Doa Meminta Husnul Khatimah

Doa Meminta Husnul Khatimah

Wahai Yang bila diingat
akan menjadi kemuliaan bagi yang mengingat-Nya
Wahai Yang bila disyukuri
menjadi kemenangan bagi orang yang mensyukuri-Nya
Wahai Yang bila ditaati
menjadi keselamatan bagi orang yang mentaati-Nya

Maka limpahkan sejahtera
kepada Nabi Muhammad dan keluarganya
Sibukkanlah hati kami
dengan tetap mengingat dan menyebut-Mu
dari segala macam ingatan dan sebutan
Sibukkanlah lidah kami
dengan tetap mensyukuri-Mu
dari segala macam rasa syukur
Sibukkanlah anggota tubuh kami
dengan tetap mentaati-Mu
dari segala macam ketaatan selain-Mu

Bila Engkau memberikan padaku
waktu luang tanpa kesibukan apapun
maka jadikanlah itu suatu waktu luang
yang membawa keselamatan
tanpa adanya perasaan ikut-ikutan maupun rasa jemu
sehingga malaikat pencatat amalan kejahatan
segera menunggalkan kami dengan catatan yang kosong
dari sebutan dosa-dosa
dan malaikat pencatat kebaikan
segera meninggalkan kami dengan perasaan gembira
karena catatan kami tertulis amalan kebaikan

Bila hari-hari kehidupan kami mulai lewat
Bila batas waktu umur kami telah habis
dan kami sudah harus memenuhi undangan-Mu
yang tak bisa ditunda-tunda lagi
untuk segera dipenuhi

Maka limpahkan sejahtera
kepada Nabi Muhammad dan keluarganya
Isilah di akhir catatan amalan kami
yang ditulis oleh malaikat pencatat amalan
dengan amalan taubat yang diterima
yang tidak lagi dipenuhi catatan dosa atau kemaksiatan
yang pernah kami lakukan

Janganlah Engkau membuka rahasia kami
yang Engkau tutup rapat di hadapan para saksi
di suatu hari di mana seluruh catatan amal hamba-Mu
sedang diperiksa

Sesungguhnya Engkau Maha Penyayang
kepada yang menyampaikan doa kepada-Mu
Maha Penerima Jawaban
kepada yang memanggil-Mu
Apakah Agama itu?

Apakah Agama itu?

Definisi Agama

Secara leksikal, kata din berasal dari bahasa Arab yang berarti ketaatan dan balasan. Sedangkan secara teknikal, din berarti iman kepada pencipta manusia dan alam semesta, serta kepada hukum praktis yang sesuai dengan keimanan tersebut. Dari sinilah kata al-ladini (orang yang tak beragama) digunakan pada orang yang tidak percaya kepada wujud pencipta alam secara mutlak, walaupun ia meyakini shudfah (kejadian yang tak bersebab-akibat) di alam ini, atau meyakini bahwa terciptanya alam semesta ini akibat interaksi antar-materi semata. Adapun kata al-mutadayyin (orang yang beragama) secara umum digunakan pada orang yang percaya akan wujud pencipta alam semesta ini, walaupun kepercayaan, perilaku dan ibadahnya bercampur dengan berbagai penyimpangan dan khurafat. Atas dasar inilah agama yang dianut oleh umat manusia terbagi menjadi dua; agama yang hak dan agama yang batil. Agama yang hak merupakan dasar yang meliputi keyakinan-keyakinan yang benar; yang sesuai dengan kenyataan, dan ajaran-ajaran serta hukum-hukumnya dibangun di atas pondasi yang kokoh dan dapat dibuktikan kesahihannya.

Usuluddin dan Cabang-cabangnya

Dari uraian singkat di atas tampak jelas bahwa istilah din atau agama terdiri dari dua unsur pokok: pertama, akidah atau aqa’id (keyakinan-keyakinan) yang merupakan prinsip agama. Kedua, hukum-hukum praktis yang merupakan konsekuensi logis dari prinsip agama tersebut.
Oleh karena itu, tepat sekali apabila bagian akidah ini dinamakan sebagai ushul (prinsip) agama, dan bagian ahkam (hukum-hukum) praktis dinamakan sebagai furu’ (cabang), sebagaimana para ulama Islam menggunakan dua istilah tersebut pada bidang akidah dan hukum-hukum Islam.

Pandangan Dunia dan Ideologi

Pandangan dunia (Ar-Ru’yah Al-Kauniyyah) dan ideologi adalah dua istilah yang berdekatan artinya. Salah satu arti pandangan dunia ialah seperangkat keyakinan mengenai penciptaan, alam semesta dan manusia, bahkan mengenai wujud secara mutlak.Sedangkan arti ideologi, salah satunya ialah seperangkat pandangan universal tentang sikap praktis manusia. Berdasarkan dua arti ini, sistem akidah setiap agama dapat dianggap sebagai sebuah pandangan yang bersifat universal. Sedang sistem hukum praktis agama yang bersifat umum adalah ideologinya. Maka itu, kedua istilah ini dapat diterapkan pada ushuluddin dan furu’uddin.

Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwa istilah ideologi itu tidak meliputi hukum-hukum juz’i (partikular), begitu pula istilah padangan dunia itu tidak meliputi keyakinan-keyakinan yang juz'i. Hal lain yang juga perlu diperhatikan ialah bahwa istilah ideologi terkadang digunakan untuk pengertian yang bahkan mencakup pandangan dunia itu sendiri.

Pandangan Dunia Ilahi dan Materialisme

Pada umat manusia, terdapat berbagai pandangan dan keyakinan mengenai penciptaan alam semesta ini. Akan tetapi, semua itu—dari sisi keimanan atau pengingkaran terhadap alam metafisis—dapat dibagi menjadi dua bagian utama; pandangan dunia Ilahi dan pandangan dunia Materialisme.
Dahulu, penganut pandangan dunia Materialisme dikenal sebagai ath-thabi’i dan ad-dahri. Terkadang juga disebut sebagai zindik dan mulhid (ateis). Sedangkan di zaman kita sekarang ini, mereka dikenal sebagai al-maddi (materialis). Di dalam kaum materialis sendiri, terdapat aliran-aliran. Yang paling menonjol pada masa kita sekarang ini adalah Materialisme Dialektika yang merupakan bagian Filsafat Marxisme.

Dari uraian di atas jelaslah bahwa istilah pandangan dunia tidak terbatas hanya pada kepercayaan agama saja, namun mempunyai pengertian yang lebih luas lagi, karena istilah itu juga digunakan pada pandangan ilhadiyyah (ateisme) dan madiyyah (materialisme), sebagaimana istilah ideologi itu tidak hanya digunakan untuk sistem hukum suatu agama.

Agama Samawi dan Dasar-dasarnya

Para ulama, ahli sejarah agama dan sosiologi berbeda pendapat mengenai kemunculan agama. Adapun sumber-sumber Islam menyatakan bahwa agama tauhid lahir seketika kelahiran manusia pertama. Manusia pertama yang lahir di muka bumi ini adalah nabi (Adam as) dan penyeru ajaran tauhid (mengesakan Allah). Adapun agama-agama musyrik muncul lantaran penyimpangan, pemaksaan kehendak dan ambisi busuk, yang bersifat individu maupun kelompok.

Agama-agama tauhid adalah agama-agama samawi yang hakiki dengan tiga prinsip universal mereka, yaitu pertama: iman kepada Allah Yang Esa. Kedua, iman kepada kehidupan abadi setiap manusia di akhirat kelak untuk menerima pembalasan amal yang pernah ia lakukan semasa hidupnya di dunia. Ketiga, iman kepada para nabi dan rasul yang diutus oleh Allah untuk memberi hidayah dan bimbingan kepada seluruh umat manusia demi mencapai puncak kesempurnaan dan kebahagiaan dunia serta akhirat.

Pada dasarnya, tiga prinsip ini merupakan jawaban yang paling tegas atas persoalan-persoalan fundamental manusia yang berakal. Yaitu, siapakah pencipta alam semesta ini? Bagaimanakah akhir kehidupan ini? Dan apakah cara untuk mengetahui sistem kehidupan yang terbaik? Sistem kehidupan yang dibangun atas dasar wahyu pada hakikatnya adalah ideologi yang bersumber dari pandangan dunia Ilahi.

Prinsip-prinsip akidah itu mempunyai berbagai konsekuensi dan rincian yang semuanya membentuk sebuah sistem akidah agama. Adanya perbedaan di antara berbagai keyakinan merupakan sebab munculnya berbagai agama dan madzhab. Kita perhatikan bagaimana perbedaan tentang status kenabian sebagian nabi-nabi Ilahi dan tentang penentuan kitab yang orisinil dan utuh menjadi sebab utama perselisihan di antara agama Yahudi, Nasrani dan Islam. Atau perbedaan-perbedaan lainnya seputar masalah akidah dan ibadah, sehingga sebagian dari agama itu sudah tidak sesuai lagi dengan ajarannya yang murni. Contohnya, keyakinan orang-orang Nasrani terhadap Trinitas yang jelas tidak sesuai dengan prinsip Tauhid, walaupun mereka telah berusaha untuk menafsirkan dan menakwilnya sebegitu rupa agar dapat diterima. Demikian pula perselisihan mengenai kepemimpinan dan penentuan khalifah setelah wafatnya Rasul saw; apakah penentuan khalifah itu urusan Allah ataukah urusan manusia. Persoalan ini merupakan sebab utama terjadinya ikhtilaf antara mazhab Ahli Sunnah dan mazhab Syi’ah di dalam Islam.

Dengan demikian, Tauhid, Kenabian dan Ma’ad (Hari Kebangkitan) adalah prinsip-prinsip akidah pada semua agama samawi. Meski begitu, terdapat keyakinan-keyakinan yang merupakan turunan dari prinsip-prinsip tersebut. Misalnya, keyakinan terhadap keberadaan Allah adalah prinsip pertama, keyakinan terhadap keesaan-Nya adalah prinsip kedua. Atau, keyakinan terhadap Kenabian merupakan sebuah prinsip semua agama samawi, sedangkan keyakinan terhadap kenabian Nabi Muhammad saw adalah prinsip yang khas pada Islam. Sebagian ulama Syi’ah menjadikan Keadilan Tuhan—yang merupakan turunan dari prinsip Tauhid—sebagai prinsip akidah khas Syi’ah. Dan Imamah—sebagai perpanjangan dari Kenabian—adalah prinsip akidah khas Syi’ah lainnya. Sebenarnya, penggunaan kata prinsip (al-ashl) pada ajaran-ajaran akidah seperti ini mengikuti konvensi dan tidak perlu lagi diperdebatkan.

Oleh karena itu, kata ushuluddin dapat digunakan dalam dua istilah; umum dan khusus. Istilah umum ushuluddin mencakup akidah-akidah yang sahih; sebagai lawan dari furu’uddin. Sedang istilah khusus ushuluddin berlaku hanya pada keyakinan-keyakinan yang paling prinsipal. Istilah ushuluddin juga dapat digunakan secara mutlak (tidak hanya khusus bagi sebuah agama) pada sejumlah kesamaan prinsip akidah di antara agama-agama samawi seperti tiga prinsip di atas tadi, yaitu Tauhid, Kenabian dan Kebangkitan. Adapun jika ditambahkan prinsip-prinsip lainnya, istilah yang biasa digunakan adalah ushuluddin khusus. Demikian pula, jika ditambahkan akidah dan keyakinan yang khas pada mazhab tertentu, istilah yang digunakan adalah ushulul madzhab.
Kata-Kata Penuh Hikmah tentang Akal

Kata-Kata Penuh Hikmah tentang Akal

  1. Rasulullah Saw, bersabda: “Sesungguhnya seluruh kebaikan hanya dimengerti oleh akal.” [ Tuhaful uqul 54 ; Bihar ul anwar 77:158 ]
  2. Rasulullah bersabda: “Mintalah petunjuk kepada akal, niscaya kamu akan mendapatkannya. Dan jangan menentangnya, niscaya kamu akan menyesal.” [ Ushul kafi 1:25 ]
  3. Imam Ali as berkata: “Akal adalah sumber pengetahuan dan pengajak kepada pemahaman. [ Ghurar ul Hikam, karya al-amudi 1:102 ]
  4. Dari Imam Shadiq as: “Akal adalah petunjuk orang mukmin.” [ Ushul Kafi 1:25 ]

Selain peran dan nilai akal dalam menguak alam semesta, riwayat-riwayat keislaman menegaskan bahwa Allah berhujjah kepada para hamba-Nya melalui akal. Argumentasi ilahi dengan akal dan berbagai implikasinya berupa, siksaan dan tanggung jawab, menunjukkan kepada kita betapa agungnya nilai akal dalam kehidupan manusia dan dalam agama Allah. Imam Musa bin Ja’far as juga berkata: “Allah benar-benar telah menyempurnakan hujjah-hujjah-Nya pada manusia melalui akal, membukakan (akal mereka) dengan al-bayan (penjelasan) dan menunjukkan mereka pada rububiyyah-Nya dengan berbagai dalil (bukti).” [ Bihar ul Anwar 1:132 ]

Nabi Muhammad saww, pernah ditanya, “Apakah Akal itu?” Beliau menjawab: “Ia adalah (alat) untuk ketaatan kepada Allah. Karena, orang-orang yang taat kepada Allah adalah orang-orang yang berakal.” [ Bihar ul Anwar 1:131 ]

Imam Ja’far as-shadiq as pernah ditanya apakah akal itu. Beliau menjawab: “Akal adalah alat yang digunakan untuk menyembah (beribadah) kepada Ar-Rahman , Allah dan untuk memperoleh surga-Nya.” [ Bihar ul Anwar 1:116 ]

Imam Ali as berkata lebih lanjut mengenai akal ini:
  • Akal adalah pedang yang tajam.
  • Bunuhlah hawa nafsumu dengan senjata akalmu.
  • Jiwa memendam berbagai hasrat nafsu. Akal berfungsi untuk mencegahnya.
  • Hati memendam berbagai hasrat jelek, sedangkan akal selalu menahannya.
  • Orang yang berakal adalah orang yang mengalahkan hawa nafsunya dan orang yang tidak menukar akhiratnya dengan dunianya.
  • Orang yang berakal adalah orang yang meninggalkan hawa nafsunya dan yang membeli dunianya untuk akhiratnya.
  • Orang berakal adalah musuh kelezatan dan orang bodoh adalah budak syahwatnya
  • Orang yang berakal adalah orang yang melawan nafsunya untuk taat kepada Allah.
  • Orang yang berakal adalah orang yang mengalahkan kecenderungan-kecenderungan hawa nafsunya.
  • Orang yang berakal adalah orang yang mematikan syahwatnya dan orang kuat adalah orang yang menahan kesenangannya.

