghazali (Tokoh Filsafat dan Tasawuf Terkemuka)

Imam Al Ghazali (Tokoh Filsafat dan Tasawuf Terkemuka)

Beliau bernama Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Ath Thusi, Abu Hamid Al Ghazali (Lihat Adz Dzahabi, Siyar A’lam Nubala’ 19/323 dan As Subki, Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/191). Para ulama nasab berselisih dalam penyandaran nama Imam Al Ghazali. Sebagian mengatakan, bahwa penyandaran nama beliau kepada daerah Ghazalah di Thusi, tempat kelahiran beliau. Ini dikuatkan oleh Al Fayumi dalam Al Mishbah Al Munir. Penisbatan pendapat ini kepada salah seorang keturunan Al Ghazali, yaitu Majdudin Muhammad bin Muhammad bin Muhyiddin Muhamad bin Abi Thahir Syarwan Syah bin Abul Fadhl bin Ubaidillah anaknya Situ Al Mana bintu Abu Hamid Al Ghazali yang mengatakan, bahwa telah salah orang yang menyandarkan nama kakek kami tersebut dengan ditasydid (Al Ghazali).

Sebagian lagi mengatakan penyandaran nama beliau kepada pencaharian dan keahlian keluarganya, yaitu menenun. Sehingga nisbatnya ditasydid (Al Ghazzali). Dan dinyatakan Imam Nawawi, “Tasydid dalam Al Ghazzali adalah yang benar.” Bahkan Ibnu Assam’ani mengingkari penyandaran nama yang pertama dan berkata, “Saya telah bertanya kepada penduduk Thusi tentang daerah Al Ghazalah, dan mereka mengingkari keberadaannya”. Ada yang berpendapat Al Ghazali adalah penyandaran nama kepada Ghazalah anak perempuan Ka’ab Al Akhbar, ini pendapat Al Khafaji.
Yang dijadikan sandaran para ahli nasab mutaakhirin adalah pendapat Ibnul Atsir dengan tasydid, yaitu penyandaran nama kepada pekerjaan dan keahlian bapak dan kakeknya. Dilahirkan di kota Thusi tahun 450 H dan memiliki seorang saudara yang bernama Ahmad.

Kehidupan dan Perjalanannya Menuntut Ilmu
Ayah beliau adalah seorang pengrajin kain shuf (yang dibuat dari kulit domba) dan menjualnya di kota Thusi. Menjelang wafat dia mewasiatkan pemeliharaan kedua anaknya kepada temannya dari kalangan orang yang baik. Dia berpesan, “Sungguh saya menyesal tidak belajar khat (tulis menulis Arab) dan saya ingin memperbaiki apa yang telah saya alami pada kedua anak saya ini. Maka saya mohon engkau mengajarinya, dan harta yang saya tinggalkan boleh dihabiskan untuk keduanya.”

Imam Al Ghazali memulai belajar di kala masih kecil. Mempelajari fikih dari Syaikh Ahmad bin Muhammad Ar Radzakani di kota Thusi. Kemudian berangkat ke Jurjan untuk mengambil ilmu dari Imam Abu Nashr Al Isma’ili dan menulis buku At Ta’liqat. Kemudian pulang ke Thusi. Beliau mendatangi kota Naisabur dan berguru kepada Imam Haramain Al Juwaini dengan penuh kesungguhan. Sehingga berhasil menguasai dengan sangat baik fikih mazhab Syafi’i dan fikih khilaf, ilmu perdebatan, ushul, manthiq, hikmah dan filsafat. Beliau pun memahami perkataan para ahli ilmu tersebut dan membantah orang yang menyelisihinya. Menyusun tulisan yang membuat kagum guru beliau, yaitu Al Juwaini.