Prajurit-prajurit Akal
Tugas akal yang sulit, telah dibantu Allah dengan dianugerahkannya sejumlah kekuatan dan perangkat yang dapat mendukung jerih payahnya itu. Dalam etika Islam ada apa yang namanya Junud al ‘aql (prajurit-prajurit akal) yaitu merupakan sejumlah faktor pendukung.

Dari Sa’d dan Al-Humairi dari Al-baqi dari Ali bin Hadid dari Sama’ah (bin Mahran) berkata: “Saya pernah hadir dalam majlis Abu Abdillah as disana juga hadir sebagai murid yang lain. Majlis itu membahas tentang akal dan kejahilan. Kemudian Abu abdillah berkata:”Kamu hendaknya mengetahui akal beserta bala tentaranya dan kejahilan serta bala tentaranya agar kamu mendapat petunjuk. Kemudian Sama’ah berkata, maka aku bertanya: Semoga jiwaku jadi tebusanmu, saya tidak mengerti kecuali apa yang Anda jelaskan.”

Abu Abdillah menjawab: “Sesungguhnya Allah mengatakan Akal sebagai makhluk pertama yang bersifat ruhany. Saat itu akal terletak disamping kanan arsy yang tercipta dari Nur-Nya". Kemudian Allah berfirman kepada akal: “Menghadaplah!” Akalpun menghadap. Allah berfirman: “Berpalinglah!” kemudian iapun berpaling. Kemudian Allah berfirman: “Kuciptakan kamu sebagai ciptaan yang agung. Kumuliakan kamu diatas seluruh ciptaan-Ku.”

Beliau melanjutkan: “Allah menciptakan jahl (kejahilan) dari laut asin yang dhulmany (gelap gulita). Kemudian Allah menyuruhnya berpaling dan iapun berpaling. Kemudian Allah menyuruhnya menghadap, tetapi kejahilan tetap tidak mau menghadap. Allah berfirman kepadanya: “Kau congkak?” Lalu Allah mengutuknya Kemudian Dia menciptakan 75 tentara akal.”

Melihat hal itu dengan nada permusuhan kejahilan berkata: Tuhan, akal adalah makhluk-Mu sebagaimana juga aku. Mengapa ia Engkau muliakan dengan kekuatan sedang aku lawannya tidak mempunyainya? Berilah aku kekuatan seperti dia. Lalu Allah berfirman: “Baiklah. Tetapi apabila engkau beserta bala tentaramu bermaksiat, maka akan Kukeluarkan kamu sekalian dari Rahmat-Ku. Kejahilan menjawab: “Saya terima janji itu.” Allah kemudian memberinya 75 tentara. Adapun 75 tentara akal dan kejahilan itu adalah:

TENTARA AKAL >< TENTARA JAHL

1. Kebajikan (menteri akal) >< Kejahatan (menteri jahil) 2. Iman >< kufur 3. percaya >< ingkar 4. harapan >< putus asa 5. keadilan >< kezaliman 6. rela >< tidak rela / murka 7. syukur >< ingkar nikmat 8. gemar kebaikan >< putus ikhtiar 9. tawakal >< ambisius 10. lemah lembut >< lalai (ghirrah) 11. kasih sayang >< amarah (ghadhab) 12. ilmu >< bodoh (jahl) 13. cerdik >< dungu (humq) 14. menjaga diri >< ceroboh (tahattuk) 15. zuhud >< hasrat (raghbah) 16. sopan >< kasar 17. waspada >< gegabah (jur’ah) 18. rendah hati >< takabur 19. kalem (ta’uddah) >< tergesa-gesa 20. bijaksana >< konyol (safah) 21. pendiam >< pengoceh (hadzar) 22. menyerah >< menentang 23. mengakui >< membandel 24. lunak >< keras (qaswah) 25. yakin >< syak 26. sabar >< meronta (jaza’) 27. pemaaf (shafh) >< pendendam 28. kaya (ghina) >< fakir 29. tafakur >< lalai (sahw) 30. hapal (hifzh) >< lupa (nisyan) 31. penyambung >< pemutus 32. kanaah >< ingin tambahan (hirsh) 33. emansipasi >< isolasi diri 34. rasa sayang >< rasa permusuhan 35. memegang (wafa’) >< melepas 36. taat >< maksiat 37. khudhuk >< arogansi 38. selamat >< bencana 39. cinta (hubb) >< marah 40. jujur >< bohong 41. hak >< batil 42. amanat >< khianat 43. murni >< noda (syaub) 44. cekatan >< lamban 45. cendikia >< tolol 46. pengetahuan >< penyangkalan 47. pengukuhan >< penyingkapan 48. menjaga aib orang lain >< makar 49. menjaga rahasia >< ekspose 50. shalat >< penyia-nyiaan 51. puasa >< iftar 52. jihad >< lari dari jihad 53. haji >< ingkar janji 54. menjaga omongan >< membongkar skandal 55. bakti kepada orang tua >< durhaka 56. realitas >< riya’ 57. makruf >< tabu 58. menutup aurat >< bersolek 59. taqiyyah >< mengobral perkataan 60. jalan tengan (inshaf) >< fanatisme 61. kebaktian >< onar 62. bersih >< kotor 63. malu >< bugil 64. terarah (qashd) >< bablas (‘udwan) 65. relaks >< lelah (ta’ab) 66. kemudahan >< kesukaran 67. berkah >< binasa 68. afiat >< petaka (bala’) 69. normal >< berlebih 70. hikmah >< hawa nafsu 71. bahagia >< nestapa 72. taubat >< berkeras kepala 73. istiqhfar >< pongah (ightirar) 74. mawas diri >< lengah (tahawun) 75. berdoa >< berpaling (istinkaf)

Ke-75 bala tentara ini tidak akan dipersatukan kembali kecuali pada seorang Nabi, penerus Nabi (Washy) atau seorang Mukmin yang hatinya telah lulus ujian. Selain mereka, mempunyai sebagian. Dan dalam perjalanannya nanti, dia akan menyempurnakan bala tentara akal dalam jiwanya sambil selalu mewaspadai bala tentara jahil. Setelah itu, baru manusia dianggap sederajat dengan para Nabi dan Washy. Tentunya, sebelum mencapai apapun, manusia mesti mengerti dan mengenal akal dan bala tentaranya. Mudah-mudahan Allah Ta’ala memberi taufik kepada kita semua untuk berlaku taat dan mendapat ridha-nya.” [ Bihar Ul Anwar 1:109-111 bagian Kitab Al-Aql wa Al-Jahl ] Maka dapat diambil kesimpulan: Tuhan Maha Kuasa, dan karena roh “berasal dari perintah Tuhan-ku”, salah satu ciri utamanya adalah pengetahuan dan kesadaran. Namun nafs menyeret jauh dari cahaya kesadaran roh itu, dan seperti jasad, ia tidak dapat menangkap kilauan cahaya yang bersinar dari balik kegelapannya. Roh memiliki kualitas pemahaman yang disebut AKAL. Dan tingkatan manusia itu dibedakan oleh kekuatan cahaya akal dalam menembus selubung nafs. Memang selalu terjadi pertengkaran yang sengit antara akal dan nafs dan sayangnya bagi sebagian besar orang, nafs lah yang menang. Sedangkan bagi nabi dan orang-orang suci, akal lah yang menang.

Rumi berkata: o Dua ekor rajawali dan elang dalam satu sangkar; mereka saling mencakar ... ... o Dalam setiap desahan nafas kita, akal berjuang melawan godaan nafs. Keterpisahaan dari Sumber telah menyebabkan mereka terpuruk. o Jika desakan nafs keledai telah kalah, akal akan menjadi Messiah. o Sungguh akal dapat melihat setiap akibat, nafs tidak. Akal yang telah dikalahkan nafs menjadi nafs—Yupiter bertekuk lutut pada saturnus, mungkinkah? o Akal adalah cahaya yang mencari kebaikan. Mengapa kegelapan nafs dapat mengalahkannya? o Nafs memiliki rumahnya sendiri, dan akal adalah musafir. Didepan pintunya, seekor anjing begitu tunduk pada singa.

Sumber:
Al Hawa fi Hadis Ahl al Bayt oleh Muhammad Mahdi al-ashify, terbitan Majma’ al-alami li ahl al bayt.
Faktor-Faktor Kesalahan Akal Menurut al-Qur'an

Faktor-Faktor Kesalahan Akal Menurut al-Qur'an

Ada lima faktor yang disebutkan dalam al-Qur'an yang dapat memperbesar kesalahan kerja akal dalam menjalankan fungsinya:

  1. Lebih mengutamakan dugaan (dzan) daripada hal-hal yang pasti. Al-Qur'an Surah al-An'am: 116, yang bermaksud:

    "Dan jika kamu menuruti kebanyakan (majoriti) orang-orang yang di muka bumi ini, nescaya mereka akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanya mengikuti prasangka belaka dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)."

    Ayat Qur'an Surah Al-Isro': 36, yang bermaksud:

    "Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya itu akan diminta pertanggungjawabnya."
  2. Mengikuti jejak langkah nenek moyang, lalu menerima segala yang klasik itu tanpa disertai pembuktian. Lihat Surah al-Baqaroh: 170, yang bermaksud:

    "Dan apabila dikatakan kepada mereka:" Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab:"(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami." (Apakah) mereka akan mengikuti juga) walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun. Dan tidak mendapat petunjuk?"

    Lihat juga Surah al-Maidah: 77, dan 104, al-Qashas: 28, dan 36, al-Syuara': 6, 69, dan 74.

    Jika apa yang dianuti dan diyakini oleh nenek moyang itu dapat dibuktikan kebenaran berdasarkan pembuktian-pembuktian secara aqliah (akal) yang wajar maka al-Qur'an akan membenarkan hal itu. Lihat Surah Yusuf: 38, yang bermaksud:

    "Dan aku mengikuti agama bapak-bapakku iaitu Ibrahim, Ishaq, dan Ya'qub. Tiadalah patut bagi kami (para Nabi) mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah. Yang demikian itu adalah kurnia Allah kepada kami dan kepada manusia (seluruhnya) tetapi kebanyakan manusia tidak mensyukuri(Nya)."

    Dalam ayat tersebut, Allah SWT mengabadikan sikap Nabi Yusuf AS dengan dalil-dalil yang cukup kuat dapat membuktikan kebenaran ajaran pendahulunya iaitu ajaran Tauhid (ajaran yang tidak mempersekutukan Allah SWT) dan kemudian diikutinya. Dapat juga dilihat dalam al-Qur'an Surah az-Zuhruf: 22-24.
  3. Mengikuti dorongan hawa nafsu (kepentingan-kepentingan peribadi). Lihat Surah an-Najm: 23, yang bermaksud:

    "Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakan; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah)nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka. Dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka."

    Lihat juga Surah aan-An'am: 119, Surah Muhammad: 14, dan 16, Surah Rum: 29, dan Surah al-Qosshos: 50.
  4. Terpengaruh peribadi-peribadi (tokoh-tokoh) tertentu tanpa pembuktian status peribadi tersebut sama ada dia layak diikuti (ditaati) atau tidak. Lihat Surah al-Ahzab: 67, yang bermaksud:

    "Dan mereka berkata:" Wahai Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar)."
  5. Tergesa-gesa dalam membenarkan atau mengingkari sesuatu tanpa dibuktikan terlebih dahulu termasuk suatu hal yang tidak dibenarkan oleh Islam. Lihat Surah al-A'rof: 169, yang bermaksud:

    ".....yaitu bahawa mereka tidak akan mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar...."

    Maksudnya janganlah menyimpulkan bahawa sesuatu itu benar (datang) dari Allah walhal belum dibuktikan kebenarannya (kesimpulan tersebut). Tergesa-gesa dalam mengingkari sesuatu. Al-Qur'an Surah Yunus: 39, yang bermaksud:

    "Yang sebenarnya, mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya dengan sempurna padahal belum datang kepada mereka penjelasannya. Demikianlah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (Rasul-rasul). Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang zalim itu."
Nalar Islam (Antara Tradisi Teks dan Tradisi Gnosis)

Nalar Islam (Antara Tradisi Teks dan Tradisi Gnosis)

Untuk membicarakan tema di atas, kita mesti memperjelas atau setidaknya mengingatkan kembali definisi dan pengertian bagian-bagian tema tersebut, sebelum kita masuki pembahasan ini lebih jauh.