Pengaruh Filsafat Dalam Dirinya
Pengaruh filsafat dalam diri beliau begitu kentalnya. Beliau menyusun buku yang berisi celaan terhadap filsafat, seperti kitab At Tahafut yang membongkar kejelekan filsafat. Akan tetapi beliau menyetujui mereka dalam beberapa hal yang disangkanya benar. Hanya saja kehebatan beliau ini tidak didasari dengan ilmu atsar dan keahlian dalam hadits-hadits Nabi yang dapat menghancurkan filsafat. Beliau juga gemar meneliti kitab Ikhwanush Shafa dan kitab-kitab Ibnu Sina. Oleh karena itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Al Ghazali dalam perkataannya sangat dipengaruhi filsafat dari karya-karya Ibnu Sina dalam kitab Asy Syifa’, Risalah Ikhwanish Shafa dan karya Abu Hayan At Tauhidi”.

Hal ini jelas terlihat dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin. Sehingga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Perkataannya di Ihya Ulumuddin pada umumnya baik. Akan tetapi di dalamnya terdapat isi yang merusak, berupa filsafat, ilmu kalam, cerita bohong sufiyah dan hadits-hadits palsu”.

Polemik Kejiwaan Imam Ghazali
Kedudukan dan ketinggian jabatan beliau ini tidak membuatnya congkak dan cinta dunia. Bahkan dalam jiwanya berkecamuk polemik (perang batin) yang membuatnya senang menekuni ilmu-ilmu kezuhudan. Sehingga menolak jabatan tinggi dan kembali kepada ibadah, ikhlas dan perbaikan jiwa. Pada bulan Dzul Qai’dah tahun 488 H beliau berhaji dan mengangkat saudaranya yang bernama Ahmad sebagai penggantinya.

Pada tahun 489 H beliau masuk kota Damaskus dan tinggal beberapa hari. Kemudian menziarahi Baitul Maqdis beberapa lama, dan kembali ke Damaskus beri’tikaf di menara barat masjid Jami’ Damaskus. Beliau banyak duduk di pojok tempat Syaikh Nashr bin Ibrahim Al Maqdisi di masjid Jami’ Umawi (yang sekarang dinamai Al Ghazaliyah). Tinggal di sana dan menulis kitab Ihya Ulumuddin, Al Arba’in, Al Qisthas dan kitab Mahakkun Nadzar. Melatih jiwa dan mengenakan pakaian para ahli ibadah. Beliau tinggal di Syam sekitar 10 tahun.

Masa Akhir Kehidupannya
Akhir kehidupan beliau dihabiskan dengan kembali mempelajari hadits dan berkumpul dengan ahlinya. Berkata Imam Adz Dzahabi, “Pada akhir kehidupannya, beliau tekun menuntut ilmu hadits dan berkumpul dengan ahlinya serta menelaah shahihain (Shahih Bukhari dan Muslim). Seandainya beliau berumur panjang, niscaya dapat menguasai semuanya dalam waktu singkat. Beliau belum sempat meriwayatkan hadits dan tidak memiliki keturunan kecuali beberapa orang putri.”

Abul Faraj Ibnul Jauzi menyampaikan kisah meninggalnya beliau dalam kitab Ats Tsabat Indal Mamat, menukil cerita Ahmad (saudaranya); Pada subuh hari Senin, saudaraku Abu Hamid berwudhu dan shalat, lalu berkata, “Bawa kemari kain kafan saya.” Lalu beliau mengambil dan menciumnya serta meletakkannya di kedua matanya, dan berkata, “Saya patuh dan taat untuk menemui Malaikat Maut.” Kemudian beliau meluruskan kakinya dan menghadap kiblat. Beliau meninggal sebelum langit menguning (menjelang pagi hari) di kota Thusi, pada hari Senin tanggal 14 Jumada Akhir tahun 505 H dan dikuburkan di pekuburan Ath Thabaran.