Nalar: Nalar atau Pikir memiliki definisi: Gerakan Akal dari yang Diketahui Menuju yang Tidak Diketahui atau yang Dipertanyakan.

Penjelasan:
Ketika seseorang menghadapi masalah yang harus dipikirkan, pertama kali ia menyadari akan hal yang dihadapinya itu, kemudian ( tahab ke dua ) hal tersebut dibawanya ke dalam alam pikirannya sebagai suatu pertanyaan atau kemajhulan yang harus dijawabnya. Sampai di sini ia masih belum dikatakan berfikir.

Tahap ke tiga, ia mencoba mencari informasi-informasi di dalam pikirannya atau benaknya yang berkesuaian dengan masalah yang tengah ia hadapi tersebut. Proses inilah yang biasa dikenal dengan Proses Putar Otak.

Tahap ke empat, ketika ia telah menemukan file-file yang sesuai dengan masalah yang dihadapinya itu, maka ia segera membawanya ke data semula yang diletakkannya sebagai sesuatu yang mesti diatasinya tersebut ( yang tidak diketahui ), sebagai jawaban atas masalahnya itu.

Tahapan ke tiga dan ke empat inilah yang dikatakan Berfikir, dimana jelas merupakan gerakan akal dari yang diketahui menuju kepada yang tidak diketahuinya, bukan sebaliknya. Sebab perjalanan akal dari yang tidak diketahui menuju yang diketahuinya, hanya merupakan langkah awal dalam kesadarannya ketika ia menghadapi suatu masalah. Ibarat seseorang yang membawakan makalah atau masalahnya ke forum atau temannya untuk didiskusikan, maka hal itu jelas belum bisa dikatakan berdiskusi bersama. Dengan demikian maka jelaslah bahwa berfikir adalah Gerakan Akal dari yang Diketahui Menuju yang tidak Diketahui.

Nalar Islam: Dengan jelasnya makna Nalar di atas, dapat kita definisikan Nalar Islam di sini, yaitu sebagai: Gerakan Akal dari yang Diketahui dari Sumber-sumber ke-Islaman Menuju kepada yang tidak/belum Diketahui.

Penjelasan:
Seluruh informasi seseorang yang didapatkan dari ajaran Islam, dapat dijadikan obyek gerakan akal untuk memecahkan segala masalah yang dihapinya. Tentu saja, luas-sempitnya dan benar-tidaknya informasi itu dapat mempengaruhi ia dalam sukses dan tidaknya menyelesaikan masalah yang dihadapinya tersebut.

Dan karena ukuran kebenaran Islam pada jaman tidak adanya maksum menjadi sulit ditetapkan, maka sesiapun yang mengerrti Islam sebenarnya, tidak bisa dijamin kebenarannya secara pasti, terlebih ia jadikan ukuran kebenaran Islam dan penyelesain terhadap masalah-masalah berikutan yang ia hadapi. Begitulah, ketika Jibril as. sudah tidak turun lagi untuk menguatkan masalah-masalah yang dipahami dan dihadapi, dan Rasul maksumpun dimana bisa dijadikan pengoreksi aktif pahaman kita, telah meninggalkan kita, maka kita tidak lagi berhak mengatakan bahwa hanya milik akulah atau ilmukulah yang benar dan yang lainnya tidak.

Dengan demikian, maka ilmu-ilmu ke-Islaman semua orang pada jaman sekarang adalah relatif. Namun demikian, bagi yang memiliki imam maksum, ketika keluar nanti, maka ia bisa mengoreksikan pahamannya ke imam tersebut, dan bagi yang tidak punya, atau bagi yang punya tapi imamnya masih dalam keadaan ghaib atau belum lahir ( sebagaimana kepercayaan sebagian saudara Ahlussunah ), maka ia hanya bisa mengoreksi pahamannya dengan argumentasi murni, alias tanpa ketaashshuban atau kefanatikan. Sehingga kalau dengan ketulusannya itu ia masih juga keliru, insyaallah akan dicakup dengan firman Allah yang berbunyi:

“Barang siapa keluar dari rumahnya bermaksud berhijrah kepada Allah dan RasulNya, kemudian mati menjemputnya di tengah jalan, maka sesungguhnya Allah telah menetapkan pahala baginya”

Tanda-Tanda Menjelang Kematian

Setiap yang bernyawa pasti akan mati dan kembali kehadapan Allah Swt. Seperti dalam firman-Nya:


“Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, Kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, Kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan” (QS Al Baqarah: 28)

Adapun tanda-tanda kematian diuraikan ulama adalah benar dan nyata. Cuma
amalan dan ketakwaan kita saja yang akan dapat membedakan kepekaan kita
kepada tanda-tanda ini. Rasulullah SAW seperti yang diriwayatkan masih mampu memperlihat dan menceritakan kepada keluarga dan sahabat secara lansung akan kesukaran menghadapi sakaratulmaut dari awal hingga akhir hayat Baginda. Imam Ghazali juga seperti yang diriwayatkan memperoleh tanda-tanda ini sehingga beliau mampu menyediakan dirinya untuk menghadapi sakaratulmaut secara sendirian.
Adapun riwayat-riwayat ini memperlihatkan kepada kita sesungguhnya Allah
SWT tidak pernah berlaku zalim kepada hambanya. Tanda-tanda yang diberikan
adalah untuk menjadikan kita umat Islam supaya dapat bertaubat dan bersedia
dalam perjalanan menghadap Allah SWT. Walau bagaimanapun semua tanda-tanda
ini akan dirasakan oleh orang-orang Islam saja, sedangkan orang-orang kafir,
yaitu orang yang menyekutukan Allah tidak akan diberi peringatan sesuai dengan kekufuran mereka kepada Allah SWT.

Adapun tanda-tanda ini terbagi beberapa keadaan:

100 hari sebelum kematian
Ini adalah tanda pertama dari Allah SWT kepada hambanya dan hanya akan
disadari oleh mereka-mereka yang dikehendaki-Nya. Walau bagaimanapun semua orang Islam akan mendapat tanda ini baik dalam keadaan sadar atau tidak sadar. Tanda ini akan berlaku lazimnya selepas waktu Asar. Seluruh tubuh yaitu dari hujung rambut sehingga ke hujung kaki akan mengalami getaran atau seakan-akan mengigil. Contohnya seperti daging lembu yang baru disembelih dimana jika diperhatikan dengan teliti kita akan mendapati daging tersebut seakan-akan bergetar. Tanda ini rasanya lazat dan bagi mereka sadar dan berdetik di hati bahwa mungkin ini adalah tanda mati maka getaran ini akan berhenti dan hilang setelah kita sadar akan kehadiran tanda ini.

Bagi mereka yang tidak diberi kesadaran atau mereka yang hanyut dengan
kenikmatan tanpa memikirkan soal kematian, tanda ini akan lenyap begitu
saja tanpa bermanfaat. Bagi yang sadar dengan kehadiran tanda ini maka ini adalah peluang terbaik untuk memanfaatkan masa yang ada untuk mempersiapkan diri dengan amalan dan urusan yang akan dibawa atau ditinggalkan sesudah mati.

40 hari sebelum kematian
Tanda ini juga akan berlaku sesudah waktu Asar. Bagian pusat kita akan
berdenyut-denyut. Pada ketika ini daun yang tertulis nama kita akan gugur dari pokok yang letaknya di atas Arash Allah SWT. Maka malaikat maut akan mengambil daun tersebut dan mula membuat persediaannya ke atas kita antaranya ialah ia akan mula mengikuti kita sepanjang masa. Malaikat maut ini akan memperlihatkan wajahnya sekilas lalu dan jika ini terjadi, mereka yang terpilih ini akan merasakan seakan-akan bingung seketika.

7 hari sebelum kematian
Adapun tanda ini akan diberikan hanya kepada mereka yang diuji dengan musibah kesakitan di mana orang sakit yang tidak makan secara tiba-tiba dan tidak berselera untuk makan.

3 hari sebelum kematian
Pada ketika ini, akan terasa denyutan di bagian tengah dahi kita, yaitu di antara dahi kanan dan kiri. Jika tanda ini dapat dirasa, maka berpuasalah kita selepas itu supaya perut kita bersih dari najis dan ini akan memudahkan urusan orang yang akan memandikan kita nanti.

Ketika itu, mata menjadi hitam dan tidak bersinar lagi. Bagi orang yang sakit hidungnya akan perlahan-lahan jatuh dan ini dapat dilihat dari bagian sisi.
Telinganya akan layu di mana bagian ujungnya akan beransur-ansur masuk ke dalam. Telapak kaki perlahan-lahan jatuh ke depan dan sukar diluruskan.

Sehari sebelum kematian
Akan berlaku sesudah waktu Asar di mana kita akan merasakan satu denyutan di sebelah belakang, yaitu pada ubun-ubun yang menandakan kita tidak bisa lagi sampai waktu Asar keesokan harinya.

Tanda Akhir Kematian
Akan berlaku keadaan di mana kita akan merasakan satu keadaan sejuk di
bahagian pusat lalu turun ke pinggang dan seterusnya akan naik ke
bahagian atas. Ketika itu, hendaklah kita terus mengucap kalimat syahadah dan berdiam diri menantikan kedatangan malaikat maut untuk menjemput kita kembali kepada
Allah SWT yang telah menghidupkan kita dan sekarang akan mematikan pula.

PENUTUP
Marilah kita bertaqwa dan berdoa kepada Allah SWT semoga kita
adalah di antara orang-orang yang yang dipilih oleh Allah yang akan diberi
kesadaran untuk peka terhadap tanda-tanda kematian ini. Semoga kita dapat memohon ampunan dari Allah SWT maupun sesama manusia dari segala dosa dan urusan hutang piutang kita selama hidup dunia.

Oleh itu, marilah kita bersama-sama berusaha dan berdoa semoga kita diberi hidayah dan petunjuk oleh Allah SWT serta kelapangan dan kesehatan tubuh dan juga
fikiran dalam usaha kita untuk mencari keridhaan Allah SWT di dunia
maupun akhirat. Apa yang baik dan benar itu datangnya dari Allah SWT dan apa
yang salah itu adalah dari kelemahan manusia itu sendiri.

Mari bersama-sama memperbanyak bekal kita untuk akhirat nanti.
Peranan Sastra dalam Dunia Pendidikan dan Masyarakat

Peranan Sastra dalam Dunia Pendidikan dan Masyarakat

Pembelajaran sastra sejak dulu sampai sekarang selalu menjadi permasalahan. Tentu saja permasalahan yang bersifat klasik tetapi hangat atau up to date. Umumnya yang selalu dikambinghitamkan adalah guru yang tidak menguasai sastra, murid-murid yang tidak apresiatif dan buku-buku penunjang yang tidak tersedia di sekolah. Padahal, pembelajaran sastra tidak perlu dipermasalahkan jika seorang guru memiliki strategi atau kiat-kiat yang dapat dijadikan sebagai alternatif.

Karya sastra mempunyai relevansi dengan masalah-masalah dunia pendidikan dan pengajaran. Sebab itu sangat keliru bila dunia pendidikan selalu menganggap bidang eksakta lebih utama, lebih penting dibandingkan dengan ilmu sosial atau ilmu-ilmu humaniora. Masyarakat memandang bahwa karya sastra hanyalah khayalan pengarang yang penuh kebohongan sehingga timbul klasifikasi dan diskriminasi. Padahal karya sastra memiliki pesona tersendiri bila kita mau membacanya. Karya sastra dapat membukakan mata pembaca untuk mengetahui realitas sosial, politik dan budaya dalam bingkai moral dan estetika.

Dari dulu sampai sekarang karya sastra tidak pernah pudar dan mati. Dalam kenyataan karya sastra dapat dipakai untuk mengembangkan wawasan berpikir bangsa. Karya sastra dapat memberikan pencerahan pada masyarakat modern. ketangguhan yang sangat dibutuhkan dalam pembangunan. Di satu pihak, melalui karya sastra, masyarakat dapat menyadari masalah-masalah penting dalam diri mereka dan menyadari bahwa merekalah yang bertanggung jawab terhadap perubahan diri mereka sendiri.

Sastra dapat memperhalus jiwa dan memberikan motivasi kepada masyarakat untuk berpikir dan berbuat demi pengembangan dirinya dan masyarakat serta mendorong munculnya kepedulian, keterbukaan, dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan. Sastra mendorong orang untuk menerapkan moral yang baik dan luhur dalam kehidupan dan menyadarkan manusia akan tugas dan kewajibannya sebagai makhluk Tuhan, makhluk sosial dan memiliki kepribadian yang luhur.

Selain melestarikan nilai-nilai peradaban bangsa juga mendorong penciptaan masyarakat modern yang beradab (masyarakat madani) dan memanusiakan manusia dan dapat memperkenalkan nilai-nilai kemanusiaan yang universal, melatih kecerdasan emosional, dan mempertajam penalaran seseorang.

Sastra tidak hanya melembutkan hati tapi juga menumbuhkan rasa cinta kasih kita kepada sesama dan kepada sang pencipta. Dengan sastra manusia dapat mengungkapkan perasaan terhadap sesuatu jauh lebih indah dan mempesona. Seperti ungkapan perasaan cinta Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin al Khattabi al-Bakri (Jalaluddin Rumi) atau sering pula disebut dengan nama Rumi adalah seorang penyair sufi yang lahir di Balkh (sekarang Afganistan) pada tanggal 6 Rabiul Awwal tahun 604 Hijriah, atau tanggal 30 September 1207 Masehi dalam bentuk syair yang begitu mempesona:

Cinta

Karena cinta duri menjadi mawar
Karena cinta cuka menjelma anggur segar
Karena cinta pentungan jadi mahkota penawar
Karena cinta kemalangan menjelma keberuntungan
Karena cinta rumah penjara tampak bagaikan kedai mawar
Karena cinta tumpukan debu kelihatan sebagai taman
Karena cinta api yang berkobar-kobar jadi cahaya yang menyenangkan
Karena cinta Setan berubah menjadi Bidadari
Karena cinta batu yang keras menjadi lembut bagai mentega
Karena cinta duka menjadi riang gembira
Karena cinta hantu berubah jadi malaikat
Karena cinta singa tak menakutkan seperti tikus
Karena cinta sakit jadi sehat
Karena cinta amarah berubah menjadi keramah-tamahan

Sebuah perasaan dilukiskan kedalam karya sastra, karya hati ataupun jiwa menjadi jauh beretika dan berestetika dalam menyampaikan sesuatu hal kepada orang lain. Namun, yang perlu diketahui oleh kita bahwa bahwa materi pengajaran sastra dalam dunia pendidikan mempunyai pengaruh yang besar bagi siswa, sastra dapat meningkatkan kepekaan siswa terhadap fakta yang ada di dalam masyarakat, menghaluskan perasaan siswa dan membentuk kepribadian serta budi pekerti luhur. “Siapa yang belajar sastra, maka akan halus hatinya (pekertinya)” (kata Ibnu Qayyim al-Jauzizah)

Belajar sastra bisa dijadikan pijakan untuk mengkaji kehidupan, Di dalamnya termuat nilai-nilai akhlak, moral, filsafat, budaya, politik, sosial dan pendidikan. “sastra juga berguna dalam meningkatkan kepekaan rasa dan memberikan hiburan. Bukan bagi dunia pendidikan namun masyarakat secara umum keberadaan sastra tidak kalah pentingnya. “Ajarkan sastra kepada anak-anakmu agar mereka berani” (pesan Sayidinah Umar Bin Khathatab). Dengan alasan ini juga mengapa para pemimpin perang biasa melantunkan syair di hadapan prajuritnya sebelum berhadapan dengan musuhnya. Simak untaian syair Hindun binti Utbah ketika memberikan semangat pada tentaranya dalam perang Uhud.

Jika kalian maju terus, kami peluk
Dan, kami siapkan kasur empuk
Jika kalian mundur, kami akan berpisah
Perpisahan yang tidak mengenal ramah
Simak lagi syair Abdullah bin Rawahah. Ketika keraguan sempat menyelimutinya dalam perang Mu’tah, ia pun berseru dengan untaian syairnya.
Wahai jiwa, engaku harus turun ke medan
Benci ataupun susah
Biarkan orang-orang berteriak
Mengapa engkau kulihat membenci surga

Seperti dalam puisi atau sajak-sajak Chairil Anwar, sastrawan kelahiran Medan, 26 Juli 1922, yang mencerita sebuah keberanian seorang pahlawan pada zaman kemerdekaan.

Maju

Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.
Sekali berarti
Sudah itu mati.

Maju
Bagimu Negeri
Menyediakan api.
Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai

Maju
Serbu
Serang
Terjang
[Chairil Anwar, Februari 1943]

Lalu, apa yang mesti dilakukan agar minat siswa dan masyarakat terhadap sastra bangkit? Pertama, perbaikan kurikulum bahasa Indonesia yang memuat kajian sastra secara proporsional sesuai dengan tingkat dan jenjang pendidikan. Hal tersebut termasuk salah satu tugas pemerintah dan lembaga-lembaga sekolah. Kurikulum yang “mengesampingkan” atau cenderung banyak mengajarkan sastra secara teori saja, mesti di perbaiki. Termasuk dalam hal ini adalah tenaga pengajar. Para guru yang mengajar tidak mengajarkan secara instan kepada murid-muridnya. Melainkan harus menguasai sastra dan berada di garda terdepan dalam memberikan apresiasi pada siswa.
Kedua, kampanye secara terprogram dan terus menerus terhadap pentingnya pendidikan sastra bagi peserta didik. Meningkatkan promosi karya sastra kepada masyarakat dan mengadakan kegiatan-kegiatan sastra dengan melibatkan masyarakat luas untuk memperkenalkan kepada mereka tantang dunia sastra. Untuk itu, media massa harus dapat memberikan ruang yang cukup bagi masyarakat untuk bekreasi.
Ketiga, penyediaan sarana yang cukup dan menarik. Hal tersebut merupakan tanggung jawab pemerintah karena mahalnya harga buku dan susahnya mendapatkan karya-karya sastra.

Dengan demikian, tidak mengherankan di awal-awal kemerdekaan, negeri pancasila ini melahirkan penulis-penulis, sartawan produktif dan imajinatif. Namun sayang tradisi baik tersebut, tidak ada kelanjutannya sejak mulai memasuki era tahun 50-an. pemerintah yang disibukkan dengan memajukan program-program eksakta. Jadi membaca buku dianggap tidak penting. Ini yang menyebabkan kita tertinggal dalam dunia sastra.

Karenanya, semangat membaca harus dilestarikan dan dipupuk sedini mungkin. Dimulai dari keluarga. Untuk bisa menjadi penikmat sastra. Minimal ada tiga hal yang perlu digarisbawahi dan dilakukan oleh kita yaitu pertama, membaca. Kedua, membaca dan ketiga membaca.
Membuat Garis Tepi Gambar Berdisko

Membuat Garis Tepi Gambar Berdisko

Untuk postingan kali ini, DEMOnya bisa dilihat di bagian kiri blog ini (buku tamu IKB).

Gimana? Sudah dilihat? Kalau tertarik, saya akan memberikan langkah-langkah membuatnya.

Ini dia langkah-langkahnya:
  1. Login ke akun blog Anda.
  2. Cari kode ]]></b:skin> dan letakkan kode berikut tepat di atasnya.
  3. img.flashgroup{border:3px solid #000}
  4. Cari lagi kode dan letakkan script berikut di atasnya.
  5. <script type='text/javascript'> //<![CDATA[ /* Script By http://www.javascriptkit.com/script/script2/flashimage.shtml */ //Warna kelap-kelip var flashcolor="#00FF00" //Kecepatan kelap-kelip (semakin rendah, semakin cepat) var speed=150 /////No need to edit below here//// var curborder=new Array() var increment=0 var flashobject=new Array() if (document.all||document.getElementById){ while (document.getElementById("flash"+increment)!=null){ flashobject[increment]=document.getElementById? document.getElementById("flash"+increment).style : eval("document.all.flash"+increment+".style") curborder[increment]=0 increment++ } } function flash(which){ if (curborder[which]==1){ flashobject[which].borderLeftColor=flashcolor flashobject[which].borderBottomColor=flashobject[which].borderRightColor } else if (curborder[which]==2){ flashobject[which].borderTopColor=flashcolor flashobject[which].borderLeftColor=flashobject[which].borderBottomColor } else if (curborder[which]==3){ flashobject[which].borderRightColor=flashcolor flashobject[which].borderTopColor=flashobject[which].borderLeftColor } else if (curborder[which]==4){ flashobject[which].borderBottomColor=flashcolor flashobject[which].borderRightColor=flashobject[which].borderTopColor } if (curborder[which]<=3) curborder[which]++ else curborder[which]=1 } if (document.all||document.getElementById){ for (z=0;z<flashobject.length;z++){ var temp='setInterval("flash('+z+')",'+speed+')' eval(temp) } } //]]> </script>
  6. Save template Anda.
Keterangan: Ganti tulisan berwarna biru (langkah kedua) adalah garis tepi gambar sesuai warna kesukaan Anda. Warna kuning adalah warna disko gambar dan warna hijau adalah kecepatan disko.

Langkah selanjutnya yang harus di lakukan adalah memasang kodenya pada gambar yang ingin diberi efek garis tepi berdisko. Perhatikan kode berikut.
<img src='alamat URL gambar anda' id='flash0' class='flashgroup' />

Setiap memasang gambar di blog Anda, tambahkan id dan class seperti di atas. Jika gambar lebih dari satu, id jangan sampai sama. Tambahkan angka 1, 2, ..... dst. Lihat tulisan berwarna biru pada contoh berikut:
<img src='alamat URL gambar anda' id='flash0' class='flashgroup' />
<img src='alamat URL gambar anda' id='flash1' class='flashgroup' />
<img src='alamat URL gambar anda' id='flash2' class='flashgroup' />

Sampai di sini tutorial membuat garis tepi gambar berdisko.....!!!

Turn Off dan Restart Komputer dengan Tiga Langkah

Trik ini mungkin masih banyak yang belum tahu, jadi saya posting saja. Bagi yang belum tahu, ada langkah mudah dan cepat Turn Off dan Restart komputer. Anda hanya melakukan tiga langkah berikut:

Pertama untuk Turn Off, tekan tombol Windows + huruf U dua kali.


Kedua untuk Restart, tekan tombol Windows + huruf U + huruf U.


Sekian. Itulah caranya. Dan yang harus diketahui, ini berlaku untuk windows XP.

Profil Benyamin Sueb

Siapa yang tak kenal Benyamin Sueb (1939 - 1995). Pria ini lahir di Kemayoran, 5 Maret 1939. Benyamin Sueb memang sosok panutan. Kesuksesan di dunia musik dan film membuat namanya semakin melambung. Lebih dari 75 album musik dan 53 judul film yang ia bintangi adalah bukti keseriusannya di bidang hiburan tersebut.

benyamin sueb

Dalam dunia musik, Bang Ben (begitu ia kerap disapa) adalah seorang seniman yang berjasa dalam mengembangkan seni tradisional Betawi, khususnya kesenian Gambang Kromong. Lewat kesenian itu pula nama Benyamin semakin popular. Beliau menikah dengan Nonnie pada tahun 1959 (kemudian bercerai pada tanggal 7 Juli 1979 namun rujuk kembali pada tahun yang sama).

Tahun 1960, presiden pertama Indonesia, Soekarno, melarang diputarnya lagu-lagu asing di Indonesia. Pelarangan tersebut ternyata tidak menghambat karir musik Benyamin, malahan kebalikannya. Dengan kecerdikannya, Bang Ben menyuguhkan musik Gambang Kromong yang dipadu dengan unsur modern.

Kesuksesan dalam dunia musik diawali dengan bergabungnya Benyamin dengan satu grup Naga Mustika. Grup yang berdomisili di sekitar Cengkareng inilah yang kemudian mengantarkan nama Benyamin sebagai salah satu penyanyi terkenal di Indonesia.
Selain Benyamin, kelompok musik ini juga merekrut Ida Royani untuk berduet dengan Benyamin. Dalam perkembangannya, duet Benyamin dan Ida Royani menjadi duet penyanyi paling popular pada zamannya di Indonesia. Bahkan lagu-lagu yang mereka bawakan menjadi tenar dan meraih sukses besar. Sampai-sampai Lilis Suryani salah satu penyanyi yang terkenal saat itu tersaingi.

Orkes Gambang Kromong Naga Mustika dilandasi dengan konsep musik Gambang Kromong Modern. Unsur-unsur musik modern seperti organ, gitar listrik, dan bass, dipadu dengan alat musik tradisional seperti gambang, gendang, kecrek, gong serta suling bambu.
Setelah Orde Lama tumbang, yang ditandai dengan munculnya Soeharto sebagai presiden kedua, musik Gambang Kromong semakin memperlihatkan jatidirinya. Lagu seperti Si Jampang (1969) sukses di pasaran, dilanjutkan dengan lagu Ondel-Ondel (1971).
Lagu-lagu lainnya juga mulai digemari. Tidak hanya oleh masyarakat Betawi tetapi juga Indonesia. Kompor Mleduk, Tukang Garem, dan Nyai Dasimah adalah sederetan lagunya yang laris di pasaran.

Terlebih setelah Bang Ben berduet dengan Bing Slamet lewat lagu Nonton Bioskop, nama Benyamin menjadi jaminan kesuksesan lagu yang akan ia bawakan. Setelah Ida Royani hijrah ke Malaysia tahun 1972, Bang Ben mencari pasangan duetnya. Ia menggaet Inneke Koesoemawati dan berhasil merilis beberapa album, di antaranya "Nenamu" dengan tembang andalan seperti Djanda Kembang, Semut Djepang, Sekretaris, Penganten Baru dan Pelajan Toko.

Lewat popularitas di dunia musik, Benyamin mendapatkan kesempatan untuk main film. Kesempatan itu tidak disia-siakan. Beberapa filmnya, seperti Banteng Betawi (1971), Biang Kerok (1972), Intan Berduri serta Si Doel Anak Modern (1976) yang disutradari Syumanjaya, semakin mengangkat ketenarannya. Dalam Intan Berduri, Benyamin mendapatkan piala Citra sebagai Pemeran Utama Terbaik.