Karya-Karyanya
Beliau seorang yang produktif menulis. Karya ilmiah beliau sangat banyak sekali. Di antara karyanya yang terkenal ialah: Pertama, dalam masalah ushuluddin dan aqidah, yaitu: Arba’in Fi Ushuliddin; Qawa’idul Aqa’id; Al Iqtishad Fil I’tiqad; Tahafut Al Falasifah; Faishal At Tafriqah Bainal Islam Wa Zanadiqah.

Kedua, dalam ilmu ushul, fikih, filsafat, manthiq dan tasawuf, beliau memiliki karya yang sangat banyak. Secara ringkas dapat kita kutip yang terkenal, di antaranya: (1) Al Mustashfa Min Ilmil Ushul; (2) Mahakun Nadzar; (3) Mi’yarul Ilmi; (4) Ma’ariful Aqliyah; (5) Misykatul Anwar; (6) Al Maqshad Al Asna Fi Syarhi Asma Allah Al Husna; (7) Mizanul Amal; (8) Al Madhmun Bihi Ala Ghairi Ahlihi; (9) Al Ajwibah Al Ghazaliyah Fil Masail Ukhrawiyah; (10) Ma’arijul Qudsi fi Madariji Ma’rifati An Nafsi; (11) Qanun At Ta’wil; (12) Fadhaih Al Bathiniyah dan Al Qisthas Al Mustaqim; (13) Iljamul Awam An Ilmil Kalam; (14) Raudhatuth Thalibin Wa Umdatus Salikin; (15) Ar Risalah Alladuniyah; (16) Ihya’ Ulumuddin; (17) Al Munqidz Minad Dhalalah; (18) Al Wasith; (19) Al Basith; (20) Al Wajiz; (21) Al Khulashah.

Aqidah dan Madzhab Beliau
Dalam masalah fikih, beliau seorang yang bermazhab Syafi’i. Imam Adz Dzahabi menjelaskan mazhab fikih beliau dengan pernyataannya, “Syaikh Imam, Hujjatul Islam, A’jubatuz zaman, Zainuddin Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Ath Thusi Asy Syafi’i.”

Sedangkan dalam sisi akidah, beliau sudah terkenal dan masyhur sebagai seorang yang bermazhab Asy’ariyah. Banyak membela Asy’ariyah dalam membantah Bathiniyah, para filosof serta kelompok yang menyelisihi mazhabnya. Bahkan termasuk salah satu pilar dalam mazhab tersebut. Oleh karena itu beliau menamakan kitab aqidahnya yang terkenal dengan judul Al Iqtishad Fil I’tiqad. Tetapi karya beliau dalam aqidah dan cara pengambilan dalilnya, hanyalah merupakan ringkasan dari karya tokoh ulama Asy’ariyah sebelum beliau (pendahulunya). Tidak memberikan sesuatu yang baru dalam mazhab Asy’ariyah. Beliau hanya memaparkan dalam bentuk baru dan cara yang cukup mudah.

Akan tetapi tasawuf apakah yang diyakini beliau? Pertama, pendapat beliau, bahwa setiap orang memiliki tiga aqidah. Yang pertama, ditampakkan di hadapan orang awam dan yang difanatikinya. Kedua, beredar dalam ta’lim dan ceramah. Ketiga, sesuatu yang dii’tiqadi seseorang dalam dirinya. Tidak ada yang mengetahui kecuali teman yang setara pengetahuannya. Bila demikian, Al Ghazali menyembunyikan sisi khusus dan rahasia dalam aqidahnya.

Kedua, mengumpulkan pendapat dan uraian singkat beliau yang selalu mengisyaratkan kerahasian akidahnya. Kemudian membandingkannya dengan pendapat para filosof saat beliau belum cenderung kepada filsafat Isyraqi dan tasawuf, seperti Ibnu Sina dan yang lainnya. (Mauqif Ibnu Taimiyah Minal Asyariyah 2/628).