Pada akhir hayatnya, Benyamin juga masih bersentuhan dengan dunia panggung hiburan. Selain main sinetron/film televisi (Mat Beken dan Si Doel Anak Sekolahan) ia masih merilis album terakhirnya dengan grup Gambang Kromong Al-Hajj bersama Keenan Nasution. Lagu seperti Biang Kerok serta Dingin-dingin menjadi andalan album tersebut.
Benyamin yang telah tiga kali menunaikan ibadah haji ini meninggal dunia seusai main sepakbola pada tanggal 5 September 1995, akibat serangan jantung. [wikipedia/lyz]


Pendidikan
  • Sekolah Rakyat Bendungan Jago Jakarta (1946-1951), SD Santo Yosef Bandung (1951-1952)
  • SMPN Taman Madya Cikini, Jakarta (1955)
  • SMA Taman Siswa, Jakarta (1958)
  • Akademi Bank Jakarta (Tidak tamat) ; Kursus Lembaga Pembinaan Perusahaan & Ketatalaksanaan (1960)
  • Latihan Dasar Kemiliteran Kodam V Jaya (1960)
  • Kursus Lembaga Administrasi Negara (1964)

Karir
  • Tukang Roti Dorong ( -1959)
  • Kondektur PPD (1959)
  • Bagian Amunisi Peralatan AD (1959-1960)
  • Bagian Musik Kodam V Jaya ( -1968)
  • Kepala Bagian Perusahaan Daerah Kriya Jaya (1960-1969)
  • Produser dan Sutradara PT Jiung -Film (1974-1979)

Filmografi
  • Honey Money and Jakarta Fair (1970)
  • Dunia Belum Kiamat (1971)
  • Hostess Anita (1971)
  • Brandal-brandal Metropolitan 1971
  • Banteng Betawi (Nawi Ismail) 1971

  • Bing Slamet Setan Jalanan (Hasmanan) 1972
  • Angkara Murka 1972
  • Intan Berduri (Turino Djunaidi) 1972
  • Biang Kerok (Nawi Ismail) 1972

1973
  • Si Doel Anak Betawi (Sjumandjaja)
  • Akhir Sebuah Impian
  • Jimat Benyamin (Bay Isbahi)
  • Biang Kerok Beruntung
  • Percintaan
  • Cukong Bloon
  • Ambisi (Nya' Abbas Acup)
  • Benyamin Brengsek (Nawi Ismail)
  • Si Rano
  • Bapak Kawin Lagi

1974
  • Musuh Bebuyutan (Benyamin Sueb)
  • Ratu Amplop (Nawi Ismail)
  • Benyamin Si Abu Nawas (Fritz Schad)
  • Benyamin spion 025 (Tjut Jalil)
  • Tarzan Kota (Lilik Sudjio)
  • Drakula Mantu (Nya' Abbas Acup)

1975
  • Buaya Gile

  • Benyamin Tukang Ngibul (Nawi Ismail)


  • Setan Kuburan


  • Benyamin Koboi Ngungsi (Nawi Ismail)


  • Benyamin Raja Lenong (Syamsul Fuad)


  • Traktor Benyamin (Lilik Sudjio)


  • Samson Betawi (Nawi Ismail)

1976
  • Zorro Kemayoran (Lilik Sudjio)
  • Hipies Lokal (Benjamin Sueb)
  • Si Doel Anak Modern (Sjumandjaja)
  • Tiga Jango (Nawi Ismail)
  • Benyamin Jatuh Cinta (Syamsul Fuad)
  • Tarzan Pensiunan (Lilik Sudjio)
  • Pinangan
1977
  • Sorga
  • Raja Copet
  • Tuan, Nyonya dan Pelayan
  • Selangit Mesra
1978
  • Duyung Ajaib
  • Dukun Kota
  • Betty Bencong Slebor
  • Bersemi Di Lembah Tidar
1981 Musang Berjanggut 1983
  • Tante Girang
  • Sama Gilanya
1984 Dunia Makin Tua / Asal Tahu Saja 1988 Koboi Insyaf / Komedi lawak '88 1992 Kabayan Saba Kota Program TV
  • Benjamin Show TPI (1993-1995)
  • Glamor TVRI (1994-1995)

Sinetron
1994
Mat Beken

1995
Si Doel Anak Sekolahan
Begaya FM
Indahnya Islam Kita

Indahnya Islam Kita

Pernahkah kalian memikirkan bagaimana manusia bisa ada di dunia ini? Kamu mungkin akan berkata, ”Semua orang punya ibu dan ayah.” Namun, jawaban ini tidak tepat. Sebenarnya jawaban itu tidak bisa menjelaskan bagaimana ibu dan ayah pertama, yaitu manusia pertama, tercipta. Kamu mungkin pernah mendengar cerita-cerita tentang hal ini di sekolah dan dari orang-orang di sekitarmu. Tetapi, satu-satunya jawaban yang benar adalah bahwa Allah-lah Yang menciptakan kalian. Kita akan mempelajari hal ini dengan mendalam dalam bab-bab berikutnya. Sekarang, ada satu hal yang harus kalian semua ketahui. Manusia pertama yang muncul di dunia ini adalah Nabi Adam Alaihissalam (AS). Seluruh manusia adalah keturunannya.

Adam AS, seperti kita, adalah manusia yang berjalan, bercakap-cakap, berdoa, dan menyembah Allah. Mula-mula Allah menciptakan dia, kemudian Allah menciptakan istrinya. Lalu anak-anak mereka tersebar di seluruh dunia.

Jangan pernah lupa bahwa Allah hanya perlu memerintahkan sesuatu untuk menciptakannya. Ketika Dia berkehendak agar sesuatu terjadi, Dia akan memerintahkan, “Jadilah!” dan sesuatu itu pun terjadi. Dia punya kekuasaan yang menyebabkan-Nya bisa melakukan segalanya. Misalnya, Dia menciptakan Adam dari tanah. Ini mudah bagi Allah.

Akan tetapi, jangan lupa bahwa juga ada orang yang mengingkari adanya Allah. Orang-orang ini memberikan jawaban lain pada pertanyaan tentang bagaimana manusia terjadi. Mereka tidak mencari kebenaran.

Misalkan ada tokoh film kartun bernama Badu. Badu berkata, “Aku terjadi karena tinta tumpah pada kertas dengan tak sengaja, cat ini juga tak sengaja tertumpah, lalu membentuk warna-warna. Jadi, aku tidak perlu siapa pun untuk menggambar diriku dan membentuk rupaku. Aku bisa terjadi sendiri, dengan kebetulan,” tentu kalian akan menganggap itu main-main saja. Kalian tahu bahwa garis-garis yang bagus, warna-warna dan gerakan dalam film kartun itu tidak bisa terbentuk hanya dengan menumpahkan cat sembarangan di sana-sini, karena menumpahkan tinta dari botolnya hanya akan menyebabkan kotoran. Kotoran tentu tidak bisa menciptakan gambar yang bagus yang terbuat dari garis-garis yang bagus pula. Agar gambar kartun ini bisa dikenali, dan bisa tercipta, yang membuatnya telah memikirkannya, merencanakannya, lalu menggambarnya.

Ini adalah sebagian isi buku berjudul INDAHNYA ISLAM KITA karya HARUN YAHYA. Kalau ada yang mau baca lengkap, silahkan download Ebooknya di sini!
Tools Parse Script

Tools Parse Script

Silahkan pergunakan tools berikut untuk mem-parse kode HTML yang ingin ditampilkan dalam postingan Anda! Semoga bermanfaat.




Kebijaksanaan

Kebijaksanaan

Makin bijak seseorang berari makin banyak cobaan telah di hadapinya. Semua orang pernah mengalami tentangan batin. Semua orang pasti pernah mengalami kesulitan.

Cobaan di berikan untuk kebahagiaan. Tuhan maha adil, Dia-Sang Esa tidak pernah melepas hambanya sendiri dan tersesat di lembah kesulitan. Hanya bagaimana hamba tersebut memilih jalannya.

Saat kau tersesat, merasa hilang, dan kosong, Jangan kau menyerah. Jangan kau bersedih. Ingatlah selalu setelah gelap terbitlah terang. Semua kesukaran ada jalan keluarnya.

Tetapi kadang cobaan itu sangat berat, jalan buntu seperti nampak di hadapan. Jangan kau ragu dan bimbang, Tawakkallah serahkan semua kepada Tuhan-mu. Sang Esa akan membantumu tetapi kau jualah yang harus memutuskan.

Jangan kau buat hidupmu susah dengan berpikir yang tidak semestinya kau pikirkan. Hadapi nasibmu Jalani dengan tegar, karena segala penyakit pasti ada obatnya, hanya kapan obat itu di temukan kau harus sabar.

Sabarlah dalam menjalani nasibmu itu, karena jawaban segala pertanyaanmu akan datang. Tidak cepat memang karena ini bukan hal instant. Ini merupakan pembetukan dirimu, Tidak ini tidak akan secepat engkau membalik telapak tanganmu. Jalani dengan sabar niscaya kaupun akan sampai pada ujung cobaan ini.

Menangislah kamu,karena menangis itu tidak mengapa, kala kau sedih,kala kau marah menangislah ungkapkanlah dan keluarkanlah semua isi hati dan keluh kesahmu, maka kau pun bisa merasa lega. Kadang kala seseorang akan menemukan jawaban atas pertanyaannya dan bisa menguasai keadaan setelah mereka mengungkapkan kesulitannya, Karena sebenarnya ini hanya permainan perasaanmu, apakah kamu siap mengahadapinya. saat kau siap,mudah kau keluarkan dan ungkapkan, maka legalah perasaanmu nantinya.

Berbahagialah kamu karena Tuhan masih mencintaimu. Sang Esa mengujimu karena engkau terpilih untuk naik ke tingkat kebijaksanaan yang lebih tinggi.

Nikmati hidupmu, Hargai sesamamu, Sayangi saudara dan sekitarmu, Sayangi dan Hargai dirimu. Berbahagialah kamu, karena kamupun berhak untuk berbahagia. Hidup adalah perjuangan namun penuh dengan kebahagiaan. Tidak ada kemudahan tanpa kesukaran.

Hanya tergantung kepada individu tersebut dalam menjalani hidup dan nasibnya, Jangan pernah menyalahkan nasibmu karena kau harus menerima apa adanya, Berjuanglah dan berusaha dan jangan lupa untuk berdo'a. Semoga Tuhan memberkati langkahmu dan kebahagiaan bersamamu.
10 Cara Menjadi Orang yang Kreatif

10 Cara Menjadi Orang yang Kreatif

Apakah kreativitas itu jatuh dari langit? Adilkah bila kita menganggap seseorang lebih kreatif ketimbang orang lainnya? Menurut beberapa ahli, itu semua nonsense! Memang benar kreativitas itu bakat dan anugerah, tapi tak berarti tak bisa diasah dan dibentuk. Kita sendiri juga bisa menciptakan kreativitas. Begitu pula Anda. Oleh karena itu, setiap orang bisa mengembangkan bakat dalam dirinya.

Di bawah ini ada 10 tips menjadi orang yang kreatif yang perlu Anda tanamkan dalam diri Anda.
  1. Setiap orang bisa menjadi kreatif. Anda tak perlu menjadi orang yang sangat spesifik atau unik, apa lagi jenius untuk menjadi kreatif.
  2. Kreativitas dapat diekspresikan dalam berbagai pekerjaan dan aspek kehidupan. Artinya, Anda bisa menciptakan suatu hukum baru, atau cara baru dalam mengisi hidup. Atau menciptakan hal-hal baru, atau alternatif baru dalam memecahkan masalah-masalah klasik.
  3. Bagaimana memanfaatkan energi Anda untuk menjadi kreatif. Cobalah langkah ini.
  4. Keluarkan jiwa kanak-kanak Anda Ketika kita belia, kita dibimbing oleh intuisi dan perkiraan. Tapi, setelah dewasa, sudah lebih banyak "dos" and "dont's". Beri pendekatakan kekanakan pada setiap proyek, beri kebebasan dan buka pikiran. Berpikirlah secara naif dan karanglah pertanyaan-pertanyaan tolol. Dulu, ketika pesawat terbang pertama diciptakan, pasti ada pertanyaan-pertanyaan 'tolol' yang tidak mungkin yang dilontarkan penciptanya pada diri sendiri.
  5. Katakan 'jangan banyak omong' pada orang dewasa dalam diri Anda Kalau akan berkarya, bagian otak yang logis dan dewasa sering menghalangi karena adanya faktor ketidakmungkinan. Jangan dengarkan, teruslah berkarya. Soalnya, itu akan menekan ide-ide kreatif Anda. Entah itu dalam menulis, melakukan pekerjaan tangan, dan semacamnya.
  6. Izinkan diri Anda melakukan kesalahan Ada satu langkah dalam kehidupan yang 'menyuruh' orang berbuat salah. Misalnya, mencoba sesuatu yang tidak lazim, dengan tujuan menciptakan sesuatu yang baru. Itu bagus, karena Anda akan belajar dari kesalahan itu, supaya langkah selanjutkan akan lebih baik. Bayangkan seorang pelukis yang memiliki buku sketsa yang tebal. Pasti dia telah melakukan banyak kesalahan sebelum mencapai gambar yang terbaik.
  7. Isi "baterai" Anda. Pikiran kreatif membutuhkan ide segar, seperti otot membutuhkan makanan. Jadi, lihatlah sekitar Anda. Tontonlah film, datangi toko, museum, atau apa pun yang Anda sukai. Pikiran Anda akan menyerap banyak hal yang mungkin bisa menjadi sumber ide.
  8. Cobalah memiliki kegiatan rutin. Kalau pikiran Anda sedang buntu, beritirahatlah sejenak dan kerjakan sesuatu yang sifatnya rutin. Misalnya, mencuci piring, mandi, bercukur, atau cuma berjalan sekeliling tempat Anda. Pekerjaan ini akan membuat pikiran pragmatis Anda sibuk, sehingga pikiran yang kekanak-kanakan itu akan muncul tiba-tiba.
  9. Menulislah. Ide bagus bisa muncul pada saat-saat tak terduga. Kalau Anda selalu punya alat tulis, Anda bisa menuliskannya segera supaya Anda tidak lupa. Konon, Paul McCartney menciptakan lagu Yesterday yang legendaris itu ketika bangun tidur. Kalau tak kontan menuliskannya, pasti ide itu keburu lenyap. Bagi orang-orang Barat yang terbiasa menulis jurnal harian berkata bahwa menulis bukan perkara yang sulit-sulit amat. Ada ahli yang menyarankan agar Anda menulis 3 halaman apa pun setiap pagi. Katanya, di antara semua yang Anda tulis, pasti akan ketemu ide bagus. Soalnya, menulis itu bisa merangsang ide.
  10. Percaya bahwa Anda bisa melakukannya. Jangan ragu-ragu ketika memulai sesuatu. Yang penting Anda percayai, kita semua punya kekuatan untuk menjadi kreatif, siapa pun dia adanya. Begitu pula Anda! (hannie k. wardhanie)

Itulah 10 tips yang bisa Anda jadikan usaha menjadi orang yang kreatif. Percayalah bahwa Allah menciptakan manusia yang di dalam dirinya terdapat bakat dan kreativitas. Tergantung dari kita, mau mengembangkannya atau tidak. Selamat mencoba, semoga menjadi orang-orang yang kreatif.

Kecerdasan Spiritual dan Kecerdasan Arbitrasi (SQ: Antara Agama dan Makna)

SQ: Antara Agama dan Makna

Di tangan para pemikir pos-strukturalis psikoanalisa kemudian mengalami sofistikasi teori. Adalah Lacan yang menyatakan bahwa ketaksadaran terstruktur sebagai bahasa, karena ketaksadaran dibentuk oleh piranti-piranti bahasa yang berasal dari luar. Ketaksadaran ada hanya setelah manusia mempelajari bahasa, di mana nantinya ketaksadaran tersebut akan mengolah tanda, metafor, dan simbol. Dan dalam pandangan feminisnya pula, Kristeva mengagungkan wanita sebagai ruang dan kemungkinan dari representasi dan makna, dan menempatkan semiotika pada tahap ketaksadaran Oedipal sebagai sesuatu yang menolak dan mengizinkan makna. Sebenarnya apa yang dilakukan oleh Lacan dan Kristeva atau para psikoanalis pos-strukturalis lainnya adalah memasukkan unsur-unsur semiotika ke dalam metodologi psikoanalisa Freud.

Semiotika, singkatnya, adalah sebuah teori mengenai tanda dan penggunaannya. Sebuah tanda, sebagaimana yang diuraikan oleh Saussure, salah seorang bapak semiotika, adalah terdiri dari penanda (signifier) dan petanda (signified). Penanda (pn) adalah aspek material dari sebuah tanda, baik itu tulisan, suara (yang lahir dari aspek material juga) maupun bendanya, adapun petanda (pt) adalah aspek imaterial dari tanda, yaitu konsep atau pemahaman yang ada di benak manusia dari aspek material tanda tersebut. Adapun hubungan antara penanda dan petanda adalah arbitrer, tak ada suatu kaitan logis yang dapat menjadi pengikat antara penanda dan petanda, tak ada suatu hubungan yang logis antara kata "komputer" dengan bendanya, antara kata "sakit" dan apa yang sedang dirasakan. Kesemuanya itu adalah arbitrer. 

Dalam skala yang lebih besar lagi Rolland Barthes, salah seorang strukturalis yang kemudian berubah menjadi pos-strukturalis, membuat sebuah bagan proses penandaan mulai dari tingkat makna denotatif hingga ke tingkat makna konotatif pada tingkatan budaya yang disebutnya juga sebagai mitos atau ideologi sebagai berikut:

Namun proses penandaan tersebut tidak senantiasa berjalan dengan stabil, senantiasa terbuka peluang untuk noise, sebuah gangguan penandaan, sebuah keacuhan terhadap makna, yang dinyatakan dengan tandas oleh Barthes "…jangan berdalih, jangan membela diri. Ia tak pernah menolak apa pun. Aku akan membuang muka, itulah satu-satunya penolakanku" atau Derrida yang menolak petanda atau Baudrillard yang asyik bermain dengan penanda tanpa perlu hirau dengan petanda, dan banyak lagi hal lain yang senada yang disuarakan oleh para pemikir pos-strukturalis lainnya. Dalam proses penandaan yang terjadi saat ini, bisa dikatakan bahwa hanya ada satu hal yang pasti yaitu penanda atau aspek material dari tanda saja, sedangkan petanda atau, lebih jauh lagi, makna lebih bersifat tafsiran belaka atau malah hanyalah merupakan sebuah arbitrasi makna yang subversif.
Sebuah ironi, sebuah arbitrasi makna adalah sesuatu yang sangat lazim terjadi. Sebuah karakteristik yang khas pada masyarakat yang sering juga dilabeli sebagai masyarakat posmodern sebagaimana yang dapat dilihat pada kejadian berikut. 

Dalam setiap shownya di gereja, salib, figur Bapa tidak pernah lepas, bahkan setiap pertunjukannya diawali dengan doa. Pada pertunjukannya yang ke-1000 tanggal 22 Juli 1991 dia berdoa "saya spiritual", "saya religius". Ketika ditanya tentang acara doa sebelum pertunjukan tersebut, Madonna berkata "Ya, saya religius. Mereka ikhlas, paling tidak sejauh menyangkut diri saya… Saya tidak mencoba membangun jembatan antara seks dan agama. Hanya gereja Katolik yang bersikeras memisahkan keduanya, dan keduanya selalu dipisahkan, dan itu nonsens."

Hal serupa sering pula terjadi pada acara-acara gosip (infotainment) di mana para artis sering memaknai kehidupannya menjadi suatu bangunan besar "Kebaikan Tuhan kepadaku," memaknai glamoritas profesinya sebagai "menghibur dan membahagiakan banyak orang."

Seperti telah diungkapkan sebelumnya SQ adalah sebuah kecerdasan akan "proses pemaknaan" yang tidak memiliki suatu hubungan yang penting dengan agama, kecerdasan yang tidak hanya mengenali nilai-nilai dan tentunya pula makna yang telah ada, namun juga suatu kretivitas dalam menemukan kebaruannya. Namun dalam masyarakat posmodern, pembalikan dan penemuan hal-hal baru adalah sesuatu yang lumrah terjadi dan seringkali subversif, karena meminjam istilah Deleuze dan Guattari—terjadi pembiakan dari mesin-mesin hasrat (desire machine) yang saling berhubungan dan menciptakan pelipatgandaan permainan hasrat, dan dalam hal ini adalah hasrat akan kenikmatan penandaan.

Sebuah tanda menjadi bermakna ketika penerima tanda memahami apa makna atau aspek petanda dari tanda tersebut, namun ketika maknanya tidak terpahami maka sesuatu tersebut tidak menjadi tanda. Demikian pula dalam memahami sebuah tanda, maka penerima tanda akan mencoba memahaminya dengan segenap pengalaman psikis maupun budaya yang membentuk pemahamannya mengenai tanda tersebut. Dalam hal ini Zohar dan Marshall pun mencoba mengutip perkataan Rumi dan Ibnu 'Arabi, misalnya, untuk menunjukkan sesuatu yang melampaui agama dan bentuk-bentuk, sekaligus keberadaan SQ pada kedua mistikus tersebut. Namun tentu saja apa yang Zohar dan Marshall pahami dari perkataan kedua orang tersebut akan dilandaskan pada segenap pemahaman yang terbentuk dalam suatu kondisi psikis dan budaya tertentu serta pencocokan terhadap kerangka kerja SQ yang sedang dibangunnya dan bukan berdasarkan kepada suatu pengalaman mistik.

Sebenarnya inti agama yang menjadi benang merah pada setiap agama adalah proses pengenalan diri (soul) yang akan mengantarkan kepada pengenalan tentang Yang Satu. Dan pada hakikatnya apa yang disebut agama adalah sebuah state yang tetap terjaga (conserve) dalam perjalanan waktu, bukan semata sebuah lembaga yang terorganisir dengan seperangkat aturan dan kepercayaan. Bahwa spiritualitas (ruhaniah) adalah religiusitas dalam artiannya yang terdalam dan yang sebenarnya sebagaimana yang dimaksudkan oleh para mistikus seperti Rumi dan Ibnu 'Arabi.


Penutup

Adalah keliru berharap menemukan spiritualitas-mistik dalam buku SQ: Spiritual Intelligence, the Ultimate Intelligence. Tampaknya apa yang diajukan oleh Zohar dan Marshall, tidaklah lebih dari sebuah "proses pemaknaan" yang memang tidak selalu memiliki hubungan yang penting dengan agama, baik eksoteris atau formal maupun yang esoteris, karenanya bagi kami tidaklah tepat menyandingkan kata "spiritual" bagi "Q" yang ketiga ini. Sementara mereka pun mengatakan bahwa seorang yang ateis bisa memiliki SQ tinggi dan seseorang yang beragama bisa memiliki SQ rendah, kenyataannya Zohar dan Marshall tidak memberikan suatu definisinya yang jelas mengenai agama itu sendiri.

Dalam wilayah psikologi sebagaimana telah didefinisikan, SQ bukanlah sebuah kecerdasan par excellence, tetapi lebih kepada sebuah usaha terapi diri dalam memaknai setiap tindakan dan hidup melalui suatu proses penandaan, dengan tubuh dan otak sebagai wilayah aktivitasnya. Proses pemaknaan tersebut dilakukan untuk dapat menentramkan dan memberi jawaban atas masalah-masalah eksistensial yang sebenarnya berasal dari alam bawah sadar berupa kompleks, yang merupakan tumpukan masalah yang terpendam pada segenap kehidupannya. Adapun tingkat kedalaman makna dalam SQ sebenarnya sesuatu yang kabur dan subyektif, bahkan bisa terbentuk dalam suatu cara yang ironis dan arbitrer, sebuah kenikmatan atas proses penandaan, karena Zohar dan Marshall pun tidak memberikan deskripsi yang lebih jelas mengenai kedalaman makna tersebut.

Kemunculan SQ bukanlah sebuah tanda telah munculnya jembatan penghubung antara sains dan agama; SQ lebih merupakan sebuah upaya diskursus Barat untuk mengintegralkan pandangannya mengenai manusia dengan apa-apa yang selama ini sering kali luput dari perhatian sains dengan tetap mencoba mencari basis materialnya. Di sisi lain, para ulama maupun pemikir yang memang memiliki keterbukaan terhadap keilmuan apapun dan ini memang suatu sikap yang positif, sebaiknya tidak perlu senantiasa menanti sabda pamungkas dari seberang sana untuk segera mengadopsi suatu pemahaman bahwa dalam konteks spiritualitas Islam SQ tidaklah memiliki suatu arti yang besar. Kerendahdirian (inferiority) serta kekaguman berlebihan terhadap hal-hal yang datang dari diskursus Barat pada akhirnya seringkali mematikan usaha berpikir kritis dan tidak akan memupuk suatu sikap saintis. Sikap seperti itu hanya akan membuat orang menjadi konsumen pengetahuan semata.

Acuan:
Zohar, Danah & Ian Marshall, (2000): "SQ: Spiritual Intelligence, the Ultimate Intelligence," Bloomsburry: London, cet. 1, hal. 3.

Wilson, John Rowan dan para Editor LIFE, (1985): Pikiran, Tira Pustaka: Jakarta, cet. 3, hal. 11.

Bertens, K., (1987): Panorama Filsafat Modern, Gramedia: Jakarta, cet. 1, hal. 53.

Barthes, Rolland, (1976): The Pleasure of the Text, sebagaimana dikutip oleh Yasraf Amir Piliang, (1998): Sebuah dunia yang dilipat: Realitas kebudayaan menjelang milenium ketiga dan matinya posmodernisme, Mizan: Bandung, cet. 1, hal. 261.

Malcolm, Derek, (1991): In bed with the woman who dares, sebagaimana dikutip oleh Akbar S. Ahmed, (1993): Posmodernisme: Bahaya dan Harapan bagi Islam, Mizan: Bandung, cet. 2, hal. 224.   

Kecerdasan Spiritual dan Kecerdasan Arbitrasi (SQ: Antara Psikologi dan Psikoanalisa)


SQ: Antara Psikologi dan Psikoanalisa

Psikologi, walau fondasinya telah diletakkan sejak era Socrates dan Plato, bisa dikatakan baru lahir pada pagi hari tanggal 22 Oktober 1850 karena kegelisahan Profesor Gustav Theodor Fechner atas kecenderungan zamannya yang terlalu materialistis. Pada mulanya dia merasa bahwa pikiran dan hubungannya dengan materi berada di luar jangkauan pengukuran ilmiah, namun pada akhirnya ia menuangkan gagasan penyatuan kedua hal tersebut dalam bukunya Elemente der Psychophysik, sebuah buku mengenai "ilmu eksakta hubungan fungsional antara tubuh dan pikiran." 