Tetapi perlu diketahui, bahwa pada akhir hayatnya, beliau kembali kepada ajaran Ahlusunnah Wal Jama’ah meninggalkan filsafat dan ilmu kalam, dengan menekuni Shahih Bukhari dan Muslim. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Penulis Jawahirul Qur’an (Al Ghazali, pen) karena banyak meneliti perkataan para filosof dan merujuk kepada mereka, sehingga banyak mencampur pendapatnya dengan perkataan mereka. Pun beliau menolak banyak hal yang bersesuaian dengan mereka. Beliau memastikan, bahwa perkataan filosof tidak memberikan ilmu dan keyakinan. Demikian juga halnya perkataan ahli kalam. Pada akhirnya beliau menyibukkan diri meneliti Shahih Bukhari dan Muslim hingga wafatnya dalam keadaan demikian. Wallahu a’lam.”
Definisi Metafisika Dalam Ranah Filsafat

Definisi Metafisika Dalam Ranah Filsafat

Seringkali ditemukan orang atau di televisi menyebut kata “metafisika”, sayangnya metafisika tersebut selalu condong dan dikaitkan ke arah yang ghaib/goib, ilmu nujum, perbintangan, pengobatan jarak jauh dan macam-macam lainnya. Beda dalam ranah filsafat, nama metafisika itu sendiri diberikan oleh Andronikos dari Rodhos pada tahun 70 SM terhadap karya-karya yang disusun sesudah buku Physika, tetapi harus diingat bahwa ini bukan secara kronologis (bukan karena Physika maka Metafisika ada) tetapi kebetulan karena muncul buku Physika maka barulah terbit istilah metafisika (Siswanto, 2004:3). Penyelidikan metafisika mula-mula hanya mencakup sesuatu yang ada di belakang dunia fisik, tetapi lalu berkembang menjadi ke penyelidikan terhadap segala sesuatu yang ada.

Di sini kita lihat bahwa metafisika memiliki tingkat keumuman yang paling tinggi, memang benar bahwa metafisika mencakup ke arah pembicaraan tentang alam ghaib atau ketuhanan, tetapi itu segi khususnya saja bukan segi umum dari metafisika itu sendiri. Metafisika pun menyelidiki tentang sesuatu yang objek fisik juga seperti manusia, hewan, tumbuhan, dan benda alam lainnya. Dari sini semakin jelas bahwa metafisika tidak sekedar tentang alam ghaib tetapi juga tentang semua yang ada.

Definisi Metafisika Menurut Para Filsuf
Metafisika sudah banyak didefinisikan oleh para filsuf sejak zaman Yunani sampai posmodern. Tentu definisi yang ada dapat mewakili maksud dari metafisika sebenarnya, coba silakan disimak berbagai definisi berikut:
  • Aristoteles: Metafisika adalah cabang filsafat yang mengkaji yang-ada sebagai yang-ada
  • Anton Bakker: Metafisika adalah cabang filsafat yang menyelidiki dan menggelar gambaran umum tentang struktur realitas yang berlaku mutlak dan umum
  • Frederick Sontag: Metafisika adalah filsafat pokok yang menelaah ‘prinsip pertama’ (the first principle)
  • Van Peursen: Metafisika adalah bagian filsafat yang memusatkan perhatiannya kepada pertanyaan mengenai akar terdalam yang mendasari segala yang-ada
  • Michael J. Loux: Metafisika adalah ilmu tentang kategori (Siswanto, 2004:7).

Dari berbagai definisi yang dikemukakan oleh para filsuf di atas, tidak ada satu pun yang langsung menyebutkan bahwa metafisika adalah penyelidikan terhadap hal ghaib! Begitulah kira-kira definisi metafisika dalam ranah filsafat. Setelah membaca artikel ini diharapkan orang yang masih membenturkan metafisika kepada hal-hal ghaib dan sejenisnya agar cepat bertobat dan memperbaiki pemikirannya terhadap metafisika.

Daftar Pustaka

Siswanto, Joko. 2004. Metafisika Sistematik. Yogyakarta: Penerbit Taman Pustaka Kristen.