Dengan melihat perkembangan keilmuan pada hari ini, tampaklah bahwa psikologi pun telah menjadi salah satu jantung ilmu-ilmu sosial, banyak teori-teori psikologi beserta tokoh-tokohnya menjadi referensi, dikaji dan ditafsir ulang terus menerus. Melihat pada definisi psikologi yang diberikan oleh Fechner tampak bahwa yang dimaksudnya sebagai psyche (jiwa) adalah sesuatu yang terjadi dari interaksi antara tubuh dan pikiran. Pada generasi berikutnya, bermunculanlah definisi-definisi dari para teoritikus psikologi mengenai disiplin keilmuan tersebut yang secara singkat kesemuanya tetap menitikberatkan pada permasalahan psikologi sebagai ilmu mengenai psyche (jiwa) manusia.

Sebenarnya, dari seluruh pendapat para teoritikus mengenai psyche tersebut hanya ada satu hal yang pasti: tubuh (beserta tingkah lakunya). Adapun teori mereka atas yang apa yang terdapat di balik tubuh merupakan tafsir atas tubuh tersebut. Walau psikologi lahir dari keprihatian Fechner akan materialitas zamannya, namun hingga hari ini psikologi tetap berangkat dari basis material tubuh untuk teorinya. Sebatang tubuh dengan otak di dalamnya yang seringkali dianggap sebagai ruang kendali merupakan objek pengamatan dimana gerak-geriknya menjadi sumber penafsiran atas kesadaran, ketaksadaran, kompleks dan kepribadian yang akan membentuk sebuah bangunan besar bernama psyche.

Jauh sebelum itu, Plato telah membicarakan mengenai dualitas manusia sebagai jiwa (psyché) dan tubuh. Analogi yang diberikan: jiwa adalah seorang "sais" yang mengendarai dua "kuda" yang bersayap. Gagasan ini pada masa Renaissance ditolak oleh Rene Descartes dengan mengajukan tubuh dan pikiran (menggantikan aspek jiwa yang terlalu abstrak dalam pandangan mereka). Pada dualitas manusia Descartes inilah psikologi mengambil pijakannya. Adapun psyche dari sejak era Renaissance maknanya jatuh sekadar kualitas dari suatu entitas (hidup). Dalam pengertian inilah para psikolog merumuskan (baca: menafsirkan) teori-teori psikologi, di mana dalam basis yang serupa para psikolog Islam melakukan kesalahan yang sama dengan mencoba mengadaptasinya (baca: mengislamisasi psikologi modern). 

Sebenarnya melihat karakteristik keilmuan psikologi hari ini adalah lebih tepat membatasi wilayah kajiannya pada kandungan emosi atau rasa tubuh yang berkaitan dengan kompleks dalam diri serta cara menanggulangi kompleks tersebut sehingga dengan meminjam istilah Jung, manusia tersebut dapat menjalani proses individuasi. Adapun mulai dari proses individuasi hingga mencapai aspek yang lebih dalam dari diri manusia (soul yang dalam hal ini kami bedakan dari pengertian psyche pada hari ini) dan spiritualitasnya adalah wilayah agama, khususnya mistisisme.

Dilihat dari sisi sejarah, psikologi telah melahirkan empat mazhab besar yaitu behaviuorisme, psikoanalisa, humanisme dan terakhir yang masih memperjuangkan pengakuan adalah transpersonal. Adapun dalam sejarah perkembangan psikologi modern titik berat pandangannya mengenai manusia secara global dapat dibagi dua, yaitu : fase kesadaran atau consciousness (Descartes), dan fase ketaksadaran atau unconsciousness yang merupakan sumbangan Freud terbesar terhadap psikologi. 

Namun sebagaimana umumnya teori-teori psikologi pascarenaissance, hal yang pasti dari teori psikoanalisa Freud (meskipun Freud mengatakan bahwa teori psikoanalisanya lahir dari pengalaman empirik di klinik bersama para pasiennya) kekuatannya adalah pada tafsirannya. Ini seperti ketika Jung memiliki ketertarikan terhadap mitologi, maka Freud menafsirkannya sebagai tanda (ramalan) kematiannya, atau pun tafsiran Freud terhadap surat dari kekasihnya yang suatu hari nanti akan menjadi istrinya. Hal serupa dapat dilihat pula pada para penerusnya seperti Jacques Lacan, Julia Kristeva, Luce Irigaray. Tampaknya sudah menjadi sesuatu yang inheren dalam psikoanalisa, di mana penafsirannya seringkali melompat sehingga membuat terpisah antara praktek-terapi dan teoritisasinya. Atau lebih tepatnya, dapat dikatakan bahwa psikoanalisa adalah "ars interpretandi" (seni penafsiran) sebagaimana Freud sendiri pernah berkata bahwa "Saya mempunyai bakat untuk menginterpretasi."

Melihat perubahan paradigma psikologi tersebut dengan meminjam pemikiran Foucault, dapat dikatakan bahwa psyche sebagai sebuah wacana memiliki episteme suatu pengetahuan yang berlaku pada suatu masa tertentu yang membentuk lapisan-lapisan arkeologi pengetahuan sebagaimana lapisan arkeologis bumi yang terpisah antara satu dengan lainnya; suatu lapisan pengetahuan yang memiliki kuasa untuk menerima atau menolak apa-apa yang dapat dikategorikan sebagai objek kajian wacananya.

Dengan melihat uraian di atas, maka letak SQ memang di seputar tubuh, atau lebih khusus lagi adalah : pikiran sebagai bagian dari aktivitas otak. Walaupun Zohar dan Marshall mengatakan bahwa "SQ is the intelligence that rests in that deep part of the self that is connected to wisdom form beyond the ego, or conscious mind, it is the intellignece with which we not only recognize existing values, but with which we creatively discover new values.", namun dalam hal ini SQ sebenarnya tidak berkaitan dengan sesuatu yang lebih dalam dari diri manusia (soul) apalagi spiritualitas dalam artian yang sebenarnya, karena wilayah SQ lebih mengarah kepada "proses pemaknaan" dan usaha terapi diri.

Kecerdasan Spiritual dan Kecerdasan Arbitrasi (SQ: Kecerdasan Memaknai Hidup)


Alfathri Adlin
Paramartha International Center for Tashawwuf Studies (PICTS)

Abstrak
Spiritual Quotient (SQ) merupakan tawaran pemikiran mengenai kecerdasan yang berkaitan dengan proses pemaknaan manusia terhadap setiap tindakan dan jalan hidupnya. "Spiritualitas" yang digunakan dalam SQ tidaklah menunjuk kepada sumber atau proses hidup (spirit, ruh). Karena itu, SQ dapat dipandang sebatas upaya terapi terhadap segenap kompleks dan permasalahan eksistensialnya, tanpa harus memiliki hubungan dengan agama. Karena dalam pemaknaan seringkali yang pasti hanyalah aspek materialnya saja, sedangkan maknanya dapat menunjuk ke segala arah, tetapi SQ dalam hal ini mencoba untuk berperan mengintegralkannya sebagai satu kesatuan utuh. Namun pada dasarnya, pemaknaan, apalagi pemaknaan hidup, senantiasa berkaitan erat dengan segenap pengalaman psikis dan budaya yang dialami manusia. Inilah salah satu upaya paling mutakhir dari dunia (diskursus) Barat dalam mencoba mengintegralkan pemahaman mereka atas diri mereka sendiri, khususnya yang berkaitan dengan sisi-sisi psikis yang masih misterius dan sejauh ini kurang memperoleh perhatian ilmu pengetahuan.
 
Now, at the end of century, an array of recent but so far undigested scientific data shows us that there is a third 'Q'. The full picture of human intelligence can be completed with a discussion of our spiritual intelligence—SQ for short", begitu klaim Danah Zohar dan Ian Marshall dalam buku terbaru mereka, SQ: Spiritual Intelligence, the Ultimate Intelligence. Kemunculan "kecerdasan ketiga" ini ternyata cukup mendapatkan sambutan dan antusiasme dari khalayak Indonesia yang tampaknya sedang dan selalu menanti pengakuan terhadap "spiritualitas" dari dunia (diskursus) Barat. Tulisan mengenai buku ini pun marak di media-media cetak, selain rangkaian seminar atau kursus tentang hal ini.

Sebenarnya apakah SQ tersebut? Apakah maksud dari klaim Danah Zohar dan Ian Marshall bahwa SQ merupakan "the ultimate intelligence"? Gambaran yang utuh dari manusia? Benarkah ia merupakan fondasi yang penting untuk memfungsikan secara efektif baik IQ maupun EQ, dua kecerdasan yang telah dikenal terlebih dahulu?

SQ: Kecerdasan Memaknai Hidup

"SQ has no necessary connection to religion," karena SQ menurut Zohar dan Marshall adalah "intelligence with which we address and solve problems of meaning and value, the intelligence with which we can place our actions and our lives in a wider, richer, meaning-giving context, the intelligence with which we can assess that one course of action or one life-path is more meaningful than another."
Mereka kemudian mencoba membuat analogi : menggambarkan IQ sebagai komputer yang senantiasa tahu mengenai aturan dan dapat mengikutinya tanpa kesalahan; EQ mereka lihat sebagai insting, sebuah dorongan dasar (basic drive) yang sudah tertanam secara natural pada binatang, misalnya. Sedangkan manusia walaupun masih menjadi pertanyaan apakah memang memiliki insting, bisa dikatakan "mampu melepaskan diri dari insting." Adapun SQ, menurut mereka, adalah sesuatu yang bisa membuat manusia keluar dari batasan-batasan tersebut, karena "SQ allows human being to be creative, to change the rules and to alter situations."

Jantung dari SQ adalah "makna", karena manusia menurut mereka adalah: "driven, indeed we are defined, by a longing to find meaning and value in what we do and experience." Memang, di bagian awal buku, mereka mengutip definisi spiritual dari kamus Webster sebagai "the animating or vital principle; that which gives life to the physical organism in contrast to its material elements; the breath of life," namun dalam penjelasan selanjutnya konteks spiritual pada SQ menyimpang menjadi "proses pemaknaan" dan bukan pada konteks aslinya sebagai spirit atau ruh.
Karena penekanannya pada "proses pemaknaan" itu pulalah, maka spiritualitas dalam SQ tidak terkait dengan agama, terlebih mereka pun memandang agama konvensional sebagai "an externally imposed set of rules and beliefs…inherited from priests and prophets and holy books, or absorbed through the family and tradition." Mereka pun menyatakan bahwa "many humanists and atheist have very high SQ; many actively and vociferously religious people have very low SQ." Bahkan mereka pun menandaskan lebih jauh lagi bahwa "A person high in SQ might practise any religion, but without narrowness, exclusiveness, bigotry or prejudice. Equally, a person high in SQ could have very spiritual qualities without being religious at all."

Lebih jauh lagi, SQ menurut mereka adalah "soul's intelligence…with which we heal ourselves and with which we make ourselves whole." Karena SQ tidak bergantung pada budaya dan nilai-nilai yang telah ada di luar diri manusia, maka SQ pun "prior to all specific values and to any given culture. It is, therefore, prior to any form of religious expression that it maight take. SQ makes religion possible (perhaps even necessary), but SQ does not depend upon religion."

Dalam mengaitkan SQ dengan bukti-bukti ilmiah karena kata mereka "existing science is not equipped to study things that can't objectively be measured", maka Zohar dan Marshall pun menunjukkan beberapa penelitian yang dilakukan oleh para neurolog tentang beberapa aktivitas otak yang mereka klaim sebagai suatu bukti ilmiah akan SQ. Satu hal yang bisa dianggap merupakan jantung keberadaan SQ adalah ditemukannya bagian otak yang disebut God spot, yang merupakan "built-in spiritual centre…located among neural connections in the temporal lobes of brain." Namun ada satu hal yang mereka tandaskan pula bahwa "'God spot's does not prove the existence of God, but it does show that the brain has evolved to ask 'ultimate questions', to have and to use a sensitivity to wider meaning and value.

Mengenai adanya kaitan antara aktivitas otak dengan kecerdasan memang sudah menjadi sesuatu yang taken for granted, karena kecerdasan apa pun namanya seringkali akan mengambil aktivitas pada jaringan syaraf. Pembuktian ilmiah terhadap sesuatu yang spiritual, ritual keagamaan misalnya, sering pula terjadi pada umat Islam seperti mengaitkan shalat tahajjud dengan pencegahan penyakit kanker, dan sehatnya tubuh karena gerakan-gerakan shalat lainnya.
Filsafat Ilmu (2)

Filsafat Ilmu (2)


Para filusuf Islam menyebutkan beberapa sumber dan sekaligus alat pengetahuan, yaitu :  Alam tabi'at atau alam fisik  Alam Akal  Analogi ( Tamtsil)  Hati dan Ilham. 

1. Alam tabi'at atau alam fisik
Manusia sebagai wujud yang materi, maka selama di alam materi ini ia tidak akan lepas dari hubungannya dengan materi secara interaktif, dan hubungannya dengan materi menuntutnya untuk menggunakan alat yang sifatnya materi pula, yakni indra (al hiss), karena sesuatu yang materi tidak bisa dirubah menjadi yang tidak materi (inmateri). Contoh yang paling konkrit dari hubungan dengan materi dengan cara yang sifatnya materi pula adalah aktivitas keseharian manusia di dunia ini, sepert makan, minum, hubungan suami istri dan lain sebagianya.
Dengan demikian, alam tabi'at yang materi merupakan sumber pengetahuan yang "barangkali" paling awal dan indra merupakan alat untuk berpengetahuan yang sumbernya tabi'at. Tanpa indra manusia tidak dapat mengetahui alam tabi'at. Disebutkan bahwa, barang siapa tidak mempunyai satu indra maka ia tidak akan mengetahui sejumlah pengetahuan. Dalam filsafat Aristoteles klasik pengetahuan lewat indra termasuk dari enam pengetahuan yang aksioamatis (badihiyyat).
Meski indra berperan sangat signifikan dalam berpengetahuan, namun indra hanya sebagai syarat yang lazim bukan syarat yang cukup. Peranan indra hanya memotret realita materi yang sifatnya parsial saja, dan untuk meng-generalisasi-kannya dibutuhkan akal. Malah dalam kajian filsafat Islam yang paling akhir, pengetahuan yang diperoleh melalui indra sebenarnya bukanlah lewat indra. Mereka mengatakan bahwa obyek pengetahuan (al ma'lum) ada dua macam, yaitu, (1) obyek pengetahuan yang substansial dan (2) obyek pengetahuan yang aksidental. Yang diketahui secara substansial oleh manusia adalah obyek yang ada dalam benak, sedang realita di luar diketahui olehnya hanya bersifat aksidental. Menurut pandangan ini, indra hanya merespon saja dari realita luar ke relita dalam.
Pandangan Sensualisme (al-hissiyyin). Kaum sensualisme, khususnya John Locke, menganggap bahwa pengetahuan yang sah dan benar hanya lewat indra saja. Mereka mengatakan bahwa otak manusia ketika lahir dalam keadaan kosong dari segala bentuk pengetahuan, kemudian melalui indra realita-realita di luar tertanam dalam benak. Peranan akal hanya dua saja yaitu, menyusun dan memilah, dan meng-generalisasi. Jadi yang paling berperan adalah indra. Pengetahuan yang murni lewat akal tanpa indra tidak ada. Konskuensi dari pandangan ini adalah bahwa realita yang bukan materi atau yang tidak dapat bersentuhan dengan indra, maka tidak dapat diketahui, sehingga pada gilirannya mereka mengingkari hal-hal yang metafisik seperti Tuhan.  

2. Alam Akal
Kaum Rasionalis, selain alam tabi'at atau alam fisika, meyakini bahwa akal merupakan sumber pengetahuan yang kedua dan sekaligus juga sebagai alat pengetahuan. Mereka menganggap akal-lah yang sebenarnya menjadi alat pengetahuan sedangkan indra hanya pembantu saja. Indra hanya merekam atau memotret realita yanng berkaitan dengannya, namun yang menyimpan dan mengolah adalah akal. Karena kata mereka, indra saja tanpa akal tidak ada artinya. Tetapi tanpa indra pangetahuan akal hanya tidak sempurna, bukan tidak ada.
Aktivitas-aktiviras Akal Menarik kesimpulan. Yang dimaksud dengan menarik kesimpulan adalah mengambil sebuah hukum atas sebuah kasus tertentu dari hukum yang general. Aktivitas ini dalam istilah logika disebut silogisme kategoris demonstratif.  Mengetahui konsep-konsep yang general. Ada dua teori yang menjelaskan aktivitas akal ini, pertama, teori yang mengatakan bahwa akal terlebih dahulu menghilangkan ciri-ciri yang khas dari beberapa person dan membiarkan titik-titik kesamaan mereka. Teori ini disebut dengan teori tajrid dan intiza'. Kedua, teori yang mangatakan bahwa pengetahuan akal tentang konsep yang general melalui tiga tahapan, yaitu persentuhan indra dengan materi, perekaman benak, dan generalisasi.  Pengelompokan Wujud. Akal mempunyai kemampuan mengelompokkan segala yang ada di alam realita ke beberapa kelompok, misalnya realita-realita yang dikelompokkan ke dalam substansi, dan ke dalam aksdensi (yang sembilan macam).  Pemilahan dan Penguraian.  Penggabungan dan Penyusunan.  Kreativitas.

3. Analogi (Tamtsil)
Termasuk alat pengetahuan manusia adalah analogi yang dalam terminologi fiqih disebut qiyas. Analogi ialah menetapkan hukum (baca; predikat) atas sesuatu dengan hukum yang telah ada pada sesuatu yang lain karena adanya kesamaan antara dua sesuatu itu. Analogi tersusun dari beberapa unsur; (1) asal, yaitu kasus parsial yang telah diketahui hukumnya. (2) cabang, yaitu kasus parsial yang hendak diketahui hukumnya, (3) titik kesamaan antara asal dan cabang dan (4) hukum yang sudah ditetapkan atas asal. Analogi dibagi dua; Analogi interpretatif : Ketika sebuah kasus yang sudah jelas hukumnya, namun tidak diketahui illatnya atau sebab penetapannya.  Analogi Yang Dijelaskan illatnya : Kasus yang sudah jelas hukum dan illatnya. 
 
4. Hati dan Ilham
Kaum empiris yang memandang bahwa ada sama dengan materi sehingga sesuatu yang inmateri adalah tidak ada, maka pengetahuan tentang in materi tidak mungkin ada. Sebaliknya kaum Ilahi ( theosopi) yang meyakini bahwa ada lebih luas dari sekedar materi, mereka mayakini keberadaan hal-hal yang inmateri. Pengetahuan tentangnya tidak mungkin lewat indra tetapi lewat akal atau hati. Tentu yang dimaksud dengan pengetahuan lewat hati disini adalah penngetahuan tentang realita inmateri eksternal, kalau yang internal seperti rasa sakit, sedih, senang, lapar, haus dan hal-hal yang iintuitif lainnya diyakini keberadaannya oleh semua orang tanpa kecuali.
Bagaimana mengetahui lewat hati ? Filusuf Ilahi Mulla Shadra ra. berkata, "Sesungguhnya ruh manusia jika lepas dari badan dan berhijrah menuju Tuhannya untuk menyaksikan tanda-tanda-Nya yang sangat besar, dan juga ruh itu bersih dari kamaksiatan-kemaksiatan, syahwat dan ketarkaitan, maka akan tampak padanya cahaya makrifat dan keimanan kepada Allah dan malakut-Nya yang sangat tinggi. Cahaya itu jika menguat dan mensubstansi, maka ia menjadi substansi yang qudsi, yang dalam istilah hikmah teoritis oleh para ahli hikmat disebut dengan akal efektif dan dalam istilah syariat kenabian disebut ruh yang suci. Dengan cahaya akal yang kuat, maka terpancar di dalamnya yakni ruh manusia yang suci. Rahasia-rahasia yang ada di bumi dan di langit dan akan tampak darinya hakikat-hakikat segala sesuatu sebagimana tampak dengan cahaya sensual mata (alhissi) gambaran-gambaran konsepsi dalam kekuatan mata jika tidak terhalang tabir. Tabir di sini dalam pembahasan ini adalah pengaruh-pengaruh alam tabiat dan kesibukan-kesibukan dunia, karena hati dan ruh sesuai dengan bentuk ciptaannya- mempunyai kelayakan untuk menerima cahaya hikmah dan iman jika tidak dihinggapi kegelapan yang merusaknya seperti kekufuran, atau tabir yang menghalanginya seperti kemaksiatan dan yang berkaitan dengannya" Kemudian beliau melanjutkan, "jika jiwa berpaling dari ajakan-ajakan tabiat dan kegelapan-kegelapan hawa nafsu, dan menghadapkan dirinya kepada Alhaq dan alam malakut, maka jiwa itu akan berhubungan dengan kebahagiaan yang sangat tinggi dan akan tampak padanya rahasia alam malakut dan terpantul padanya kesucian (qudsi) Lahut ." (al-Asfar al-Arba'ah jilid 7 halaman 24-25).
Tentang kebenaran realita alam ruh dan hati ini, Ibnu Sina berkata, "Sesungguhnya para 'arifin mempunyai makam-makam dan derajat-derajat yang khusus untuk mereka. Mereka dalam kehidupan dunia di bawah yang lain. Seakan-akan mereka itu, padahal mereka berada dengan badan mereka, telah melepaskan dan meninggalkannya untuk alam qudsi. Mereka dapat menyaksikan hal-hal yang halus yang tidak dapat dibayangkan dan diterangkan dengan lisan. Kesenangan mereka dengan sesuatu yang tidak dapat dilihat mata dan didengar telinga. Orang yang tidak menyukainya akan mengingkarinya dan orang yang memahaminya akan membesarkannya." (al-Isyarat jilid 3 bagian kesembilan tentang makam-makam para 'arif halaman 363-364) Kemudia beliau melanjutkan, "Jika sampai kepadamu berita bahwa seorang 'arif berbicara lebih dulu tentang hal yang gaib (atau yang akan terjadi), dengan berita yang menyenangkan atau peringatan, maka percayailah. Dan sekali-sekali anda keberatan untuk mempercayainya, karena apa yang dia beritakan mempunyai sebab-sebab yang jelas dalam pandangan-pandangan (aliran-aliran) tabi'at." Pengetahuan tentang alam gaib yang dicapai manusia lewat hati jika berkenaan dengan pribadi seseorang saja disebut ilham atau isyraq, dan jika berkaitan dengan bimbingan umat manusia dan penyempurnaan jiwa mereka dengan syariat disebut wahyu. 
Islam dan Sumber-sumber Pengetahuan Dalam teks-teks Islam -Qur'an dan Sunnah- dijelaskan tentang sumber dan alat pengetahuan:
Indra dan akal.  Allah swt. berfirman, "Dan Allah yang telah mengeluarkan kalian dari perut ibu kalian, sementara kalian tidak mengetahui sesuatu pun, dan (lalu) Ia meciptakan untuk kalian pendengaran, penglihatan dan hati ( atau akal) agar kalian bersyukur ". (QS. al-Nahl: 78).  Islam tidak hanya menyebutkan pemberian Allah kepada manusia berupa indra, tetapi juga menganjurkan kita agar menggunakannya, misalnya dalam al-Qur'an Allah swt. berfirman, "Katakanlah, lihatlah segala yang ada di langit-langit dan di bumi." (QS. Yunus: 101 ).
Ayat-ayat yang lainnya yang banyak sekali tentang anjuran untuk bertafakkur. Qur'an juga dalam membuktikan keberadaan Allah dengan pendekatan alam materi dan pendakatan akal yang murni seperti, "Seandainya di langit dan di bumi ada banyak tuhan selain Allah, niscaya keduanya akan hancur." (QS. al-Anbiya': 22). Ayat ini menggunakan pendekatan rasional yang biasa disebut dalam logika Aristotelian dengan silogisme hipotesis. Atau ayat lain yang berbunyi, "Allah memberi perumpamaan, seorang yang yang diperebutkan oleh banyak tuan dengan seorang yang menyerahkan dirinya kepada seorang saja, apakah keduanya sama ?" (QS. al-Zumar: 29).
Hati.  Allah swt berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, niscaya Ia akan memberikan kepada kalian furqon." (QS. al-Anfal: 29) Maksud ayat ini adalah bahwa Allah swt. akan memberikan cahaya yang dengannya mereka dapat membedakan antara yang haq dengan yang batil. Atau ayat yang berbunyi, "Dan bertakwalah kepada Allah maka Ia akan mengajari kalian. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. al-Baqarah: 282). Dan ayat-ayat yang lainnya.
Syarat dan Penghalang Pengetahuan. Meskipun berpengetahuan tidak bisa dipisahkan dari manusia, namun seringkali ada hal-hal yang mestinya diketahui oleh manusia, ternyata tidak diketahui olehnya.  Oleh karena itu ada beberapa pra-syarat untuk memiliki pengetahuan, yaitu : Konsentrasi  Orang yang tidak mengkonsentasikan (memfokuskan) indra dan akal pikirannya pada benda-benda di luar, maka dia tidak akan mengetahui apa yang ada di sekitarnya. Akal yang sehat  Orang yang akalnya tidak sehat tidak dapat berpikir dengan baik. Akal yang tidak sehat ini mungkin karena penyakit, cacat bawaan atau pendidikan yang tidak benar. Indra yang sehat  Orang yang salah satu atau semua indranya cacat maka tidak mengetahui alam materi yang ada di sekitarnya. Jika syarat-syarat ini terpenuhi maka seseorang akan mendapatkan pengetahuan lewat indra dan akal. Kemudian pengetahuan daat dimiliki lewat hati. Pengetahuan ini akan diraih dengan syarat-syarat seperti, membersihkan hati dari kemaksiatan, memfokuskan hati kepada alam yang lebih tinggi, mengosongkan hati dari fanatisme dan mengikuti aturan-aturan sayr dan suluk. Seorang yang hatinya seperti itu akan terpantul di dalamnya cahaya Ilahi dan kesempurnaanNya. Ketika syarat-syarat itu tidak terpenuhi maka pengetahuan akan terhalang dari manusia. Secara spesifik ada beberapa sifat yang menjadi penghalang pengetahuan, seperti sombong, fanatisme, taqlid buta (tanpa dasar yang kuat), kepongahan karena ilmu, jiwa yang lemah (jiwa yang mudah dipengaruhi pribadi-pribadi besar) dan mencintai materi secara berlebihan.